
"Ada yang bisa ku bantu?"
Salah seorang mahasiswa baru dengan tanda pengenal fakultas hukum, datang mendekati Ella untuk membantunya. Ella yang sempat terpesona karena ketampanannya, langsung berusaha kembali ke dunia nyata.
"A-anu, sepeda motorku rusak," kata Ella.
"Boleh aku cek?" kata cowok itu.
"Eh, boleh deh. Kalau kamu nggak keberatan," balas Ella.
Cowok itu lalu memeriksa sepeda motor Ella. "Busynya basah, nih. Kabel starternya juga lepas," ucapnya beberapa saat kemudian.
"Eh? Kok bisa? Padahal tadi pagi baik-baik aja. Nggak ada hujan juga?" gumam Ella.
"Hmmm ... Iya juga, sih. Aneh juga," ucap cowok itu.
"Jadi gimana, dong? Teman-temanku sudah pada pulang, lagi," Ella mulai panik. Kampus terlihat mulai sepi.
"Di dekat fakultas teknik ada bengkel. Gimana kalau kita bawa ke sana?" ajak mahasiswa hukum tersebut.
"Tapi Fakultas Teknik kan jauh? Harus melalui Fakultas MIPA dari sini," kata Ella. Dia bingung bagaimana cara membawa sepeda motornya yang lagi ngambek.
"Gak apa. Aku bantu dorong."
"Beneran? Jauh, lho. Kamu pasti kecapekan nanti," kata Ella.
__ADS_1
"Ella, yuk pulang." Suara pria yang sangat dikenalinya, membuat Ella menoleh ke belakang.
"Kenapa Ayah ke sini?" Ella berbisik pada Albert.
"Jemput kamu," jawab Albert singkat.
"Ya tapi kenapa? Aku 'kan bukan anak SMA lagi," protes Ella.
Cowok tampan mahasiswa hukum tetsebut memandang Ella dan Albert secara bergantian. Dia bingung harus melakukan apa.
"Sepeda motor kamu rusak, kan?" Albert membalas pertanyaan Ella tadi, sambil menunjuk ke arah sepeda motor bebek yang mogok tersebut.
"Oh, jadi ini ulah Ayah? Sengaja, ya?" bisik Ella sambil mendelik tajam. Hatinya merasa sangat kesal.
"Maaf?" sela cowok berambut hitam dan bertubuh tinggi tersebut.
"Aku Bodyguardnya Ella," jawab Albert dengan cepat.
"Huh, kamu bilang apa?" Ella keceplosan memanggil Albert dengan sebutan "kamu", karena terlalu terkejut.
"O-oh, gitu? Syukur, deh. Berarti kamu udah aman sekarang," sahut cowok itu pada Ella.
"Benar. Sekarang dia sudah aman. Ella akan pulang bersamaku. Jadi kamu juga bisa segera pulang." Albert mengusir mahasiswa hukum itu dengan halus.
"Be-begitu, ya? Ba-baiklah. Aku akan segera pulang. Aku duluan, ya," kata cowok itu, lalu berjalan ke arah sepeda motornya.
__ADS_1
"Ugh ... Sebal!"
Ella menghentakkan kakinya ke tanah dan meninggalkan Albert bersama sepeda motornya. Siapa pun yang berada di sana pasti berpikir, kalau Albert bukanlah ayah tirinya. Apalagi pakaian yang dikenakannya sekarang, membuatnya terlihat sebaya dengan para mahasiswa.
"Jadi, kenapa Ayah datang ke kampusku? Sampai merusakkan sepeda motorku segala?" Ella masih sangat kesal pada Albert. Akibat ulah pria itu, Ella jadi tontonan para mahasiswa lainnya.
"Kamu masih berpikir, kalau ayah yang ngerusakinnya?" ujar Albert menghela napas panjang.
"Ya terus kenapa ayah bisa datang tepat waktu ke sini?" tanya Ella.
"Coba lihat deh HP kamu, dari tadi ayah telepon nggak diangkat-angkat. Kata Ghina kamu telat dari waktu janjian. Ayah kan khawatir karena ini pertama kalinya kamu kuliah," jawab Albert.
"Terus?" tanya Ella dengan jutek dan bibir manyun.
"Di dekat gerbang ketemu sama Naya dan Maira, jadi Ayah langsung ke sini," jelas Albert.
"Aku bukan anak TK lagi. Anak SD saja sudah bisa pulanh pergi sekolah sendirian," ucap Ella.
"Ini berbeda dengan anak TK. Ayah harus memperhatikan keselamatanmu di kampus. Lihatlah, baru sehari saja sudah ada cowok yang mengganggumu," kata Albert.
"Dia menolongku. Bukan menggangguku. Dia bukan orang jahat," kata Ella membela cowok tadi.
"Namanya siapa? Kamu kenal dia?" tanya Albert.
"Na-namanya? Siapa, ya?" Lidah Ella keseleo. Di tidak tahu nama cowok yang hendak membantunya tadi.
__ADS_1
(Bersambung)