
"Gimana keadaan Ella hari ini?" tanya Albert melalui telepon.
"Keadaannya baik-baik aja, kok. Ella bisa mengatasi semuanya dengan aman. Dia cewek yang berani dan kuat," jawab seorang pemuda.
"Jadi, kamu udah tahu siapa pelakunya?" tanya Albert.
"Sejauh ini sih cuma dua nama itu. Nggak tahu kalau di belakang," sahut cowok itu lagi.
"Baguslah. Terus awasi mereka, Daniel. Aku sangat berterima kasih padamu," kata Albert.
"Sama-sama, Om," jawab Daniel.
"Om?" Albert terperanjat mendengarnya.
"Memang seharusnya aku memanggilnya begitu, kan? Anda kan ayahnya Ella. Rasanya canggung kalau aku memanggil abang atau kakak seperti biasanya," kata Daniel.
"Jadi Ella sudah cerita tentang aku? Ku pikir dia bakalan bungkam dan menyembunyikan identitasku sampai terbongkar dengan sendirinya," kata Albert dalam hati. "Aj, ngomong-ngomong kapan Ella bercerita tentang aku?" tanya Albert penasaran.
"Udah lama. Sebelum Om menikah sama ibunya Ella," ujar Daniel.
"Apa? Udah sejak saat itu?" seru Albert terkejut.
...🥀🥀🥀...
Meong... Meong...
Ella mengedipkan matanya. Ia terbangun karena suara kucing yang begitu nyaring. "Astaga! Sudah jam berapa ini? Bahkan matahari udah terbit." Ella panik. Sinar mentari menerobos masuk melalui celah dinding papan kamarnya yang mungil.
"Tapi kenapa aku tertidur di lantai, ya? Bukannya aku tadi malam ada di kasur?" Gadis itu merapikan buku-bukunya yang berserakan.
"Uh ... Aku nggak mau sekolah hari ini. Aku malas jumpa teman-teman. Mereka pasti banyak bertanya nanti." Tidak ada yang tahu, jika gadis yang terlihat tegar itu, hanyalaj seorang bocah perempuan yang juga bisa terluka dan frustrasi.
"Aku juga malas ketemu sama ibu-ibu di depan. Ngapain sih aku kemarin begitu? Memalukan banget. Sesekali bolos nggak apa-apa, kan?" gumam Ella lagi pada dirinya sendiri.
Kemarin sore, saat Ella pulang dari sekolah. Ella menyempatkan diri untuk belanja. Karena warnet pada hari itu tutup, Ella memiliki banyak waktu luang untuk memasak. Gadis itu pengin makan lauk sederhana yang dia buat sendiri.
"Bu, apakah masih ada terung dan telur?" tanya Ella di sebuah warung dekat rumahnya.
"Ada. Mau berapa?"
"Terungnya dua aja. Telurnya lima butir," jawab Ella.
__ADS_1
Selesai berbelanja Ella pun pergi. Namun baru beberapa langkah, telinganya sudah terasa panas.
"Hei, itu si Ella anak janda genit itu, kan?" ujar salah satu ibu yang belanja di warung
"Iya. Emangnya kenapa?" tanya ibu pemilik warung
"Kasian banget, ya. Ibunya menikah lagi sama berondong kaya. Anaknya malah ditinggal," ucapnya ibu tadi.
"Ya gimana? Namanya juga cewek genit. Mendiang suaminya dulu juga ganteng, tapi malah sakit-sakitan karena gak diurus istrinya," jawab pemilik warung.
"Ya ampun. Kasian banget. Pinter banget ya dia cari laki. Dari asisten rumah tangga jadi nyonya rumah. Apa ya rahasianya?"
"Eh, tapi berondong ibunya sering banget ke sini sendirian? Ngapain, ya?"
"Ya ampun, padahal aku masih di sini. Tapi bisa-bisanha mereka menggosipkan aku dan mama," batin Ella yang masih belum terlalu jauh dari warung.
"Ya mana saya tahu," balas ibu pemilik warung.
"Jangan-jangan mereka saling suka juga. Berondongnya kan cakep," kata ibu-ibu julid itu.
"Ah, mana mungkin. Ella itu suka beli terung, kok." Bantah ibu pemilik warung.
