
“Ini lagi. Padahal orangnya udah turun dari mobil sejak tadi. Tapi kenapa bau parfumnya masih tercium? Apa ini yang dirasakan mama setiap hari? Duduk di sebelahnya, mengobrol bersama, mencium wangi parfumnya, bahkan menyiapkan segala kebutuhannya. Cih, aku iri banget sama mama,” kata Ella. Dia tenggelam dalam pikirannya sendiri, sampai tidak sadar kalau Albert sudah kembali.
“Kenapa kamu nangis lagi cuma gara-gara mencium parfumku?” ucap pria itu.
“Hah? Siapa yang nangis? Aku habis menguap karena mengantuk.” Ella terlonjak kaget melihat pria yang tiba-tiba muncul di sampingnya. Dia buru-buru mengusap air matanya.
“Ah, masa? Tadi kayaknya samar-samar aku dengar ‘bau parfum, Al’ gitu?” ucapnya tidak percaya dengan jawaban Ella.
“Y-ya, aku emang baru aja ngomentarin parfummu. Wanginya enak, aku suka. Tapi harganya pasti mahal, kan?” kilah bocah SMA itu.
“Ya, lumayan mahal. Kamu mau? Tapi ini parfum cowok, loh. Ada yang untuk ceweknya juga, kalau kamu mau,” jawab Albert dengan polos.
“Be-berapa harganya?” kata Ella. “Ugh, udah terlanjur bohong juga, mending lanjutin aja,” gumam wanita itu dalam hati.
Albert tersenyum nakal. Sebenarnya dia mendengar semua ucapan Ella dari awal. Karena pria itu hanya memesan nasi goreng, lalu memutuskan untuk menunggu di mobil. Tapi saat ini dia lagi asik mengerjai Ella, dan memilih pura-pura nggak tahu.
“Harganya satu juta dua ratus per dua ratus milliliter. Kalau kamu mau …”
__ADS_1
“Nggak usah! Nggak jadi, deh. Parfum apaan yang dihargai semahal itu?” Ella memotong kalimat Albert.
“Haha ya udah. Kamu kan masih anak sekolah, pakai parfum dari pewangi pakaian aja juga udah cukup,” ujar Albert sambil tertawa lepas.
“Cih, enak banget ya dari tadi nyindir anak sekolah?” ucap Ella sebal.
“Nggak usah kesel gitu. Nanti kalau udah kerja kayak aku, kamu bisa bebas kok mau pakai apa. Menurutku, apa pun yang kamu pakai, pasti tetap kelihatan cantik,” goda Albert.
“Hish, apaan sih?” Ella membuang mukanya yang merah padam.
“Kayaknya sebentar lagi nasi gorengnya jadi. Aku ambil dulu, ya. Oh iya, kamu mau pesan apa lagi? Mumpung lagi di sini,” tanya pria itu.
"Oke, Tuan Putri. Tunggu di sini sebentar, ya. Aku mau ambil pesanan nasi goreng dulu," ujar Albert dengan sangat lembut. Ella hanya mengerutkan dahinya sambil menahan tawa.
...🥀🥀🥀...
"Benar kata Ghina, Ella bau rokok. Dia berteman sama siapa sih di sekolah?" gumam Albert sambil mengemudi. Meskipun arima nasi goreng memenuhi seluruh sudut kendaraan roda empat tersebut, tetap saja Albert bisa mencium aroma tak sedap itu dari tubuh Ella.
__ADS_1
"Kenapa kamu lihatin aku kayak gitu?" tanya Ella.
"Kamu cantik," jawab Albert asal.
"Iya, aku tahu kalau aku tuh cantik. Tapi tetap aja mama yang kamu pilih," gumam Ella dengan jutek.
"Terus? Kamu mau dipilih juga?" tanya Albert dengan suara sangat lembut.
"Duh, kamu sengaja ngerjain aku, ya?" seru Ella kesal.
"Ya ampun. Jutek amat sih, Neng? Lagi PMS, ya?" balas Albert sambil tertawa.
"Ish, pengen tahu aja. Emangnya jutek itu harus ada alasan?" kata Ella. Dia tetap memandang lurus ke depan, memperhatikan jalanan ibukota yang diwarnai lampu berwarna-warni.
"Ya biasanya cewek kan kalau jutek itu karena lagi PMS, atau abis berantem sama pacar. Kamu yang mana?" tanya Albert. "Oh iya, pacar kamu siapa sih? Kok aku nggak pernah lihat?"
Ella menoleh ke arah pria di sebelahnya. Tatapannya benar-benar menusuk, seakan bisa merobek kulit dada pria itu. "Kamu beneran nggak tahu, atau pura-pura nggak tahu?" ujar Ella dengan gigi rapat.
__ADS_1
(Bersambung)