Me Vs Berondong Mommy

Me Vs Berondong Mommy
Bab 89. Hancur


__ADS_3

"Luna, kamu ngerasa bosen juga nggak sih?" Ella menempelkan dagunya ke lengan. Sinar matahari yang keemasan menerpa tubuhnya yang hanya mengenakan pakaian tipis.


"Ih Luna, kok diam sih? Kalo diam artinya iya tuh. Kamu tahu, nggak? Aku tuh bingung. Kenapa aku nggak bisa nangis dan marah. Padahal mama dan Albert pasti sudah membaca semua isi diaryku."


Ella melirik ke arah temannya yang putih itu dengan sebal. "Cih, Luna nggak asik. Gak bisa diajak ngobrol, dari tadi diam aja. Jangan nempel-nempel dong."


"Kata orang aku mirip sekali dengan mama. Apa iya? Tapi kenapa dari dulu aku lebih sering bertengkar dengan mama dari pada papa, ya?" Ella tetap curhat, meski teman bicaranya sejak tadi hanya diam saja.


"Meeeaoowww ..." Akhirnya teman curhat Ella mengeluarkan suaranya yang mahal dan imut itu. Hewan menggemaskan itu mengeong beberapa kali, dan menarik-narik sesuatu di belakang Ella.


"Kamu nyuruh aku sekolah? Hei, Luna. Aku tuh nggak bolos. Tapi emang hari ini aku nggak perlu datang, karena ada ujian ulang untuk anak-anak yang nilainya di bawah standar. Kamu ngerti, nggak?" Cerocos Ella.


"Mooowwww ..." Luna membulatkan matanya. Ekornya yang panjang berkibas-kibas di kaki Ella. Kucing berbulu putih itu lalu meletakkan kembali sepatu yang digigitnya.


"Kamu tahu nggak? Dulu aku juga punya kucing cantik. Tapi aku nggak setuju waktu papa memberinya nama Luna, karena mirip dengan temanku yang nakal. Tapi waktu SMA, aku baru tahu, ternyata Luna itu artinya bulan. Papa ingin kamu menemaniku setiap saat seperti bulan. Benar kan Luna?"


"Meeeooowww ..."


"Oh iya, selain bulan itu selalu ada untuk bumi, ternyata dia hanya memiliki satu wajah, lho. Karena bulan selalu menunjukkan sisi yang sama ke arah bumi."


"Meeeoowww ... Meeeoowww ..." Kali ini Luna mengeong dua kali, seakan mengerti ucapan Ella.


"Iya, Lun. Temanku Luna juga gitu. Dia memang nakal, tapi nggak pernah bermuka dua."


"Meeeooowww ..." Luna menggesekkan kepalanya ke lengan Ella.


"Maksudmu apa? Aku bukannya bermuka dua di depan mama dan Albert kemarin. Justru aku sekarang lagi bingung banget, kenapa perasaanku biasa aja setelah mama dan Albert membongkar rahasia kelamku? Malah kayaknya aku merasa lega, deh. Karena nggak ada yang harus aku tutupi lagi."


Ella menumpahkan isi hatinya pada kucing yang kini berada dalam pangkuannya. Gadis itu tidak sadar, jika kini dia mulai beranjak dewasa. Pola pikirnya berubah. Dia tidak lagi merasa sedih dan hancur, seperti saat mamanya akan menikah dulu. Ella menjalani hidupnya lebih tenang, ketika dia mulai menghapuskan jejak cinta pertama dari dalam hatinya.


"Lun, kita main di halaman belakang aja, yuk. Sekalian cari bunga rosella dan menangkap belalang," ajak Ella pada sahabat berbulunya itu.


"Mrreeeaaaww!" Luna memberontak ketika Ella menangkap tubuhnya. Kukunya yang panjang menjulur keluar dari jari-jarinya.


"Dih, dasar kucing pemalas. Ayo gerak, biar badsnmh nggak buntal gitu," paksa Ella.

__ADS_1


Gluduk! Tiba-tiba langit yang cerah perlahan tertutup cumulonimbus yang berarak di langit. Angin bertiup cukup kencang membuat dedaunan menari-nari di udara.


"Oh, No...! Sepertinya aku salah. Kok tiba-tiba cuacanya berubah, sih?" gerutu Ella.


Ella pun membuat segelas teh hangat untuk menemaninya menikmati hujan.


Brak!!! Sebuah benturan keras tiba-tiba menghantam rumahnya. Ella bergegas melarikan diri ke tengah hujan untuk menyelamatkan diri.


...🥀🥀🥀...


"Kamu nggak apa-apa sayang?" Ghina setengah berlari dari mobil, tak sabar melihat putrinya. Albert mengikutinya dari belakang.


