
Sudah beberapa hari, sejak kejadian Ella diganggu oleh preman. Albert meminta tolong pada polisi dan pihak kampus, untuk mengusut tuntas kasusnya. Satu per satu komplotan preman yang meresahkan itu pun, akhirnya ditangkap.
"Gimana kabar Ethan?" tanya Albert, ketika Ella mengunjungi rumahnya.
"Dia udah sembuh, kok. Udah mulai kuliah," kata Ella. "Makasih udah datang menolong kami waktu itu," kata Ella.
"Syukurlah. Harusnya kamu berterima kasih sama Ethan. Dia yang menelepon Ayah. Dia juga yang babak belur karena menolongmu," ucap Albert.
"Aku pikir Ayah bakal marah, aku pacaran dengannya," Kata Ella.
"Kenapa Ayah harus marah?" tanya Albert.
"Ya dulu kan Ayah nggak suka melihat aku ketemuan dengannya," kata Ella.
"Dulu kan Ayah hanya ingin melihatnya dulu, seperti apa orangnya. Tapi setelah beberapa kali bertemu, terutama di warung bakso, ayah bisa melihat kalau dia cowok yang baik. Ayah senang kamu bertemu pria seperti itu," kata Albert dengan tulus.
"Makasih," kata Ella. "Sikap Ayah sekarang udah kayak bapak-bapak banget, ya," kata Ella.
"Lah, kan emang udah bapak-bapak," sahut Albert sambil tertawa.
"Tapi umur Ayah sekarang baru dua puluh tujuh tahun. Terlalu muda untuk jadi seorang Ayah. Bahkan dosen-dosenku jauh lebih tua," kata Ella.
"Sebenarnya kamu memuji Ayah, atau menyindir Ayah, sih?" gumam Albert, seraya melirik ke arah Ella.
"Aku beneran memuji, kok," kata Ella.
"Hahaha, makasih deh. Oh iya, mungkin Ethan nggak cerita ke kamu, kalau di tempat bakso kemarin meminta izin untuk berpacaran denganmu," kata Albert.
"Hah? Beneran?" kata Ella. "Jadi Ayah udah tahu kami berpacaran, sebelum dia cerita di rumah sakit itu?" kata Ella. Albert mengangguk.
"Ahhh, aku malu banget." Ella menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Dia nggak menyangka, kalau Ethan berani meminta izin pada Ayah tirinya tersebut.
"Kenapa malu? Menurut Ayah seorang pria sejati memang harus seperti itu," kata Albert.
"Iya, sih," gumam Ella. Sejujurnya di dalam hati, dia sangat suka dengan sikap Ethan tersebut. Tetapi Ella malu mengakuinya. "Aku juga malu kalau teringat masa lalu. Aku pernah menyukai Ayah sebelum menikah dengan Mama," sambung gadis itu lagi.
"Kamu nggak salah, kok. Menyukai seseorang kan bukan suatu dosa besar. Dulu kamu menyukaiku, sebelum kita memiliki hubungan apa-apa, kan?" kata Albert. Ella menganggukkan kepala.
"Yang penting sekarang kita udah menerima keadaan masing-masing. Aku Ayahmu dan kamu adalah putriku," ucap Albert.
"Benar, aku juga senang melihat Mama bisa tersenyum seperti dulu," kata Ella.
"Nah, jadi nggak ada masalah lagi, kan?" kata Albert.
"Haaah, aku nggak menyangka, kalau kita bakalan bisa bicara seperti ini. Bahkan ngomongin tentang pacarku," kata Ella.
__ADS_1
Albert tersenyum mendengarnya. "Kita kan sekarang udah jadi keluarga. Sebenarnya ada yang mau ayah omongin ke kamu," kata Albert.
"Oh ya? Apa tuh? kayaknya hal serius," kata Ella.
"Ayah sama Mamamu akan pergi ke Perancis bulan depan" kata Albert.
"Wow, Perancis?" seru Ella.
Albert mengangguk. "Kami ingin mengunjungi Lilibeth untuk membahas bisnis. Lalu, kami juga ingin mengadopsi seorang anak," kata Albert. Ella hanya memandang Albert, tanpa memberikan tanggapan.
"Kenapa ekspresimu begitu? Apa kamu nggak setuju, kami mengadopsi anak?" tanya Albert.
"Aku sebenarnya mendukung, semua keputusan Mama dan juga Ayah. Tapi kenapa harus adopsi? Aku pikir Ayah ingin punya anak kandung?" tanya Ella.
"Usia mama kamu sudah sulit kalau mau memiliki anak lagi," jelas Albert. "Tapi kami kesepian di rumah, karena kamu udah kuliah. Jadi kami memilih adopsi. Kamu mau kan punya adik lagi?" Tanya Albert.
"Apa pun keputusan terbaik Mama dan Ayah, aku pasti dukung," kata Ella dengan tulus.
"Terima kasih, Ella. Kamu benar-benar udah dewasa sekarang. Pola pikir kamu udah jauh berbeda dibandingkan dulu," kata Albert.
