
"Ma, hari minggu besok boleh ajak temanku belajar di sini, nggak?" tanya Ella pada Ghina.
"Ya boleh dong, sayang. Teman-teman kamu yang kemarin itu, kan? Mau Mama masakin apa?" tanya Ghina.
"Iya, Ma. Temanku yang kemarin. Lalu ada satu lagi, Imelda namanya. Mama nggak perlu repot-repot. Nanti kami bisa masak-masak sendiri kok kalau laper," ujar Ella.
"Kalau mau masak sendiri juga boleh. Tapi biar fokus belajar, sebaiknya Mama aja yang masak. Mama bikinkan ayam goreng dan pergedel jagung mau, kan?" tanya Ghina dengan antusias.
"Hm, ya udah deh. Terserah Mama aja kalau nggak ngerepotin. Kami juga apa aja suka," kata Ella lagi.
Hari minggu pun datang begitu cepat. Ella sudah merapikan kamarnya, untuk tempat belajar bersama nanti. Dia sudah tidak sabar menantikan kedatangan teman-temannya.
"Udah sampai di titiknya nih, Dek," ujar supir taksi online itu pada Naya, Maira dan Melda.
"Wah, yang benar ini rumahnya," kata Maira sambil berdecak kagum.
"Bener kan, Pak? Kalau salah alamat nanti saya kasih bintang satu, lho," ancam Naya pada sang supir.
"Iya, pasti benar. Kan saya ikuti sesuai map," ujar Pak Supir.
"Ayo turun gaes. Pak ini ongkosnya," ujar Imelda.
"Gila, gede banget rumahnya. Pagarnya aja kayaknya lebih mahal dari pada rumah Gue," gumam Maira.
"Ada yang bisa saya bantu, Dek? Cari siapa?" tanya Pak Satpam yang muncul dari balik pagar.
"Anu, kami mencari rumah Om Albert," kata Naya dengan lantang.
"Oh, teman-temannya Non Ella, ya? Mari, Bapak antar ke dalam," ujar Pak Satpam dengan ramah.
"Terima kasih, Pak," ujar ketiga gadis tersebut, lalu mengikuti langkah kaki Pak Satpam.
"Non Ella? Ternyata Ella udah beda level sama kita sekarang gaes. Dia udah jadi anak gedongan," bisik Maira pada kedua temannya.
"Iya, nih. Halaman rumahnya aja luas banget dan tertata rapi. Gimana dengan isi di dalamnya?" kata Imelda sambil memandang ke kiri dan kekanan halaman rumah mewah tersebut.
"Sayang banget, deh. Kenapa malah duluan ketemu sama mamanya Ella. Coba kalau ketemu aku duluan? Aku pasti ikhlas banget jadi istrinya. Kapan lagi dapat cowok sempurna kayak gitu, kan?" ujar Naya.
"Mulai lagi deh ngehalunya. Inget woi, dia itu bokapnya temen Lu," celetuk Imelda.
"Tau, tuh. Kayak Om Albert mau aja sama dia?" cibir Maira. "Jadi kamu melihat cowok itu dari wajahnya atau dari duitnya?" tanya Maira.
"Kayaknya dua-duanya, deh. Kalau bisa dapat dua kriteria, kenapa harus pilih satu?" balas Naya.
Pak Satpam yang berjalan di depan mereka, hanya tertawa mendengar obrolan para bocah di belakangnya.
"Wah, kalian udah datang? Ayo masuk. Mamaku udah masak pergedel jagung untuk cemilan kita. Terus ayam goreng untuk makan siang nanti," sambut Ella di depan pintu.
"Wow, La. Kami jadi sungkan, nih," ucap Imelda.
"Iya, nih. Kami ngerepotin, ya?" timpal Maira.
__ADS_1
"Nggak, kok. Mamaku malah senang banget dengar kalian mau datang," ujar Ella.
"La, rumahmu gede banget? Nggak pernah tersesat di dalam?" kata Naya.
"Haha, awal-awal dulu emang sering tersesat, sih. Tapi sekarang udah nggak, kok," ucap Ella.
"Ini rumah ayahmu sejak dia masih single?" tanya Naya lagi.
"Iya, hasil kerjanya sendiri," jawab Ella.
"Bilang sama mama kamu, La. Hati-hati ada pelakor," cibir Imelda.
"Maksudmu Naya? Kalau dia sih aku nggak khawatir. Ayahku itu seleranya tinggi banget," kata Ella sambil tertawa.
"Sialan, Lu," ujar Naya pura-pura ngambek.
"Oh y, kita mau belajar di mana, nih?" tanya Maira sambil mengikuti Ella menaiki tangga.
"Di kamarku aja. Udah aku rapihin tadi," kata Ella.
"Emang muat?" celetuk Melda dan Naya bersamaan.
"Kita coba aja dulu," kata Ella sambil membuka sebuah pintu.
Pluk! Maira menjatuhkan totte bag yang di pegangnya. "Ini kamar kamu, La?" tanya Maira.
