Me Vs Berondong Mommy

Me Vs Berondong Mommy
Bab 92. Misteri di Balik Foto


__ADS_3

“Ssssttt ...! Kalian tahu nggak maksud Ella tadi pagi? Papanya? Papanya kan sudah meninggal. Lalu ayahnya? Siapa yang dia maksud?” bisik Imelda pada Naya dan Maira, ketika praktek Kimia.


“Kecilkan suaramu. Nanti yang ain bisa dengar,” ucap Maria dengan sangat lirih. Imelda menutup mulutnya dengan kedua tangan dan menganggukkan kepala.


“Iya, kami tahu maksudnya. Tapi kayaknya lebih baik dia sendiri deh yang ceritain,” timpal Naya sambil melakukan tritasi pada larutannya.


“Hm?” Imelda manggut-manggut sambil melirik ke arah Ella, yang berbeda kelompok pada mereka.


“Yak, laurtannya setimbang. Maira, Melda, cepat catat angkanya,” seru Naya sambil membesarkan matanya melihat deretan angka yang tertera pada pipa buret mereka. Jumlah Warna analit yang berubah merupakan efek dari penambahan indikator asam basa, menandakan bahwa titrasi telah mencapai titik ekivalennya.


“Hah, aku jadi makin penasaran. Kenapa Albert memiliki foto mama saat muda? Padahal foto itu cuma ada satu dan pernah hilang,” gumam Ella sambil Memasukkan larutan KCl ke dalam labu Erlenmeyer.


Sejak tadi malam, wanita itu terus kepikiran soal foto hitam putih milik Ghina, yang dia temukan di dalam laci lemari cokelat milik Albert. Tampaknya lembaran foto itu sengaja disembunyikan. Karena letaknya yang sangat tersembunyi dan sedikit berdebu.


“Apa jangan-jangan mama sudah menemukan foto itu, dan memberikannya pada Albert? Tapi untuk apa?” pikir Ella lagi.Keningnya membuat beberapa kerutan cukup dalam, hingga kedua alisnya bertaut.


Foto hitam putih milik Ghina itu penuh dengan sejarah. Wanita di dalam potret itu masih berumur empat belas tahun. Itu adalah saat-saat yang sangat membahagiakan bagi Ghina, karena dirinya sedang kasmaran dengan Avel Erlangga. Kabarnya, itu adalah foto terakhir Ghina sebelum dia menikah. Itulah sebabnya, beberapa tahun yang lalu ketika kehilangan foto itu, Ghina membongkar semua sudut rumahnya untuk mencari selembar kertas tersebut.


“Aaaah, aku penasaran banget kenapa foto itu ada sama dia. Apa mama tahu kalau dia yang menyimpannya?” pikir Ella lagi.


“La, kamu ngapain? Itu warnanya udah berubah dari tadi,” seru Anggit.


“Warna apa?” tanya Ella.


“Itu, larutan di tanganmu,” tunjuk Anggit.


Ella melayangkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Anggit. “Ah, ya ampun. Aku lupa!” seru Ella terkejut melihat larutan berwarna ungu gelap di dalam tabung Erlenmeyer miliknya. “Ini uah berubah sejak kapan? Aku nggak sempat mencatatnya,” kata Ella buru-buru menutup pipa buret yang meneteskan larutan asam lemah.


“Udah dari tadi. Aku pun nggak sempat mencatatnya, karena kamu melamun sambil melakukan titrasi,” kata Anggit dengan wajah sedikit kesal.


“Maafkan aku. Biar aku ulangi lagi prosesnya,” kata Ella meminta maaf.


“Anak-anak. Meskipun ini di laboratorium, kalian tetap tidak boleh ribut,” tegur Bu Guru yang mengawasi kelas praktek tersebut.


“Kau mau ulangi pakai apa? Kita udah hampi kehabisan waktu, dan larutannya sudah habis. Nggak sempat lagi bikin larutan baru,” bisik Anggit di telinga Ella.

__ADS_1


“Habislah kita. Nilai praktek ini kan penting banget,” kata Ella menyesal.


“Makanya, aku udah siapin laporan cadangan. Ini datanya ku ambil dari kelompok lain, cuma angkanya sedikit diubah,” bisik Anggit lagi.


“Daebak! Kau jenius, Anggit!” Ella berseru sambil mengacungkan kedua jempolnya. Wajahnya yang tadi mendung, berubah menjadi cerah seketika.


“Ehem! Tadi barusan Ibu bilang apa?” tegur Bu Guru lagi.


*


“Oh, jadi Albert itu ayah tirimu. Maaf aku udah tanyain hal yang sangat pribadi,” ujar Imelda ketika jam istirahat.


