
"Adek nggak apa-apa? Wajahnya merah banget kayak lagi demam," ucap Pak Satpam itu sambil mendekati Ella. Siswa-siswi di sekolah itu sudah pada pulang. Lingkungan sekolah pun tampak sepi.
"Saya nggak apa-apa kok, Pak," kata Ella dengan lemah.
"Ini minum dulu," ujar Pak Satpam memberikan sebuah air mineral kemasan gelas pada Ella.
"Terima kasih, Pak," ujar Ella seraya menerima air kemasan tersebut.
"Sayang, kamu nggak apa-apa?"
Albert yang masih mengenakan setelan jas lengkap buru-buru mendekati Ella yang terduduk lemas di bawah pohon. Mobilnya diparkir di tepi jalan. Berbeda dari biasanya, pria itu menggunakan mobil merk Jepang dengan harga di bawah dua ratus juta saja.
"Anda abangnya, ya? Dari tadi dia kelihatan lemah dan gelisah," ujar Pak Satpam.
"A-anu, Pak. Saya ..."
"Dia papa tiri saya, Pak," jawab Ella memotong ucapan Albert, seraya berusaha berdiri. Tubuhnya terlihat sempoyongan.
"O-oh, gitu ya?" gumam Pak Satpam meeasa bingung sekaligus curiga. Dilihat dari mana pun, pria itu tampak terlalu muda untuk menjadi seorang ayah. Meski demikian, dia merasa familiar dengan wajah pria muda tersebut.
"Semoga mereka nggak berbohong. Tapi untuk berjaga-jaga, aku harus mencatat nomor plat mobilnya," batin Pak Satpam.
"Ella, ayo kita ke rumah sakit. Badanmu panas banget," kata Albert sambil memapah Ella yang sangat lemas. "Kami permisi dulu, Pak," ujar Albert.
"Ya, Dek," balas Pak Satpam.
...🥀🥀🥀...
"Ella, kamu tadi makan apa di sekolah? Apa kepalamu pusing? Perutmu sakit nggak?" tanya Albert seraya memacu kendaraannya menuju ke rumah sakit terdekat.
"Jangan ke sana," gumam Ella yang terbaring lemah di kursinya.
__ADS_1
"Kamu bilang apa?" tanya Albert yang tidak bisa mendengar jelas ucapan Ella barusan.
"Jangan ke rumah sakit," ulang gadis itu.
"Tapi keadaanmu nggak baik-baik aja, La. Kita periksa sebentar lalu pulang, ya," ucap Albert dengan sabar.
Cekit! Albert mendadak menekan rem mobilnya. "Astaga, Ella. Kamu ngapain, sih?" Albert buru-buru memindahkan lengan kiri Ella yang melingkar di perutnya. Kepala gadis itu berada di sisi pahanya.
"Mhhh ..." Ella bergumam tak jelas. Napasnya terdengar memburu.
"La, kamu nggak apa-apa, kan? Ayo bertahan menjelang ke rumah sakit," kata Albert. "Nggak, bukan rumah sakit, kita ke klinik aja lah," ujar Albert yang merasa sangat panik. Pria itu kembali menginjak gas mobilnya.
Keadaan Ella semakin tidak karuan. Sementara rumah sakit terdekat berjarak sekitar lima belas menit perjalanan, jika tidak terkena macet. Sembari mengemudi dan mencari klinik, Albert meletakkan tangannya ke kening Ella, untuk mengukur suhu tubuh remaja wanita itu.
Grep! Ella tiba-tiba memintahkan tangan pria itu ke area sensitifnya. "Ella, apa-apaan kamu?" Albert yang terkejut dengan sikap Ella tersebut, buru-buru memindahkan telapak tangannya dari dada Ella yang membusung ke depan.
"Panas ... Badanku panas ..." gumam Ella berkali-kali. Kedua pahanya dia buka lebar. Untung saja dia memakai rok panjang, yang baru dibelikan Albert beberapa hari yang lalu. Jemari wanita itu kembali menjalar di tubuh Albert yang tengah mengemudi.
"Maaf, tadi Ayah buru-buru. Mobil Ayah terjebak di tengah tempat parkir, jadi terpaksa meminjam mobil salah satu anak buah," kata Albert seraya memindahkan tangan Ella yang semakin lasak. Bahkan benda di dalam celana pria itu mulai bereaksi.