"Nggak apa-apa, Ma." Ella menjawab dengan santai.


"Mama kaget banget waktu Pak RT menelepon dan mengatakan rumah kita tertimpa pohon," ungkap Ghina.


"Yah, emang hancur dikit sih," jawab Ella sembari menunjuk sebagian rumahnya yang menjadi puing-puing.


"Itu bukan sedikit, sayang. Lihatlah, rumah kita tinggal puing, kecuali kamar kamu dan ruang tamu," ujar Ghina.


Sempat-sempatnya Ella berkelakar, di tengah masalah yang menimpanya. Tetapi memang benar, sih. Sebuah pohon kapuk yang dulu berdiri tegak di halaman rumah mereka, telah berusia lebih tua dari rumah yang mereka tempati itu. Batangnya yang tinggi dan besar, sering di anggap sebagai sarang makhluk halus karena terlihat sangat menyeramkan.


"Pokoknya untuk sementara kamu tinggal di rumah utama. Kemasi barang-barangmu sekarang," perintah Ghina.


"Iya, Ma." Ella tidak punya pilihan lain selain ikut mamanya. Rumahnya benar-benar rusak, tak bisa dihuni untuk sementara waktu.


"Aku boleh bawa Luna?" Ella menggendong kucing kesayangannya.


"Boleh. Kamu boleh bawa semua yang kamu perlukan," jawab Albert yang sejak tadi diam, dan memeriksa kerusakan rumah peninggalan mendiang suami Ghina tersebut.


"Miaaawww ..." Kucing berbulu putih itu mengeong, seakan-akan berterima kasih kepada Albert.


"Kamu akan tetap tinggal di sana sampai rumah ini selesai renovasi," sambung Albert beberapa saat kemudian.


Ghina menyikut tangan suaminya tanda tidak setuju. Tentu saja wanita muda itu ingin tinggal selamanya bersama sang putri. Sementara Albert hanya mengedipkan mata pada sang istri untuk tidak banyak protes.

__ADS_1


...🥀🥀🥀...


"Sayang, aku bersyukur banget rumah itu rusak," gumam Ghina. Wanita itu memunguti peralatan dapur yang berserakan di balik puing bangunan.


"Lho kenapa? Itu kan rumah peninggalan mendiang papa Ella?" ujar Albert bingung dengan isi kalimat sang istri.


"Iya bersyukur banget. Karena kalau rumah itu nggak rusak, mungkin Ella nggak bakalan mau tinggal bareng kita," balas Ghina.


"Astaga! Pinter banget kamu mengambil hikmah dari masalah ini?" ujar Albert entah menginyindir atau memuji.


"Ehem! Mama jangan pura-pura lupa deh kalo aku ada di belakang Mama."


Ghina tersentak kaget. "Loh, Mama pikir kamu lagi berkemas?" ujarnya.


"Emang iya. Nih aku lagi ngumpulin baju seragam." Ella mengangkat seragam pramukanya tinggi-tinggi. "Mama lupa kalau dinding rumah kita udah nggak ada? Aku jadi bisa dengar semuanya dengan jelas," lanjutnya lagi.


"Ya Mama tuh khawatir banget sama kamu. Untung aja tadi para tetangga langsung membantu. Semua barang-barang penting sempat di selamatkan," jelas Ghina sambil memancarkan raut wajah sedih dan khawatir.


"Kami bersyukur banget kamu nggak kenapa-kenapa. Kalau kejadiannya malam hari pas orang lagi pada tidur gimana?" ujar Albert menambahkan.


Ella membentuk garis melengkung ke atas di wajahnya. Giginya yang putih dan rapi tampak nengintip sedikit. Pipinya yang tirus terlihat memerah.


"Kamu dimarahin kok malah senyum-senyum, sih?" kata Ghina.


"Nggak apa-apa. Berarti mama udah kembali normal. Nggak kayak kemarin diam dan murung terus," kata Ella.


"Maksud kamu mama emang hobi marah-marah gitu?" protes Ghina.


"Aku nggak bilang gitu lho, Ma. Aku cuma nggak lihat kalau mama nggak sedih lagi. Tapi emang bener, sih. Mama tuh suka marah-marah. Kenapa, ya?" Ghina memutar bola matanya dan menautkan kedua alisnya.


"Ya menurut kamu kenapa?" Ghina menaikkan oktaf suaranya, tetapi raut wajahnya terlihat bahagia.


"Udahlah, kalian berdua itu sama aja. Sama-sama cengeng, sama-sama bawel, sama-sama suka ngomel," celetuk Albert.


"Ngomong apa barusan?" Ella dan Ghina kompak berkecak pinggang di hadapan Albert. Nyali pria tampan itu langsung nyiut diserang dua wanita bersamaan.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2