“Nggak apa-apa. Aku emang berencana mau kasih tahu kalian juga, kok,” sahut Ella.


“Tapi, emang siapa sih yang bakal menyangka, kalau cowok itu ternyata ayahmu? Dia terlihat sangat muda,” ujar Imelda lagi.


“Bukan terlihat muda, tetapi dia memang masih muda. Usianya cuma selisih delapan tahun sama aku,” jelas Ella sambil mengunyah bekalnya.


“Delapan tahun? Jadi karena itu kalian sering berantem? Terus mamamu gimana lihat kalian berantem?” tanya Naya yang menahan rasa pedas dari baksonya.


“Mamaku kayaknya udah biasa, deh. Dia sekarang cuek aja kalau lihat kami berantem,” jawab Ella sambil tertawa. “Tapi meskipun usianya masih sangat muda, tapi sikapnya dewasa, kok. Cock banget sama mamaku,” ujar Ella.


“Terus rumah peninggalan papamu gimana? Apa kamu bakalan tinggal selamanya di rumah ayahmu itu?” tanya Naya.


“Nggak, deh. Aku nggak betah tinggal di sana. Tempatnya sepi banget dan jauh dari sekolah,” kata Ella. “Rencananya rumah lama kami mau di renovasi, jadi aku bisa tinggal di situ lagi,” ujarnya.


*


“Sayang, pulang nanti kita singgah ke mall dulu, yuk,” ajak Albert pada sang istri.


“Ke Mall? Ngapain?” tanya Ghina.


“Beli baju untuk Ella. Kemarin aku lihat bajunya banyak yang rusak karena kena hujan dan lumpur,” ujar Albert.


“Oh, boleh. Aku juga udah berencana beliin baju untuk dia,” jawab Ghina dengan semangat.

__ADS_1


“Sekalian beli baju dinas untuk kamu,” kata Albert melirik penuh arti.


“Baju dinas? Maksudnya?” Ghina mengerucutkan bibirnya ke depan.


“Kamu nggak tahu, atau pura-pura nggak tahu, sih? Baju dinas untuk mantap-mantap di ranjang,” ujar Albert.


“Maksudmu baju kurang bahan yang kainnya lebih mirip jarring ikan itu? Idih, nggak mau. Aku nggak bakalan pakai baju kayak gitu,” tolak Ghina. “Mendingan beliin aku makanan dari pada baju jarring ikan gitu,” sambungnya.


“Kenapa nggak mau? Kan bagus kalau pakai itu. Menurut penelitian, bisa meningkatkan kualitas bermantap-mantap sampai sepuluh kali lipat, lho,” ucap Albert memaksakan kehendaknya.


Cekiit! Ghina mencubit pinggang Albert hingga terasa pedih. “A-aduh, kamu ngapain, sih?” Albert mengeluh kesakitan.


“Jangan kegenitan kayak ABG. Kita ini udah tua,” ujar Ghina sambil membesarkan matanya.


Malam harinya, Ella pulang ke rumah tepat saat jam makan malam. Langkahnya gontai karena energinya telah terkuras habis seharian. Meskipun warnet hari ini cukup sepi, tetapi tugas-tugas yang diberikan dari sekolah tetap menyita banyak waktunya.


“Ma, aku pulang,” ucap Ella sambil membuka sepatunya.


“Oh? Kamu pulang pakai apa? Padahal ayahmu tadi menunggumu pulang sambil lembur di kantor. Memangnya kamu nggak cek pesan darinya?” ujar Ghina.


“Aku pulang naik ojek, Ma. Nggak sempat lihat HP,” jawab Ella lagi.


“Ya udah, cepat mandi, terus kita makan malam,” ucap Ghina mengusap kepala putrinya dengan lembut.


“Lalu ayah?” tanya Ella.


“Nanti biar Mama aja yang mengabarinya,” ujar Ghina.


Ella pun segera ke kamar untuk membersihkan dirinya. “Ma, ini apa?” teriak ella dari dalamkamar.


Ghina tersenyum mendengar teriakan putrinya. “Apa maksudmu?” seru Ghina pura-pura tidak tahu.


“Ini baju-baju siapa yang berserakan di tempat tidur?” tanya Ella lagi.


“Oh, itu baju untukmu,” jawab Ghina.

__ADS_1


“Banyak banget?” gumam Ella seraya memperhatikan satu per satu lembaran kain yang masih bau toko itu. “Ah, gila! Harganya lima ratus ribu selembar? Mahal banget? Emangnya ini sutra?” Ella terlonjak kaget melihat sebuah tag harga yang lupa dibuang oleh Ghina.


(Bersambung)


__ADS_2