Duh, Ella jadi malu mendengarnya. Dulu dia berusaha segala macam cara, agar dipandang dewasa oleh Albert. Ternyata sekarang tanpa melakukan apa pun, Albert yang kini menjadi Ayah tirinya malah memujinya sebagai wanita dewasa.
"Lalu selama Ayah di Perancis, kamu bisa menemani nenekmu, kan?" tanya Albert.
"Tentu aja bisa," jawab Ella. Dia memang dekat dengan ibunda dari Albert tersebut.
Tiga minggu kemudian, Albert dan Ghina pun akhirnya berangkat ke Perancis, tepatnya di Kota Keysersberg.
Sesampainya di kota Keysersberg, mereka mencari alamat rumah Lili sambil menikmati pemandangan kota. Kedua pasangan suami istri tersebut berjalan menyisiri kota tua yang indah tersebut. Perjalanan bisnis tersebut, terasa seperti bulan madu pertama bagi Ghina dan Albert.
"Aku senang banget, bisa pergi berdua denganmu," kata Ghina.
"Maaf, sayang. Harusnya aku mengajakmu liburan sejak dulu," kata Albert.
"Hmm? Aku nggak masalah, kok. Dulu kita kan fokus merawat Mama dan mengurus Ella yang masih labil," kata Ghina.
"Rasanya aku berkali-kali mengucapkan syukur, karena kamu mau menjadi istriku," kata Albert menggenggam erat tangan Ghina.
"Nggak kebalik? Harusnya aku yang bersyukur, dong. Kamu mau menerima janda beranak satu kayak aku," ucap Ghina.
"Kalau jandanya cantik dan baik hati kayak kamu, aku sih mau banget," kata Albert.
"Dasar gombal," ujar Ghina. "Eh, ini alamatnya Lili bukan?" celetuk Ghina. Mereka berhenti di sebuah cafe yang telah berusia puluhan tahun.
"Bienvenue. Que souhaitez-vous avoir?" Seorang pelayan menyambut kedatangan mereka menggunakan bahasa Perancis.
__ADS_1
"Dia bilang apa?" bisik Ghina tidak mengerti.
"Dia menyambut kita. Dia lalu bertanya pada kita, ingin memesan apa," bisik Albert.
"Quel est le meilleur menu ici? Nous voulons aussi rencontrer Lilibeth." Albert membalas kalimat pelayan tersebut.
"Hai, kalian datang mencariku?" Seorang wanita cantik turun dari lantai dua.
"Apa kabar Lili?" ucap Ghina sambil tersenyum.
"Kabarku baik," kata Lili. Dia lalu menyuruh pelayan menyiapkan hidangan terbaik untuk kedua tamunya.
"Jadi ini kafe milik papa kamu?" tanya Albert.
"Ya, dulu sempat bangkrut waktu Papa dan suamiku meninggal. Tapi aku coba membukanya lagi," kata Lili.
"Kamu tahu, nggak? Aku sedih banget kamu tiba-tiba pergi tanpa memberi tahu," ujar Ghina.
"Maaf, waktu itu izin tinggalku di Indonesia sudah habis," kata Lili. "Tapi aku udah membaca pesan dari kalian. Beneran mau menjalin kerja sama dengan kafe aku?" tanya Lili.
Ghina dan Albert mengangguk. Mereka pun membicarakan masalah bisnis bersama Lili, sembari makan siang.
"Aku senang banget bisa menjalani bisnis bersama kalian," kata Lili senang. "Tapi aku penasaran sama satu hal," Lili tampak ragu-ragu untuk bertanya.
"Maksudnya soal adopsi?" ucap Ghina. Lili menganggukkan kepala.
"Jadi kami memutuskan untuk mengadopsi anak. Kamu pasti heran, kenapa jauh-jauh ke Perancis untuk adopsi anak?" ujar Albert.
"Ya, aku memang penasaran soal itu. Tapi aku takut salah ngomong," kata Lili.
"Sebenarnya anak yang ingin kami adopsi, adalah anak dari kerabatku. Namanya Noel, usianya masih lima tahun. Dulu dia tinggal di Perancis. Sejak orang tuanya meninggal, dia nggak punya siapa-siapa lagi dan tinggal di panti asuhan," jelas Albert.
"Kami ingin memiliki anak, dan dia membutuhkan orang tua. Makanya kami pun memutuskan untuk mengadopsinya," kata Ghina.
"Aww, kalian berdua baik banget, sih," kata Lili.
"Je suis à la maison, Mom." Tiba-tiba seorang bocah lelaki, berusia sekitar tujuh tahun datang menemui Lili. Ghina tercengang melihat bocah tampan itu.
"Dia putraku, kalian masih ingat, kan?" kata Lili.
"Bonjour, kid," kata Albert.
"Bonjour, uncle," balas bocah itu seraya menundukkan tubuhnya.
"Untung aku udah dengar cerita dari kalian. Kalau nggak aku pasti bakalan terkejut. Dia agak mirip denganmu, Al," kata Ghina.
__ADS_1
"Maksudnya kami berdusa sama-sama ganteng, kan?" kata Albert sambil tertawa.
(Bersambung)