Me Vs Berondong Mommy

Me Vs Berondong Mommy
Bab 74. Julid


__ADS_3

"Ada apa, La? Kelihatannya gelisah banget?" tanya Maira, yang dari tadi melibat Ella gelisah. Teman sebangkunya itu beberapa kali berdiri dan menoleh ke arah jendela.


"Mamaku belum datang. Padahal rapatnya sudah mau mulai," sahut Ella. Dia menengadahkan kepalanya dan menyipitkan mata untuk memusatkan pandangan. Di antara para wali murid yang berbondong-bondong menuju ke aula sekolah, Maria tidak melihat sosok ibunya.


"Mungkin lagi di jalan . Udah kamu hubungin?" ujar Maira.


"Udah, tapi nggak diangkat. Biasanya Mama nggak pernah terlambat kalau ada acara penting gini." Ella benar-benar gelisah. Jemarinya yang mungil, menekan keyboard di layar HP. "Mama jadi datang, kan? Rapatnya sudah mau mulai," tulisnya, lalu menekan tombol send.


Pandangan Ella beralih ke bagian atas layar HP-nya. Jam digital tersebut sudah menunjukkan pukul 09.25. Lima menit lagi rapat wali murid kelas tiga pun di mulai. "Kenapa Mama nggak juga muncul? Apa Albert yang mewakilinya? Duh, jangan sampai deh." Ella masih belum siap jika teman-temannya mengetahui, kalau Albert adalah ayah tirinya.


Tanpa sengaja Ella menggigit lidahnya. Jantungnya berdetak cepat. Sebuah mobil mewah pun memasuki halaman parkir sekolah. "Itu mobil Al," batin Ella lemah sambil kembali duduk di kursinya. Dia sudah pasrah jika para guru dan teman-temannya mengetahui rahasia terbesarnya.



"Hei, itu mamanya Ella, kan? Cantik banget," ucap beberapa siswa di depan kelas.


"Iya, kelihatan muda banget. Cantik dan modis," sahut teman lainnya.


"Pantesan aja anaknya bening, rupanya mamanya juga cantik banget kayak artis Korea," komentar teman-teman Ella.


Ella yang mendengar hal itu mengerurkan keningnya sambil berdiri. Ella terperangah ketika melihat seorang wanita yang mengenakan coat berwarna abu-abu, kaca mata hitam, dan rambut cokelat tergerai. Penampilan Ghina tersebut berubah seratus delapan puluh derajat dari biasanya.


"Ah, syukurlah. Ternyata mama yang datang, di antar oleh Andreas," gumam Ella kemudian. Andreas adalah salah satu supir di kantor Albert.


"Tapi bukannya Ella itu anak pembantu rumah tangga, ya? Kok jadi kaya raya gitu?" bisik beberapa teman yang julid.


"Simpenan Om-om kali? Lihat aja Ella selama ini juga gayanya pas-pasan. Dengar-dengar dia juga kebingungan waktu beasiswanya diputus? Kok tiba-tiba mamanya malah tampil cetar gitu?"


"Mungkin mamanya dulu hamidun karena kecelakaan, guys? Masa si Ella udah SMA, mamanya masih muda banget?" nyinyir mereka sambil berbisik.


Ella menunduk sedih mendengar obrolan itu. Kedua tangannya menggenggam ujung rok sekolahnya dengan erat. Inilah salah satu alasan dia menolak pernikahan Albert dengan mamanya. Meski pun mereka mengobrol dengan cara berbisik, telinga Ella tetap bisa menangkap kalimat yang mereka lontarkan dengan sangat baik.

__ADS_1


"Kenapa Ella?" tanya Maira. Sepertinya teman sebangku Ella itu tidak mendengar dan menyadarinya, karena sedari tadi dia sibuk menghapal pelajaran untuk ulangan jam terakhir.


"Nggak ada apa-apa, kok," bisik Ella yang menahan air matanya agar tidak tumpah.


"Anak-anak, kembali ke kursi masing-masing. Kita belajar seperti biasa," seru Bu Guru.


"Yah, kan ada rapat, Bu," seru anak-anak. Kelas pun semakin riuh.


