
Ella mengunyah donat berbalut selai blueberry itu dengan rakus. Dia menghabiskan donat ukuran besar tersebut hanya dengan empat kali gigitan. Matanya menatap ke layar HP dengan tajam, seakan-akan ingin memecahkan benda tersebut dengan sinar matanya yang menusuk.
"Duh, mama kok nggak ada komentar apa-apa, sih?" gerutu Ella setelah menelan bagian terakhir donatnya. Foto yang dia kirim kepada Ghina sudah bertanda ceklist dua berwarna biru. Artinya Ghina sudah membaca pesan tersebut.
"Apa fotonya nggak jelas, ya? Atau Mama emang udah tahu, kalau Al pergi sama cewek ganjen itu? Cih, siapa sih dia?" Ella terus menggerutu tanpa melepaskan pandangannya dari HP.
"La, masih mau nambah nggak donatnya? Tinggal satu, nih," tanya Naya.
"Jadi kemarin Albert nggak ngomong apa-apa sama kalian, selain ngasih tahu namanya dan nanyain aku?" tanya Ella. Dia mengabaikan pertanyaan Naya barusan.
"Iya. Dia cuma tanyain kamu ke mana setiap pulang sekolah," sahut Naya sembari membagi donat terakhir menjadi tiga bagian. Dia lalu membagi rata cemilan manis tersebut pada kedua temannya.
"Terus, kalian nggak ngomong apa-apa tentang aku, kan?" ujar Ella.
"Emangnya apa yang harus kami laporkan? Kamu di sekolah nggak bandel, nggak terlalu populer, nggak punya cowok juga. Nggak ada gosip yang menarik untuk diceritain, La," kata Maira.
"Sialan, kalian. Sempat-sempatnya membuka aibku kayak gini," balas Ella sambil tertawa.
"Tapi kami masih penasaran, sebenarnya dia itu siapa sih? Pacar kamu? Sepupu? Kayaknya dia tajir banget. Mobilnya aja cuma ada beberapa di Indonesia." Selidik Naya.
"Dia itu pemilik restoran tempat mamaku kerja. Singkatnya, dia itu majikan kami," ungkap Ella.
__ADS_1
"Serius? Majikan kok baik banget? Pasti ada udang di balik batu, tuh," celetuk Naya.
"Emang! Kayaknya dia mau jadiin aku dan mamaku babu dia selamanya," ujar Ella.
"Dih, suuzon aja kamu," ujar Maira.
"Lah, emangnya apa lagi? Kalau dijadiin pacar udah pasti nggak mungkin. Kalian lihat kan tadi, cewek yang duduk sama dia mirip sama Miss Universe," kata Ella.
Maira dan Naya tidak bisa membantah. Cewek yang sedang memgobrol bersama Albert emang cantik banget. Parasnya anggun dan feminim. Beda jauh sama Ella yang rada tomboy dan jarang make up. Dari berbagai sisi, dia memang lebih cocok untuk mendampingi Albert, dibandingkan Ella yang masih bocah.
"Udah, ah. Balik, yuk. Dah malam, nih. Tadi papaku cuma kasih izin sampe jam tujuh malam aja," kata Naya.
Mendadak pandangan Ella tertuju pada sepasang muda-mudi yang berjalan tak jauh dari mereka, hendak menuju eskalator. Pria itu hanya memandang Ella dengan sekilas, lalu kembali mengobrol dengan wanita di sampingnya.
"Hah! Kamu bilang apa?" tanya Naya.
"Aku mau ke toilet bentar. Temenin, yuk." Ella berusaha mengalihkan pandangan kedua temannya dari eskalator.
"Ayo, deh. Aku juga mau cuci tangan," sahut Naya.
Sementara Maira memutar bola matanya kr arah eskalator. Dia bisa melihat dengan jelas, punggung sepasang muda-mudi yang mereka lihat di restoran tadi. Maira sepertinya bisa menebak, apa yang dipikirkan Ella saat ini.
__ADS_1
...🥀🥀🥀...
"Al, kamu bawa teman cewek lagi ke sini?" tanya Ghina saat mencuci gelas bekas teman-teman Albert barusan.
"Iya, aku lagi males ketemuan di luar. Jadi mereka ku ajak ke sini aja. Emangnya kenapa?" tanya Albert.
"Nggak apa-apa, sih." Ghina menahan dirinya agar tidak terlihat cemburu. Toh, kemarin dia sendiri yang ingin menyudahi hubungan ini.
Sejak mereka berbicara beberapa hari yang lalu, Albert selalu mengajak teman-temannya ke rumah. Beberapa di antara mereka adalah perempuan cantik dengan karir cemerlang. Ghina tahu, jika Albert sengaja melakukannya. Ghina juga sudah melihat foto yang dikirimkan Ella tadi malam. Tapi janda muda itu tidak bisa berbuat apa-apa, karena saat ini mereka memang belum memiliki hubungan resmi.
"Oh iya, nanti kalau mereka datang, tolong bikinkan risotto, ya. Clara dan Noura suka banget makan itu," ujar Albert.
"Baik, nanti aku siapkan," ucap Ghina. Dia kembali pada posisinya semula, yakni sebagai pembantu di rumah ini.
"Ghina, ada satu hal lagi yang mau ku omongin sama kamu." Albert kembali ke dapur dan memanggil Ghina.
"Soal apa?" tanya wanita itu dengan jantung berdebar. "Apakah hubungan kami beneran akan berakhir hari ini?" pikir Ghina cemas.
"Besok kamu libur aja. Aku ada reuni sama teman-teman SMA aku. Takutnya kamu bakalan nggak nyaman dan kecapekan. Lagian besok kan pas hari minggu," kata Albert dengan wajah serius.
"Terus rumah ini?" Ghina merasa tersinggung, karena Albert memilih meliburkan dirinya, ketika dia mengadakan reuni. Padahal sebelumnya, pria itu tidak pernah malu memperkenalkan Ghina ssbagai calon pendampingnya.
__ADS_1
"Kamu nggak usah khawatirkan soal beres-beres rumah ini. Besok aku menyewa koki dan beberapa maid untuk membantu di sini. Kamu bisa istirahat sepuasnya," ucap Albert dengan tegas.
(Bersambung)