
"Kamu tahu sesuatu? Jadi di belakangku selama ini kalian berbuat sesuatu?" Ghina menatap Albert dengan tajam. Dengus napasnys terdengar jelas.
"Iya, aku memang tahu sesuatu. Tapi biarkan Ella ganti baju dulu. Aku akan ceritakan semuanya," ucap Albert dengan tenang.
"Nggak bisa, Al. Kalau dibiarkan ntar bisa jadi kebiasaan!" kata Ghina.
"Bukan dibiarkan. Tapi berikan dia waktu-"
"Waktu untuk apa? Membuat alasan?" Ghina memotong ucapan Albert. Emosinya telah membuncah sampai ke ubun-ubun.
Tangan Ella mengepal erat. "Ma, aku kerja di warnet." Ella memberanikan diri untuk jujur.
"Kerja? Di warnet? Untuk apa? Uang yang Mama kasih kurang? Ah, bahkan kamu nggak menggunakannya satu rupiah pun.
"Bukan gitu, Ma."
"Oh, Mama tahu. Kamu nggak mau terima uang dari mama lagi karena mau menikah sama Al?" desak Ghina.
Tap! Tepat sasaran. Ella semakin kehilangan kata-kata untuk membela diri. Albert memandang Ella dengan iba. Gimana pun juga, gadis remaja itu nggak sepenuhnya salah.
"Aku cuma pingin belajar mandiri, Ma," bisik Ella.
__ADS_1
"Mandiri? Kamu pikir Mama kerja siang malam untuk siapa kalau bukan untuk kamu?" Kedua mata Ghina memerah. Dadanya terasa sangat sesak.
"Maaf kalau aku menyinggung perasaan Mama. Tapi aku hanya ingin belajar. Apa aku nggak boleh mandiri?" ucap Ella lagi.
"Tugas kamu itu sekolah. Bukan kerja. Dan kenapa waktunya sama persis dengan rencana pernikahan Mama?" Tangis Ghina pecah. Suaranya terdengar parau. "Apa kamu mau hidup seperti Mama? Di remehkan semua orang hanya karena tamat SMP?" sambung Ghina lagi di sela isak tangisnya.
"Maafkan aku, Ma." Ella masih belum melepaskan pelukannya dari tubuh sang ibunda.
"Al, sejak kapan kamu tahu? Dan kamu diam aja? Apa benar dia nggak berteman dengan orang-orang aneh?" Ghina beralih pandangan ke arah calon suaminya itu.
"Iya, aku udah tahu sejak beberapa hari yang lalu. Aku mengikutinya setelah pulang sekolah," kata Albert. "Tapi ku lihat, ketika di warnet dia tetap belajar untuk ujian kelulusan dan ujian masuk universitas," ucap Albert.
Bruk!!! Ghina terduduk di lantai. "Almarhum suamiku pasti marah sama, melihat putrinya bekerja di usia yang sangat belia."
"Maafkan aku, Ghina. Tenangkan dirimu. Nanti kita bicarakan lagi, ya."
"Ibu macam apa aku ini? Mengurus satu orang anak aja nggak bisa." Tangisan Ghina semakin dalam. Tubuhnya terguncang.
Albert memegang bahu Ghina, menguatkan wanita tiga puluh tahunan itu. Tak lama kemudian adzan magrib berkumandang. Suasana mendadak hening.
Melihat pemandangan di depannya, Ella pun buru-buru ke kamar menenangkan hatinya. Hatinya masih belum terbiasa melihat kedekatan antara Albert dan Mamanya.
__ADS_1
"Oh, iya. Tadi Mama kok bisa nemuin uang itu, ya?" Ella segera membuka lemarinya. Bruk! Ella terduduk di lantai ketika melihat benda berkilauan di dalam lemari. Ella menatap lekat-lekat benda itu.
"I-ini, kan? Kok Mama bisa tahu."
Ella menyentuh gaun biru yang tergantung di dalam lemarinya, beserta sebuah sepatu yang sangat cantik. Beberapa waktu lalu ketika dia dan Ghina menghabiskan waktu bersama, Ella memandangi Gaun dan sepatu tersebut dari balik kaca sebuah toko. Sungguh tidak disangka, ternyata Ghina sangat mengetahui keinginan putrinya.
Tiba-tiba pandangan Ella berhenti pada sebuah kertas bercorak boneka, yang terselip di antara buku-bukunya. Gadis itu segera membacanya. Kertas surat dengan tulisan tangan sang ibunda pun basah, karena tetesan air matanya yang mengalir tanpa izin.
Ia teringat, ulang tahunnya sudah lewat hampir sebulan yang lalu. Tepat ketika hubungannya dengan sang ibunda memburuk. Ella nggak menyangka, ulang tahunnya yang tidak pernah dirayakan itu ternyata diingat oleh mama.
Bola matanya yang bersinar bak rembulan, kembali mengamati gaun dan sepatu yang diberikan sang mama. "Ini bagus bagus banget, pasti harganya mahal. Ah, apa aku bisa menggunakan heels?"
"Ella, apa kamu udah selesai sholat? Keluarlah," panggil Albert sambil mengetuk pintu kamar Ella.
"Oh iya, aku jadi penasaran. Kenapa Albert tiba-tiba muncul, ya?" pikir Ella, ketika mendengar suara pria itu.
(Bersambung)
__ADS_1