
"Jadi kamu tadi mikir, bakal aku bawa ke kamar?"
Albert tersenyum mengejek.
"Ih, bukan gitu. Ngapain makan mahal-mahal di hotel. Di luar juga banyak restoran enak," kilah Ella. Wajahnya merah padam, karena tebakan Albert barusan tepat sasaran.
"Tapi ayah lagi pengen makan di sini," balas Albert lagi.
"Huft... Ya udah deh," ujar Ella.
Ting! Pintu lift terbuka. Tidak ada siapa pun selain mereka berdua. Ella menatap Albert yang sibuk dengan HPnya dari cermin di dinding lift.
"Ngapain anak ini perhatikan aku? Bukannya dia udah move on? Atau hanya pikiranku aja yang berlebihan?" Albert bergumam dalam hati.
Untung saja lift terbuka beberapa detik kemudian. Ella nggak perlu menjaga image lebih lama lagi.
Tanpa butuh waktu lama, Albert langsung menuju ke sebuah meja terletak di tepi dengan jendela besar, dan memesan main course spesial hari ini.
"Kamu mau tambah apa lagi? Pesan aja," ujar Albert dengan ramah.
"Nggak. Itu aja udah cukup," ujar Ella yang gak sabar ingin segera pulang. Dia masih mencurigai pria yang membawanya ke hotel tersebut.
"Emm ... La, sepeda motor kamu sudah dibawa ke bengkel sama anak buah Ayah. Kata mereka, perlu di servis dan beberapa spare partnya perlu diganti," kata Albert sembari menunggu pesanan datang.
"Lho, kok gitu? Sepeda motornya kan masih baru," protes Ella.
"Sudah berapa bulan kamu menggunakan sepeda motor itu? Apa sejak dibeli, sudah pernah kamu servis?" tanya Albert.
"Hmmm... Hehehe... Itu..." Ella memutar bola matanya, tanpa berani menjawab pertanyaan sang ayah.
"Nah, kan ...? Makanya sekarang di servis dulu," kata Albert.
__ADS_1
"Jadi beneran bukan Ayah yang ngerusakinnya?" tanya Ella dengan wajah serius.
"Kamu sebenarnya lihat Ayah tuh, orang yang kayak gimana, sih?" balas Albert. "Untuk apa Ayah ngerusakin sepeda motormu? Ayah justru datang menjemputmu dan membantumu," kata pria itu.
"Maaf," ujar Ella.
"Jadi sepeda motormu perlu di servis, dan besok siang baru selesai." Albert mengulangi ceritanya.
"Kok lama banget? Terus aku ke kampus gimana?" tanya Ella.
"Ya kamu pikir aja, emang bengkel resmi mana yang buka sampai tengah malam gini? Paling cepat juga besok pagi dikerjakan sama mereka. Ntar kamu pakai mobil ayah yang satu lagi saja," kata Albert.
"Aku kan nggak bisa bawa mobil, Yah," balas Ella.
"Kalau gitu Ayah antar jemput aja," jawab Albert dengan santai.
"Aaah ... Ayah ...! Aku nggak mau dikawal kayak zaman SMA dulu. Malu tahu." Wajah Ella berubah jadi masam. Hatinya menjadi sangat kesal.
"Ahhh.... Gak mau! Mending aku pakai ojol aja," bantah Ella. Dia tidak menyadari, kalau sang Ayah hanya mengerjainya saja.
Untung saja beberapa menit kemudian, pesanan mereka pun datang. Keadaan pun menjadi tenang kembali.
...🥀🥀🥀...
"Gimana Ella tadi? Dia nggak marah karena aku membatalkan janji tiba-tiba, kan?" tanya Ghina pada sang suami.
"Aman aja tuh. Karena nggak ada persiapan, aku jadi terpaksa membawanya makan di hotel," jawab Albert dengan jujur. "Tapi gara-gara itu, aku jadi dicurigai," sambung pria itu.
"Loh, kenapa?" tanya Ghina.
"Ya, putrimu menyangka aku akan berbuat macam-macam, karena aku membawanya ke hotel," cerita Albert.
__ADS_1
"Hahaha, ada-ada aja anak itu," tawa Ghina tanpa rasa cemburu. "Tapi sepeda motornya kok bisa rusak?"
"Biasalah, nggak pernah di servis. Tapi nggak parah, kok. Besok siang juga udah kelar," jawab Albert. "Kamu sendiri tadi gimana?" Albert penasaran pada kegiatan hari pertama sang istri sebagai manajer restoran.
"Lumayan sibuk. Dan untuk launching cabang restoran lumayan ramai," jawab Ghina.
"Wah, beneran? Syukurlah," jawab Albert. "Jadi gimana rasanya jadi manajer restoran? Enak?" tanya pria itu.
"Lumayan seru juga. Tetapi ada banyak banget yang harus aku pelajari. Oh iya, tadi pagi aku senang banget. Ada seseorang yang dari pagi udah datang nungguin aku," cerita Ghina.
"Oh, ya? Siapa?"
"Pemasok utama bahan dapur kita," jawab Ghina.
"Pak Ujang?" tebak Albert.
"Ih, bukan. Pak Ujang kan udah balik kampung.
Namanya Lilibeth. Dia wanita single parent kayak aku juga," ujar Ghina.
"Siapa kamu bilang?" Dada Albert bergetar, saat Ghina menyebutkan sebuah nama. Pria itu mendadak resah dan gelisah.
"Lili. Lilibeth," ulang Ghina.
Sial! Kenapa namanya mirip banget sama wanita itu? Dia juga seorang single parent. Aku harap cuma namanya aja yang sama," pikir Albert cemas.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Ghina yang heran, melihat perubahan wajah sang suami.
"Eh, aku? Nggak apa-apa, kok," sahut Albert dengan gugup.
(Bersambung)
__ADS_1