"Lah, apa hubungannya sama terung?" tanya mereka semua.
"Ih, masa sih? Serem banget. Ibu dan anak sama aja ternyata," ujar mereka yang langsung percaya pada bualan ibu pemilik warung.
"Udah selesai menggosipnya, Bu?" Tiba-tiba Ella datang menghampiri mereka.
"Astaga! Kamu belum pulang?" pekik ibu-ibu itu, yang terkejut dengan kehadiran Ella.
"Belum. Berkat gosip ibu-ibu kuping saya jadi panas. Kaki saya juga nggak mau pulang. Oh iya, obrolan tadi udah saya rekam, lho. Kalau macam-macam lagi saya adukan ke polisi," ancam Ella.
"Lah, enak aja ngancam-ngancam? Emang keluarga kalian pada nggak benar, kok?" Para ibu-ibu itu bukannya mengaku salah, malah semakin menantang Ella.
"Oke, kita lihat saja nanti. Aku pasti tidak akan membiarkan fitnah ini begitu saja," kata Ella dengan tegas dan lantang.
Drrttt! Suara telepon membuyarkan ingatan Ella. Dia kembali tersadar bahwa saat ini masih berada di lantai kamarnya yang dingin dan berserakan.
"Ella, kamu nggak masuk?" Maira mengirim pesan pada Ella, karena bocah itu belum muncul di kelas.
"Aku izin nggak masuk, Mai," balas Ella singkat.
__ADS_1
"Kenapa? Kamu sakit? Hari ini ada Try Out, loh," tanya Maira lagi.
"Ah, benar juga. Ada try out," batin Ella. Meski demikian semangatnya masih belum muncul.
...🥀🥀🥀...
"Apa? Ella nggak masuk sekolah hari ini? Kenapa?" tanya Albert pada Daniel.
"Aku juga nggak tahu, Om. Tadi aku mencarinya ke kelas, tapi kata teman-temannya dia alpha. Padahal hari ini ada try out dari dinas pendidikan," jawab Daniel.
"Apa masih ada orang yang membully Ella di sekolah?" tanya Albert masih penasaran. Sia merasa Ella tidak masuk sekolah karena hal itu.
"Masih, Om. Malah semakin tersebar ke kelas lain," lapor Daniel.
"Oke, terima kasih, Daniel. Lain kali akan kutraktir kamu makan," ujar Albert.
"Kenapa, sayang?" tanya Ghina penasaran.
"Ella nggak masuk sekolah hari ini. Padahal hari ini ada try out dari dinas pendidikan." Albert mengulangi kalimat Daniel. "Apa kamu tahu sesuatu?" tanya pria itu pada istrinya.
"Ella nggak ada ngasih kabar apa-apa, tuh. Kemarin dia juga sehat-sehat aja. Kita harus segera mengeceknya ke rumah," ujar Ghina.
Albert segera mengambil kunci mobil, lalu membawa kendaraannya menuju rumah Ghina. Sementara Ghina mencoba menghubungi Ella, namun tidak ada jawaban.
"Semoga dia nggak kenapa-kenapa," ucap Ghina cemas.
"Ya, semoga aja," timpal Daniel.
"Sayang, ngomong-ngomong siapa yang kamu telepon tadi?" tanya Ghina penasaran.
"Oh, itu Daniel. Cowok pemilik warnet tempat Ella bekerja. Dia juga teman sekolah Ella. Tetapi mereka nggak sekelas. Kami saling kenal sejak aku memantau Ella di warnet," jawab Albert.
"Tapi samar-samar, kenapa aku mendengar dia memanggilmu Om?"
"Dia tahu hubunganku dengan Ella sebagai ayah dan anak," jawab Albert lagi sambil fokus mengemudi.
"Astaga! Jadi kamu menceritakan semuanya pada dia?" kata Ghina.
Albert menggelengkan kepalanya. "Bukan aku yang ceritain. Tetapi Ella," kata Albert.
"Yang benar? Bukannya Ella ingin menutupi hubungan kita di depan teman-temannya?" ucap Ghina.
__ADS_1
"Itu juga yang aku pikirkan. Menurutku, Ella sudah percaya pada Daniel. Sehingga dia bisa terbuka seperti itu," kata Albert.
(Bersambung)