
“Kayaknya aku tahu, ke mana arah pembicaraan Bibi?” ujar Ella sedikit merajuk. “Apa nggak ada seorang pun yang memihak kepadaku?” gumamnya dalam hati.
“Ini makan dulu,” ujar Sri ketika pesanan mereka datang.
“Aku nggak nafsu, Bi,” ujar Ella.
Sri memandang keponakannya dengan perasaan iba. Tubuhnya terlihat kurus. Pipinya cekung. Keadaannya tidak jauh berbeda dengan adik iparnya tadi. “Apa mereka berdua makan teratur?” pikirnya dalam hati.
“Nak, Bibi nggak memihak pada siapa pun. Bibi cuma menjelaskan keadaan mama kamu aja, yang mungkin nggak pernah dia ceritakan padamu,” kata Sri pada keponakannya. “Selain memikirkan biaya untuk bayar hutang, mamamu juga sering diganggu oleh para penagih hutang itu,” imbuhnya.
“Diganggu?” ulang Ella. “Memangnya kalau meminjam di bank juga dikerjar-kejar kayak gitu, ya?” lanjut remaja cantik itu.
“Mama kamu nggak cuma meminjam uang di bank. Dia menggadaikan surat tanah yang sekarang kalian tempati, untuk mengobati papa kamu. Mungkin terdengar gegabah, tetapi itu adalah keputusan terbaik untuk kesembuhan papamu. Yah, walau pun takdir tetap berbeda,” ucap Sri sambil mengaduk mi ayam dalam mangkoknya.
“Maksud Bibi rumah kami yang sekarang? Itu kan satu-satunya peninggalan papa untuk kami?” protes Ella.
__ADS_1
“Iya, Nak. Itulah saat ini sedang dipertahankan mamamu. Albert juga banyak membantu mama kamu menghadapi para debt collector itu.”
Ella termenung mendengar kalimat bibinya. Tidak disangka, ternyata beban mama jauh lebih besar dari yang dia pikirkan selama ini. Tapi sekali lagi, kenapa harus Albert calon ayah tirinya? Apa nggak ada pria lain yang umurnya lebih pantas?
“Mama kamu juga sering digosipkan orang, karena seringkali bekerja sampai malam. Kamu tahu kan maksud Bibi? Mungkin pernikahan adalah pilihan yang terbaik untuk mama kamu,” nasehat Sri.
“Bi, aku nggak melarang mama untuk menikah. Tapi asal jangan sama Albert,” ujar Ella.
“Kenapa? Karena dia lebih muda dari mama kamu?” tanya Sri. “Yang penting sikap dan rasa tanggung jawabnya terhadap keluarga, kan?”
“Kalau selisih usia mereka hanya tiga atau empat tahun, mungkin aku masih bisa menerima. Tap apa Bibi tahu? Aku dan Albert hanya selisih delapan tahun. Bibi pasti paham kan, gimana canggungnya aku nanti kalau mama menikah?” jelas Ella mengungkapkan keluh kesahnya selama ini.
“Masih banyak orang yang lebih pantas jadi suami mama, Bi. Kenapa harus dia yang dipilih mama?” ucap Ella lagi. Wajahnya terlihat sangat kusut dan nggak bersemangat.
“Apa kamu menaruh rasa terhadap Albert?” tanya Sri pada keponakannya.
__ADS_1
Ella mengalihkan pandangannya dari Sri lalu menjawab, “Aku nggak sempat memikirkan hal seperti itu, Bi. Kegiatan sekolahku aja udah menumpuk,” ucapnya lirih.
Sri merasa ada kebohongan kecil di dalam kalimat Ella. Tetapi dia tidak mau membahasnya lebih dalam lagi. Ella bisa semakin terluka.
“Nak, mama kamu hanya tamatan SMP, lalu bekerja di luar kota demi Tantemu, Galena. Di usianya yang masih sangat muda, dia memikul beban yang sangat berat.” Sri menjeda kalimatnya untuk mengunyah bakso dan ayam. “Ketika melahirkan kamu, usianya baru tujuh belas tahun. Lalu suaminya meninggal begitu cepat. Makanya …”
“Mama berhak bahagia, kan?” Ella memotong kalimat bibinya. “Semua orang mengatakan itu padaku, Bi. AKu udah hapal mendengarnya. Tapia pa ada seorang pun yang memikirkan perasaan gadis remaja yang rapuh ini?” ucap Ella disela isak tangisnya.
Sri mengusap rambut Ella yang panjang dan halus. “Kami semua sayang padamu, Nak,” bisik Sri.
“Karena kami miskin, lantas nggak masalah mama menikah dengan berondong kaya yang jadi majikannya?” keluh Ella lagi.
“Bukan begitu, Nak.”
“Bi, kebahagiaan itu nggak cuma datang dari satu orang aja, kan? Aku akan segera lulus, lalu kulaih sambil kerja untuk membantu mama,” tekad Ella di depan bibinya.
__ADS_1
“Bibi doakan semoga impianmu itu tercapai, ya. Tapi cobalah diskusikan hal ini lagi bersama mama kamu. Bibi yakin kamu udah dewasa untuk menyikapi ini semua,” ujar Sri sambil mengusap air mata Ella yang mengalir deras.
(Bersambung)