"Yang rapat orang tua kalian. Sedangkan kalian tetap belajar seperti biasa," tegas Bu Guru, di sambut luapan rasa kecewa dari para siswa. "Ayo buka buku paketnya halaman seratus delapan. Kita bahas bersama soal-soal di sana," perintahnya.


...🥀🥀🥀...


"Ella, lihat tuh." Naya dan Maira menunjuk ke arah mobil mewah yang terparkir di bawah pohon depan sekolah. "Itu mobil mama kamu tadi, kan?" ujar Maira.


"Oh, iya. Aku duluan ya gaes."


"Oke, sampai jumpa besok," ujar Naya dan Maira sambil melambaikan tangan.


"Lho, mama kok masih di sini? Rapatnya kan udah selesai dua jam yang lalu?" tanya Ella.


"Mama sengaja nungguin kamu pulang, sayang. Ayo masuk," ajak Ghina.


Hati dan pikiran Ella berkecamuk. Ucapan dari kedua teman sekelas Ella yang julid itu masih terngiang-ngiang di telinganya. Gadis itu sangat ingin meluapkan perasaan emosi itu di depan Ghina, tetapi dia tahan sekuat tenaga. Karena gimana pun juga mamanya tidak berbuat salah.


"Ada apa? Kok cemberut?" tanya Ghina.


"Nggak ada apa-apa, kok," jawab Ella memaksa senyum di wajahnya.


"Terus? Kenapa nggak masuk? Masih ada yang kamu tunggu?" tanya Ghina lagi.


"Sebentar, Ma," ujar Ella. Jemarinya berselancar di layar HP, mengetik sebuah pesan. "Daniel, aku hari ini izin nggak ke warnet. Aku harus pulang sama mama," tulis Ella.

__ADS_1


"👌😎" Daniel membalas pesan Ella secara singkat dengan emotikon.


...🥀🥀🥀...


Selama di mobil Ella hanya bungkam dan mematung di kursinya. Matanya memandang ke luar jendela dengan tatapan kosong. Remaja itu bahkan tidak ingin bertanya tentang hasil rapat wali murid tadi.


Bukan cuma itu, masih ada banyak pertanyaan lain yang berputar di kepala Ella. Kenapa Mama nggak menggunakan mobil yang biasa di pakainya? Kenapa tampilan Mama berubah? Kenapa Mama terlambat? Namun akhirnya semua pertanyaan itu disimpannya di dalam hati.


Ghina yang melihat ekspresi Ella tidak bersemangat itu bisa menebak, jika mood Ella saat ini sedang anjlok. Wanita itu pun memberikan Ella ruang untuk menyendiri. Ghina pun tidak menginterogasi Ella atau pun sekedar mengobrol santai agar tidak semakin memperkeruh keadaan.


"Loh, ini mau ke mana?" Akhirnya Ella membuka suara. Dia bertanya ketika mobil yang membawa mereka bergerak ke arah berlawanan dengan rumah.


"Kita mau pergi makan dulu, sayang," ujar Ghina.


"Tapi aku nggak lapar," balas Ella sambil mengerutkan wajahnya. Gadis itu menghela napas panjang untuk meluapkan kekesalannya.


"Ini tempat makannya spesial, loh. Kamu pasti suka," ujar Ghina.


"Aku capek banget hari ini. Pengen pulang aja, Ma," kata Ella


"Tempatnya dekat kok, sayang. Nanti kalau kamu nggak mau makan, bisa dibungkus aja," bujuk Ghina dengan lembut.


"Iya, deh," ujar Ella mengalah. Lagipula dia tidak punya alasan untuk menolak ajakan sang ibunda, hanya karena merasa kesal pada teman-temannya.


Sepuluh menit kemudian. "Restoran Jepang? Tumben banget Mama membawaku ke sini?" Pekik Ella dalam hati. Seumur hidupnya dia belum pernah mencicipi masakan Jepang. Ella pun memasuki restoran mahal itu dengan kaki gamang.


"Selamat datang, Ella." Seorang pria tampan berpenampilan rapi menyambut Ella dengan sebuah senyuman.


Langkah kaki Ella mendadak berhenti. "Astaga! Ini restoran milik Albert? Kok aku baru sadar?" gumam Ella dalam hati. Remaja berambut cokelat itu benar-benar lupa, kalau dia kini memiliki ayah seorang pengusaha muda kaya raya.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2