"Sebenarnya Ella kenapa, sih? Dia nggak pernah bersikap kayak gini sebelumnya," gumam Albert tanpa berani menoleh ke arah sang putri yang terus mendesah dan gelisah.
"Uh, aku nggak tahan lagi," kata Ella. Denyutan di bagian intinya semakin kuat, membuat gerak tubuhnya tidak terkontrol lagi. Napasnya terasa berat. Gadis itu bahkan sudah tidak bisa diajak bicara lagi. Remaja SMS itu malah terlihat seperti orang mabuk karena minuman keras.
Glek! Albert menelan ludahnya, ketika Ella membuka satu per satu kancing seragamnya. Dadanya yang membusung, tampak terbungkus oleh bra dan kaos singletnya.
"Ella, cukup!" Albert memegang lengan kanan remaja wanita itu, agar menghentikan aktivitasnya.
Tinnn!!! "Woy, kalau jalan hati-hati, dong. Jangan oleng kanan kiri," seru pengendara yang berada di belakang mobil mereka.
"Astaga! Hampir saja," gumam Albert semakin panik. Dia lalu memutar kemudinya ke arah yang benar. Sementara Ella meneruskan aktivitasnya membuka kancing baju seragamnya.
__ADS_1
"Ella, kamu mau memancingku?" tegur Albert dengan nada tinggi.
"Panas, badanku panas," ucap Ella berkali-kali. Kedua tangannya meloloskan rok sekolahnya dari kedua pahanya. Saat ini gadis itu hanya mengenakan kaos singlet dan celana leging di bagian luarnya.
"Ini nggak bisa dibiarkan. Harus segera dituntaskan, agar keadaan Ella kembali stabil."
Albert mulai menyadari, jika yang dirasakan Ella bukanlah demam, melainkan meningkatnya kebutuhan biologis gadis itu. Pria itu pun membelokkan mobilnya ke halaman sebuah ruko yang sedang tutup. Dia lalu membuka jas dan kemejanya. Ayah tiri dari Ella itu juga membuka ikat pinggangnya.
"Apa yang kamu lakukan?" gumam Ella tak begitu jelas. Tangan gadis itu menghalau jemari Albert yang menyentuh kulitnya.
"Ini yang kamu mau, kan?" Albert buru-buru memasangkan kemeja putihnya di tubuh Ella, lalu melapisinya dengan jas miliknya. Terakhir, pria itu memasang kembali rok sekolah Ella, dan menyematkan ikat pinggang.
"Panas! Buka ini semua!" seru Ella marah. Kedua kakinya menghentak-hentak lantai mobil tersebut dengan keras.
"Duduk diam di situ! Nanti kamu bisa membuka semuanya setelah di kamar," ujar Albert dengan nada sangat tinggi.
Sikap Ella barusan memang sangat menggoda iman. Tetapi pria itu masih mengerti dan mematuhi norma yang ada. Bagaimana pun juga, dia adalah ayah dari remaja wanita di sebelahnya tersebut.
"Turunkan aku dari sini! Aku nggak mau ke rumah sakit, aku juga nggak mau pulang ke rumah. Kamu jahat mengurungku dengan baju tebal ini," racau Ella sambil berusaha membuka pintu mobil yang terkunci.
"Astaga!" Albert merasa semakin frustrasi. Dia lalu memasang sabuk pengaman gadia itu.
Cup! Bibir mungil Ella yang lembut, bertemu dengan bibir pria tampan itu. Kedua tangan Ella melingkar di bahu pria, yang kini hanya mengenakan baju kaos putih. Keadaan Ella yang tadi gelisah, berangsur tenang.
Deg! Deg! Deg! Dada Albert berdegup dua kali lebih cepat, saat mencium aroma manis dari gadis itu. Grep! Albert pun menjauhkan tubuh wanita cantik itu darinya, hingga kepala Ella terantuk ke sandaran kursi.
"La, meskipun saat ini kamu lagi nggak sadarkan diri, seharusnya kamu jangan melakukan itu," bisik Albert dengan lembut.
"Kenapa?" tanya Ella dengan napas memburu. Rambutnya yang biasa tertata rapi, terlihat acak-acakan.
"Karena sampai kapan pun, hubungan kita terlarang," jelas Albert.
__ADS_1
(Bersambung)