
Satu bulan kemudian, Ella mulai menjalani hari-hari perkuliahannya seperti mahasiswa lain. Tugas demi tugas mulai mengisi dan menemani hari-harinya. Dia juga jadi jarang sekali bertemu dengan Maira dan Naya, yang berbeda jurusan dengannya.
Sore itu sepulang kuliah. "Ethan!" Ella melihat seorang pria yang berjalan di antara para mahasiswa lainnya.
"Oh, hai Ella. Udah pulang kuliah?" sapa pria itu.
"Ya, aku baru aja pulang kuliah," kata Ella.
"Dijemput sama temanmu waktu itu lagi?" tanya Ethan.
"Maksudmu cowok itu?" Ella balik bertanya. Ethan mengangguk. "Itu juga yang mau aku omongin sama kamu. Tapi kita jarang banget ketemu. Dia bukan pacarku atau temanku," kata Ella.
"Tapi bodyguardmu?" sambung Ethan.
"Bukan juga. Dia itu Ayah tiriku," ujar Ella dengan cepat. Dia tidak mau kembali gagal menjelaskan hal itu pada Ethan untuk ketiga kalinya.
"Ayahmu?" kata Ethan.
"Iya, kamu pasti terkejut dan nggak percaya. Tapi dia beneran Ayah tiriku. Hm, papa kandungku udah meninggal sejak lama. Lalu mamaku menikah lagi tahun lalu," kata Ella menjelaskan.
"Oke, aku percaya, kok. Pantesan dia protect banget sama kamu, rupanya dia Ayahmu," kata Ethan cukup santai.
"Kamu nggak terkejut mendengar ceritaku?" tanya Ella dengan heran.
"Ya aku terkejut. Ayahmu muda banget. Tapi jadi masuk akal, kenapa dia kemarin jagain kamu banget. Kamu beruntung punya ayah kayak dia," ujar Ethan sangat dewasa.
"Hah? Kayaknya cuma kamu deh yang nggak kaget dengan ceritaku ini," gumam Ella masih nggak percaya.
__ADS_1
"Haha, kok gitu? Sebenarnya kamu nggak perlu ngejelasin itu semua kok. Aku nggak masalah. Siapa pun cowok itu, kita masoh bisa berteman baik, kan?" kata Ethan.
"Eh? Iya juga. Kenapa aku susah payah ngejelasin semuanya sama dia, ya? Untuk apa? Apa cuma aku sendiri yang suka sama dia? Lagian kami juga baru kenal beberapa hari," kata Ella dalam hati. Dia sedikit merasa malu.
"Kalau gitu aku duluan ya, La. Aku ada kuliah habis ini," kata Ethan.
"Oh, ya. Silakan," kata Ella.
Ethan yang tadi sudah berjalan beberapa langkah, kembali berbalik ke arah Ella. "Maaf, apa kamu keberatan kalau aku meminta kontakmu? Kita pasti sering ketemu, karena satu kampus," kata Ethan dengan ramah.
"Ya? Oh, boleh kok. Aku senang dapat teman baru," kata Ella lalu membagi nomor teleponnya. Drrt! Drrt! Tak lama kemudian ponsel Ella berdering.
"Itu nomor teleponku. Simpan, ya," kata Ethan sambil tersenyum manis. "Lalu titip salam untuk Ayahmu. Aku minta maaf, kalau aku membuatmu dan dia nggak nyaman," kata Ethan lagi.
"Eh, kami nggak masalah, kok. Ayahku emang kadang-kadang seperti itu," kata Ella. "Nanti akan kusampaikan salammu," sambungnya lagi.
"Duh, apa sih Nay? Cuma kakak kelas, kok," kata Ella.
"Oh, CUMA KAKAK KELAS?" Naya menekankan kalimat itu. "Enak dong, udah dekat sama kakak kelas. Kalo ada tugas bisa tanya sama dia," sambung Naya.
"Dia jurusan Ahli Gizi, Nay. Bukan Apoteker," jelas Ella.
"Hah, kok kalian bisa kenal? Hayoo ... aku jadi penasaran, nih," kata Naya.
"Nggak ada apa-apa, Nay. Kamu mengharapkan apa, sih? Lagian kami juga baru kenal." Ella mengulangi penjelasannya.
"La, kamu marah karena aku tanyain? Atau kamu sedih karena dia?" sikap Naya yang tadi hanya bercanda, berubah jadi serius.
__ADS_1
"Karena dia. Ternyata dia cuma anggep aku kenalannya. Haaah, selama ini aku sering banget nyindir Albert suka kepedean, rupanya aku sendiri juga sama," kata Ella.
"Kamu beneran suka sama cowok itu, La?" ujar Naya lagi.
"Aku nggak tahu, Nay. Tapi aku ngerasa sedih, karena cuma anggap aku kenalannya. Aneh, kan?" kata Ella.
"Nggak aneh, kok. Aku malah senang, kamu punya gebetan baru, setelah patah hati karena Om Albert," ujar Naya.
"Eh, aku nggak pernah patah hati karena dia, tuh," bantah Ella.
"La, walau pun dulu kamu nggak cerita, tapi kami tahu kok. Kamu sempat galau gara-gara ayah tirimu itu," ucap Naya.
"Apa kelihatan banget, ya?" kata Ella malu.
"Hm, gitu deh. Tapi kami maklum, kok. Ayahmu itu kan masih muda, cakep, pintar. Wajar aja kalau kamu suka. Mungkin kalau kami ada di posisimu, kami juga merasakan hal yang sama. Karena itu kami diam-diam mensupportmu," kata Naya.
"Uuuh, aku malu banget," kata Ella menutup wajahnya.
"Itu kan masa lalu. Sekarang kamu menyukai cowok itu, kan? Kalau dia adalah cowok baik dan masih single, aku sebagai sahabat bakal dukung yang terbaik untukmu. Aku yakin, Maira juga pasti berpikiran sama denganku," kata Naya.
"Makasih, bestie. Aku senang banget punya sahabat kayak kalian," ujar Ella. "Ngomong-ngomong Maira ke mana? Kok nggak muncul-muncul dari tadi?"
"Dia ada kuliah sore ini," kata Naya. Ketiga sahabat itu memang kuliah di universitas yang sama, tetapi di fakultas dan jurusan yang berbeda. "Btw, La. Nama cowok itu siapa, sih? Aku penasaran." Naya membujuk Ella untuk cerita.
"Aku gak mau ngomong. Kamu ember soalnya," kata Ella sambil tertawa.
(Bersambung)
__ADS_1