Me Vs Berondong Mommy

Me Vs Berondong Mommy
Bab 36. Masakan Kesukaan Dia


__ADS_3

"Sayang, baik-baik aja kan, Nak?" Ghina menyambut putrinya dengan pelukan.Wajahnya masih diliputi rasa khawatir. Sejak tadi, wanita itu berdiri di depan pintu rumahnya, menunggu sang buah hati pulang.


"Aku baik-baik aja kok, Ma. Cuma butuh istirahat," ujar Ella sambil melepas sepatunya.


"Syukurlah. Mama cemas banget tadi. Sekarang ganti seragammu. Setelah itu kita makan malam," kata Ghina.


"Nih, aku beli nasi goreng kambing untuk kalian berdua. Albert mengangkat sebuah kantong plastik yang mengeluarkan bau sangat harum.


"Lho, kok cuma dua? Untuk kamu?" tanya Ella. Ghina menatap Ella cukup tajam, ketika mendengar putrinya memanggil Albert hanya dengan sebutan nama.


"Aku makan masakan Ghina aja. Lagi pengen masakan rumahan," ujar Albert sambil melempar senyum manisnya ke arah Ghina.


"Kamu mau makan apa? Di sini cuma ada telur dan sarden, loh," ujar Ghina pada Albert.


"Ya udah, telur dadar juga nggak apa-apa," sahut pria itu.


"Ayo, La. Jangan sampai tumbang lagi," ajak Ghina.


"A-aku makan di kamar aja, Ma. Pengen cepat istirahat." Ella merebut sebungkus nasi goreng dari tangan Albert. Mereka saling kontak mata sebentar. Sepintas, Albert bisa merasakan perubahan mood gadis itu.


"Oh, yaudah gapapa. Tapi di makan ya, Nak. Jangan sakit lagi," kata Ghina.

__ADS_1


"Iya, Ma," jawab Ella tanpa menoleh. Dia langsung melangkahkan kakinya ke kamar.


Blam! Ella bersandar di balik pintu. Hatinya nggak kuat mendengar Albert ingin makan masakan mamanya. Padahal itu adalah hal yang wajar. Sehari-hari, Ghina juga memasak di rumah Albert dan melakukan pekerjaan rumah lainnya. Tetapi rasanya beda banget, ketika pria itu ingin mencicipi masakan Ghina di rumah mereka.


"Masuk ke kamar bukanlah pilihan yang paling benar. Tapi ini jauh lebih baik untuk kesehatan hatiku."


"Kalau mereka jadi menikah, aku harus lebih kuat menyiapkan hati ini."


Kriukk... Perutnya mulai berbunyi. Ella menatap nasi goreng yang dibeli Albert tadi. "Kok jadi nggak selera ya makannya? Padahal aku lapar."


"Ah, tadi pagi kan aku ada masak ikan teri dan tahu tempe. Apa Albert juga akan mencoba masakanku itu?" pikir Ella penasaran. Dia yakin, lauk yang dia masak tadi pagi masih bersisa banyak, karena dia dan Ghina tidak makan siang di rumah.


"Loh, ini ada sambal ikan teri? Kata kamu cuma ada telur dan sarden?" Samar-samar terdengar Albert berbicara dengan Ghina di dapur. Ella pun menajamkan pendengarannya.


"Oh, nggak deh. Aku kan lagi kepengen masakanmu. Bikin telur dadar aja kayak rencana tadi," pinta Albert.


Dada Ella bergemuruh mendengar percakapan mereka di dapur. Rasa cemburu Ella meningkat dua kali lipat, ketika Albert lebih memilih masakan mamanya.


"Cih, padahal masakanku enak juga, loh," gerutu gadis itu dalam hati.


...🥀🥀🥀...

__ADS_1


"Apa saja kata dokter tadi, Al?Untung saja supir angkotnya baik, ya. Kalau nggak bisa bahaya. Ella bisa diapa-apain sama mereka," ujar Ghina sembari memasak telur dadar.


"Tadi aku nggak ketemu dokternya. Cuma kata perawatnya, tekanan darah dan gula darahnya sangat rendah. Mungkin karena sering telat makan. Daya tahan tubuhnya juga sangat menurun," jelas Albert.


"Astaga! Rasanya aku semakin gagal jadi seorang ibu. Aku nggak tahu dia sakit sampai seperti ini," ujar Ghina.


"Jangan selalu menyalahkan dirimu. Mungkin dia memang lagi banyak kegiatan di sekolah. Maklum, namanya juga anak kelas tiga SMA." Hibur Albert.


"Yah, mungkin juga. Tapi aku pun juga nggak tahu seperti apa pergaulannya sekarang? Aku takut dia salah memilih teman," kata Ghina. Dia meletakkan telur dadar yang masih panas di atas meja. Bau harum tercium ke seluruh ruangan.


Albert termenung cukup lama. Gurat wajahnya tampak sedih. "Ya, kamu benar, salah memilih teman bisa merusak diri sendiri, seperti aku dulu," gumam Albert.


"Kamu waktu dulu? Emangnya dulu kamu kenapa?" tanya Ghina penasaran.


"Ya, gak jauh berbeda dari Ella saat ini. Tapi aku nggak sampai merokok, sih. Tadi aku bisa mencium bau rokok dari pakaiannya. Tapi bukan berarti dia merokok, kan?" Albert merendahkan suaranya agar tidak terdengar Ella.


"Tapi tetap aja aku cemas," ujar Ghina.


"Ella sudah remaja, Ghina. Dia sudah mempunyai dunianya sendiri. Nantilah, secara perlahan aku mendekati dan bicara padanya. Kalau kita langsung menuduhnya, dia akan memberontak," kata Albert.


Sementara itu di dalam kamar. "Kenapa mereka ngobrolnya bisik-bisik, sih? Aku kan jadi nggak dengar," gerutu Ella yang menempelkan telinganya di belakang pintu. Wangi telur dadar membuat perutnya semakin meronta-ronta meminta diisi.

__ADS_1


"Tapi aku merasa, mama sangat bergantung sama Al. Apa ini artinya Al beneran jadi papa baru aku?" batin Ella dengan sedih. Meski perutnya lapar, selera makannya benar-benar hilang. Ella merasa sangat kesepian dan hampa.


(Bersambung)


__ADS_2