"Iya, ayo masuk," ajak Ella. Dia lalu membuka pintu geser yang memiliki balkon sendiri.
"Muat, kan? Yuk, langsung belajar aja. Aku udah bikinkan es jeruk untuk minum kita," kata Ella.
...🥀🥀🥀...
"Sayang, di atas ada siapa? Kok rame banget?" tanya Albert yang baru aja pulang dari restoran miliknya.
"Oh, itu teman-teman Ella. Mereka belajar bersama di sini," kata Ghina.
"Oh, gitu," jawab Albert sambil mengambil air dingin dari dalam kulas.
"Tapi ini udah jam makan siang, mereka harus istirahat dulu," kata Ghina.
"Kamu masak apa tadi? Kok nggak bilang ke aku kalau teman-teman Ella datang? Harusnya kan aku bisa bawain sesuatu dari restoran," ucap Albert.
"Oh, iya ya? Kenapa aku nggak kepikiran. Tapi aku udah masak ayam, sih," ujar Ghina. "Bentar, deh. Aku panggil mereka turun, biar makan bersama," kata Ghina.
"Kalian makan duluan aja. Nanti aku menyusul. Kalau aku ikut makan juga, pasti mereka bakalan sungkan," kata Albert.
"Ya, terserah kamu aja," ujar Ghina. Dia lalu naik ke lantai dua, dan memanggil para gadis untuk makan siang bersama.
"Wah, Tante masak ini semua? Enak banget. Tapi kami jadi ngerepotin, ya?" ucap Naya.
"Enggak, dong. Tante senang kok, kalian beneran main ke sini. Sejak pindah, Ella selalu kesepian karena nggak punya teman," kata Ghina.
__ADS_1
"Ih, Mama ember," protes Ella.
"Loh, emang benar, kan? Apalagi sejak Luna pindah ke hati ayah kamu," ujar Ghina.
"L-luna?" gumam Naya dan Imelda. Sementara Maira tersedak mendengarnya.
"Kalian mikir apa, sih? Luna tuh kucing aku. Mama ceritanya setengah-setengah, sih," kata Ella dengan bibir manyun.
Ghina tertawa mendengarnya. "Nanti kalian mau lanjut belajar di kamar lagi? Kenapa nggak belajar di dekat taman aja, sekalian ganti suasana," usul Ghina.
"Ide bagus, Ma," ucap Ella.
...🥀🥀🥀...
"Ini gimana, sih? Susah banget soalnya," keluh Maira dan Ella.
"Yah, kalian aja nggak bisa, apa lagi aku dan Imelda," kata Naya, disertai anggukan kepala Melda.
"Apa kita udahan aja belajarnya? Besok kita tanya sama Bu Guru di sekolah," usul Melda.
"Lah, besok kan udah mulai ujian juminteeeen?" ucap Maira.
"Ya kalau gitu berdoa aja, semoga soal kayak gini nggak masuk dalam ujian," ucap Melda sambil menyengir.
"Kalian butuh bantuan?" Ella dan ketiga temannya kompak menoleh ke arah sumber suara. Bahkan Melda dan Maira sampai tak berkedip melihat pria yang tersenyum manis tersebut.
"Haha, nggak usah. Lagian kami juga mau udahan, kok," kata Ella.
Tapi terlambat, Albert telah lebih dulu melihat soal di buku Ella. "Oh, tentang limit dan integral trigonometri. Gak usah pusing kalau ngerjain ini. Ada trik-nya biar mudah," ujar Albert. "Minta kertas selembar, dong," sambungnya lagi.
"I-ini," Ella menyodorkan selembar kertas, dengan tatapan tak percaya.
"Jadi gini caranya ..." Albert pun menjelaskan pemecahan soal tersebut.
Ella dan ketiga temannya tercengang. Cowok itu dapat menjelaskan semuanya dengan lancar tanpa ada celah sedikit pun. Padahal materi ini cukup sulit untuk di pelajari.
"Eh, kenapa kalian bengong? Penjelasanku sulit dipahami, ya?" kata Albert setelah selesai.
"Nggak kok, Om. Jelas banget. Malah lebih mudah dipahami dari pada yang dijelaskan guru di sekolah," ujar Melda.
"A-ayah kenapa nggak jadi guru matematika di SMA aja? Pasti bakalan banyak fans-nya. Eh, maksudku murid perempuan pasti betah belajar matematika. Eh, bukan gitu juga, deng," kata Ella salah tingkah.
"Kan udah Ayah bilang, kalau ada yang nggak ngerti tanya aja sama Ayah," ucap Albert. "Soal mana lagi yang kalian nggak paham?" sambung pria itu.
"Bisa ajarin fisika, nggak?" tanya Naya.
"Boleh," jawab Albert.
"Gila, bener-bener cowok sempurna. Kira-kira besok anaknya seperti apa, ya?" batin Naya, Maira dan Imelda.
(Bersambung)
__ADS_1