
"Aku nggak punya teman cowok kok, Ma," ucap Ella, terus meyakinkan sang ibunda, agar diizinkan tinggal sendiri.
"Ehem! Perasaan kemarin katanya banyak, deh," celetuk Albert sambil menyeringai tipis. "Jadi sebenarnya kamu nggak punya temen cowok?" ledeknya.
"Hmm? Siapa aja teman cowok kamu? Biasanya kalau ngumpul di mana?" Ghina mendelik tajam pada putrinya. Dia hampir saja membatalkan keputusannya barusan.
"Itu kan teman sekelas, Ma. Masa aku nggak boleh temenan sama anak-anak di kelas?" kilah Ella.
"Terus Daniel itu siapa?" sindir Albert.
"Loh, dia kan teman sekolahku juga," seru Ella dengan kesal.
"Huh, ya udah deh. Kamu boleh tinggal di sini. Tapi ingat, jangan bawa temen cowok ke rumah, jangan pulang lebih dari jam enam sore, selalu angkat telepon dari mama," ucap Ghina.
"Iya, Ma. Aku janji," kata Ella.
"Kalau ada apa-apa harus cepat hubungi mama. Nanti untuk belanja bulanan mama yang beliin. Uang jajan dan uang sekolah mama transfer," tambah Ghina.
"Iya, Ma."
"Lalu ..." Ghina terua memberikan segudang petuah pada Ella, sebelum benar-benar pindah dari rumah itu.
*
__ADS_1
Keesokan harinya di pagi hari. Ella sudah bersiap berangkat ke sekolah. Dia mengenakan sepatunya lalu membuka pintu .
"Astaga! Ngapain di sini?" Ella terkejut melihat seorang pria sengan setelan jas rapi berdiri di depan rumahnya. Pria yang tersenyum manis itu menenteng sesuatu di dalam tas kain.
"Ini, sarapan untuk kamu. Nasi kuning dan sate telur puyuh. Sekalian aku mau antar kamu ke sekolah," Albert menyerahkan tas bergambar karakter Berusang Disney itu pada Ella.
"Ya ampun, udah kayak delivery order aja. Tapi aku udah bikin sarapan. Aku juga udah biasa berangkat sendiri, kok," sahut gadis itu. Subuh tadi, Ella memasak nasi goreng dan telur terong balado untuk sarapannya. Meski demikian dia tetap mengambil tas kain tersebut.
"Nggak apa. Bawa aja untuk bekal sekolah kamu. Aku udah sengaja ngantri di warung nasi yang terkenal itu pagi-pagi loh untuk beliin ini," ujar Albert.
"Loh, ini beli? Aku pikir Mama yang masak?" Ella kembali memperhatikan kotak bekal dalam bungkusan plastik itu. Jika dilihat lebih seksama, nasi kuning dan sate telur puyuh itu memang dibungkus dengan daun pisang dan kertas nasi.
"Iya, aku yang beli. Boleh-boleh aja, kan?" ujar Albert.
"Huh?" Wajah Albert langsung berubah mendengar kalinat itu.
"Kenapa?" tanya Ella yang merasa aneh. "Astaga! Tunggu sebentar! Apa Mama tahu kamu ke sini untuk mengantar bekal?" Ella menutup mulutnya yang membentuk huruf 'O' dengan telapak tangan, lalu mundur beberapa langkah dari tempatnya berdiri.
"Apa semua hal yang kulakukan Ghina harus tahu?" ujar Albert sambil menyeringai tipis. "Yang aku lakuin 'kan bukan hal buruk," imbuh pria muda itu.
"Ya, harus dong. Kamu 'kan suami Mama," jawab Ella dengan tegas.
"Walaupun untuk anakku sendiri?" tanya Albert.
__ADS_1
"Apa benar kamu ke sini karena menganggapku anak? Berarti nggak apa-apa dong, kalau aku ceritain ke Mama soal kamu yang datang ke sini buat anterin sarapan?" pancing Ella.
Deg! Pertanyaan Ella membuat Albert membeku. Datang ke sini diam-diam, lalu membelikannya sarapan dan hendak mengantarkannya ke sekolah. Kenapa malah jadi mencurigakan, ya? Sejak kapan dia perhatian sejauh ini sama Ella?
"Udahlah, ini bawa aja lagi. Aku pergi dulu. Bisa telat kalau berdebat terus di sini," ujar Ella seraya mengembalikan tas kain tersebut pada Albert, lalu mengunci pintu rumah.
"Tunggu! Ini dibawa aja. Kamu bisa memakannya nanti di sekolah." Albert memaksa Ella untuk membawa nasi bekal tersebut. Ella pun menerimanya tanpa banyak membantah seperti tadi. Dia ingin segera pergi ke sekolah.
"Tapi dimakan loh, ya. Jangan dikasih ke teman kamu lagi," tegas pria itu.
"Iya baweell..." kata Ella sambil mengayunkan kakinya. Namun baru dua langkah, dia menghentikan gerakannya. "Eh, ma-maaf. Ma-maksudku, terima kasih. Nanti akan ku makan," ujar Ella memperbaiki kalimatnya.
Ella malu karena bicara seenaknya. Remaja cantik itu lupa kalau cowok di depannya sudah berganti status menjadi ayahnya.
Albert hanya tersenyum melihat sikap Ella. "Kalau gitu ayo," ujarnya.
"Ke mana?"
"Kamu mau pergi sekolah, kan? Ayo Ayah antar," ajak Albert sembari menarik lengan Ella yang mungil dan lembut.
Deg! "Kenapa dia kayak gini? Ku pikir dia akan berhenti melakukan hal bodoh yang bisa bikin jantungku meledak. Ternyata malah semakin menjadi-jadi," batin Ella.
(Bersambung)
__ADS_1