
Dewi memasukkan sesuatu ke dalam kotak bekal dan botol minum milik Ella. "Mampus, Lu. Rasain, bakal nggak bisa belajar Lu hari ini," ucapnya seraya tertawa licik. "Untung aja di kelas nggak ada CCTV," sambungnya lagi.
Ekor mata remaja itu tidak terlepas dari Ella hingga pelajaran terakhir. Dia mengamati setiap gerak gerik dari saingannya itu, tanpa lepas sedetik pun.
"Lu ngapain, sih? Dari tadi ngelihatin dia mulu?" tanya Kiki sambil berbisik.
"Nggak ada apa-apa. Eneg aja Gue lihat cewek centil sok kecantikan gitu," jawab Dewi.
"Ya kalo eneg nggak usah dilihatin, Lah. Elu bisa muntah lama-lama," sindir Kiki sambil melengos.
"Kok dia nggak kenapa-kenapa, ya? Padahal bekal sama minumannya udah abis. Apa obat pencahar itu nggak ampuh? Padahal Mama kalau lagi sembelit, setelah minum itu langsung lancar deh pencernaannya," gumam Dewi dalam hati.
Pagi tadi Dewi memang sengaja mengambil obat pencahar alias pelancar pencernaan, yang biasa di konsumsi oleh sang mama. Menurut dokter, obat itu bisa menjadi obat, sekaligus racun, jika digunakan dengan dosis yang tidak sesuai.
Ide gila itu terlintas begitu aja, ketika melalui lemari obat milik sang mama. Dewi pun menuangkan membuka beberapa kapsul teraebut dan menuangkannya ke dalam bekal milik Ella. Tapi kini dia merasa usahanya sia-sia, karena Ella tampak biasa saja hingga kelas berakhir.
"Ah, sudahlah. Tunggu aja kabarnya besok. Bisa aja reaksinya lebih lambat dari yang ku kira," pikir Dewi.
"Dewi, kok lama banget sih, sayang? Habis ini Mama mau ada sidang kasus artis itu," ucap Mama Dewi ketika putrinya memasuki mobil.
"Ya namanya juga kelas tiga, Ma. Banyak yang harus dipelajari. Kalau Mama sibuk, kenapa nggaj Pak Supir aja yang jemput aku," ujar Dewi mengeluh.
"Mama jemput kamu sekalian mau ambil parfum Mama yang kamu pinjam tadi pagi," ujar wanita cantik berprofesi sebagai pengacara itu.
"Ah, Mama. Baru juga aku pakai sedikit," gerutu Dewi sambil memanyinkan bibirnya. Jemari remaja itu bergerak membuka risleting tas-nya.
"Ya lagian kamu ngapain ke sekolah pakai gituan, sih?" tanya sang Mama. "Astaga, Nak. Kenapa kamu bawa ini? Kamu berhubungan sama laki-laki mana?" suara sang ibunda yang lembut, mendadak berubah menjadi sebuah benrakan.
"Aduh, Ma. Bikin kaget aja. Apa hubungannya laki-laki sama obat itu?" tanya Dewi bingung yang melihat sang mama tiba-tiba marah.
"Ya ini kan obat untuk 'itu'. Ngapain kamu bawa-bawa ini?"
"Iya, untuk itu, kan?" jawab Dewi sambil menunjuk ke bawah. "Terus apa masalahnya kalau aku bawa ini?" gadis itu semakin nggak mengerti.
__ADS_1
"Ya makanya Mama tanya. Ngapain kamu bawa obat untuk penambah gairah itu? Laki-laki mana yang berhubungan sama kamu." Wanita itu terus menginterogasi putrinya.
"Oh, jadi ini obat penambah gairah? Aku nggak kayak gitu lah. Pacar aja nggak punya," jawab Dewi sambil merapikan rambut panjangnya. "Eh, Mama bilang apa? Jadi ini bukan obat pencahar?" pekik Dewi yang baru memahami apa yang dibilang oleh mamanya.
"Kamu ini bohong atau beneran salah ambil obat, sih?" tanya sang mama.
"Aku beneran nggak sadar, Ma. Mampus aku," keluh Dewi menepuk jidatnya sendiri.
"Kamu belum makan obat ini, kan?" selidik wanita itu lagi.
"Udah eh belum. Maksudku, bukan aku yang meminumnya. Te-temanku katanya ada yang sembelit, jadi ku bawakan ini," ujar Dewi setengah jujur, dan setengah lagi berbohong.
"Astaga, Nak. Kamu kasih dia berapa kapsul?" tanya pengacara wanita itu.
"Aku nggak ingat," kata Dewi berbohong. Padahal dia ingat betul, telah menumpahkan isi lima kapsul ke dalam makanan Ella. "Lagian Mama ngapain nyimpen ginian, sih? Aku aja nggak punya papa," celetuk Dewi.
"Ehm! Itu urusan orang dewasa. Kamu nggak perlu tahu," tanya wanita itu dengan gugup.
"La, kamu yakin nggak apa-apa? Badan kamu panas banget, lho," ujar Naya dan Ella yang masih berada di kelas.
"Aku nggak apa-apa kok, gaes. Kalian bisa pulang duluan. Aku mau telepon mamaku aja," ujar Ella sambil mengusap keringatnya yang bercucuran.
"Bener, nih? Nanti kalau kamu kenapa-kenapa gimana?" tanya Naya masih nerasa khawatir.
"Kan ada Pak Satpam. Aku nunggu mama di sana aja," ujar Ella.
"Ya udah, kalau gitu kita barengan aja ke depannya," sahut Maira.
"Ck, aku sebenarnya kenapa sih? Badanku aneh banget," pikir Ella dalam hati.
Selama perjalanan dari kelas menuju ke pos satpam, dia merasa napasnya tidak teratur. Tubuhnya menggigil dan bagian dadanya terasa kencang. Ella juga merasa bagian inti tubuhnya berdenyut tak terkendali.
"Kami duluan, ya," ujar Naya dan Maira, ketika sebuah bus berhenti di halte depan sekolah mereka. Ella hanya melayangkan senyuman dan melambaikan tangan kanannya.
__ADS_1
"Nunggu dijemput, Dek?" tanya Pak Satpam yang sedang berjaga.
"Iya, Pak," jawab Ella. "Aku tunggu di bawah pohon sana aja, deh. Kayaknya lebih adem," ucap Ella. Entah kenapa gadis itu merasa tak nyaman berada di dekat Pak Satpam yang sibuk memperhatikan para siswa pulang sekolah.
"Nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi." Sudah beberapa kali Ella mendengar kalimat itu saat menghubungi Ghina.
"Duh, Mama ke mana, sih? Badanku udah nggak kuat lagi," batin Ella gelisah. Dia tidak yakin bisa pulang sendirian dengan aman menggunakan taksi atau pun ojek online.
Drrrttt! Ceklek! "Halo, sayang."
"Nenek ada di mana? Apa Nenek lagi sibuk?" Ella akhirnya menelepon sang Nenek.
"Nenek lagi ada acara dengan teman-teman Nenek dari panti sosial di luar kota. Kenapa sayang? Apa ada masalah?" tanya ibunda Albert tersebut.
"Ng-nggak apa-apa kok, Nek. A-aku cuma kangen aja. Oh, apa mama ada menghubungi Nenek hari ini?" tanya Ella sambil berusaha mengatur napasnya yang semakin sesak.
"Nggak ada, sih. Kamu beneran nggak apa-apa, Nak? Suaramu kok kayaknya sesak gitu?" tanya sang Nenek khawatir.
"Sebenarnya aku lagi nggak enak badan, Nek. Jadi rencanya mau minta jemput mama," jawab Ella.
"Ya ampun. Separah apa sakitnya? Kenapa nggak minta jemput ayahmu saja?" ucap wanita itu.
"Nggak terlalu parah kok, Nek. Cuma agak demam aja," jelas Ella.
"Nenek teleponkan ayahmu, ya. Biar dia jemput kamu sekarang," ucap sang Nenek.
"A-anu, nggak usah, Nek."
Kluk! Telepon terputus sebelum Ella sempat menyelesaikan kalimatnya.
"Aduh, gimana ini? Firasatku mengatakan nggak bagus kalau pulang dengan pria itu," kata Ella semakin cemas. Namun tidak ada pilihan lain. Mamanya masih juga belum bisa dihubungi. Setidaknya ini jauh lebih baik daripada pulang sendiri.
(Bersambung)
__ADS_1