Me Vs Berondong Mommy

Me Vs Berondong Mommy
Bab 94. Nggak di Sini Lagi


__ADS_3

"Surya, Anggit, kalian ada lihat Ella, nggak?" tanya Daniel waktu jam istirahat.


"Itu dia, yang lagi senderan tiang," tunjuk Surya.


"Yang mana?" Mata Daniel mencari-cari Ella di antara anak perempuan kelas IPA.


"Itu loh, yang rambut panjang senderan tiang membelakangi kita," kata Daniel.


"Hah? Itu Ella?" Mata Daniel terbelalak melihat gadis manis dengan penampilan baru tersebut. "Wakaka, Ella. Lu abis dapat hidayah, ya? Tumben tampil beda? Sampe pangling Gue," lanjut pria itu.


"Yeeee, diem Lu," sahut Ella dengan jutek.


"Hei, lihat sini dulu, dong. Jutek amat mukanya? Tuh baju abis ketumpahan cairan pemutih, ya? Kinclong amat?" ledek Daniel lagi.


"Bisa diem, nggak?" kata Ella dengan garang.


"Tapi sebenarnya Lu cantik kayak gini. Lebih anggun aja gitu. Nggak bisa blangsakan lagi, wakaka," kata Daniel.


"Lu muji Gue apa ngejek Gue, sih? Gara-gara babeh Gue, nih," gerutu Ella.


"Napa babeh Lu?" tanya Daniel.


"Dia bilang baju Gue kependekan, jadi dibeliin baju baru, deh," ungkap Ella.


"Loh, ya bagus dong. Kan jadinya lebih tertutup. Itu artinya babeh Lu jagain anak gadisnya," kata Daniel


"Iya, sih. Tapi.Gue kan malu. Gue doang yang pake baju baru pas mau tamat gini," kata Ella.


"Tapi wajah Lu masih kayak anak kelas satu, kok," balas Daniel.


"Cih, gombal. Btw Lu ngapain cariin Gue?" tanya Ella.


"Ah hampir aja lupa. Lu nanti nggak perlu kerja di warnet lagi," kata Daniel.


"Kenapa? Hari ini tutup?" tanya Ella.


"Buka, kok. Tapi mulai hari ini Papaku nggak bolehin kita kerja di warnet lagi karena udah kelas tiga. Jadi udah ada pegawai baru yang gantiin," jelas Daniel.


"Jadi kamu pecat aku, nih?" ujar Ella sambil tertawa. "Aku jadi kehilangan basecamp, nih," kata Ella lagi.


"Gak gitu, La. Ini perintah Papa. Mana berani Gue pecat pemilik restoran Jepang. Duit Lu lebih banyak dari gaji yang dari Gue," kata Daniel. "Eh, tapi denger-denger, katanya Bu Ovy cari pegawai baru, deh, untuk di toko bukunya," sambung pria itu.

__ADS_1


...🥀🥀🥀...


"Permisi. Ella ada nggak?"


"Ella siapa, ya?" tanya seorang pria yang duduk di meja kasir.


"Ella yang kerja sebagai kasir di sini," jelas Albert.


"Maaf, Bang. Tapi sekarang saya yang kerja di sini. Saya nggak kenal Ella," jawab pria itu lagi.


"Om Albert," seorang pemuda memanggil Albert dari belakang. "Om pasti cari Ella, ya? Ella udah nggak kerja di sini lagi," jawab Daniel.


"Loh, sejak kapan?" tanya Albert.


"Baru aja hari ini. Aku sama Ella nggak dibolehin nongkrong di warnet lagi sama Papa, karena udah kelas tiga. Tapi gajinya udah di bayar lunas, kok," ujar Daniel.


"Oh, gitu? Bagus deh. Kalian jadi lebih fokus belajar," ujar Albert. "Eh, tapi kamu tahu nggak Ella ke mana? Dari tadi Om telepon nggak diangkat," sambung Albert lagi.


"Kalo nggak salah dengar sih, katanya dia mau belajar kelompok di rumah temannya," ucap Daniel.


"Kamu tahu di mana rumahnya?" tanya Albert.


Warga perumahan lestari terperangah, melihat sebuah mobil mewah memasuki gang perumahan mereka yang cukup sempit. Beberapa jalan berlubang, membuat mobil mewah itu sesekali berguncang kuat. Anak-anak kecil berlari-lari mengejar mobil sport tersebut. Tepat setelah belokan, pria itu melihat beberapa anak perempuan berseragam SMA, yang duduk di bawah pohon mangga.


"Ah, itu dia," gumam Albert memperlambat laju kendaraannya. Namun sesaat kemudian kening Albert berkerut. Dia tidak melihat Ella di antara teman-temannya.


"Permisi," sapa pria itu setelah memarkir mobilnya di pinggir jalan.


"Om Albert? Ada apa? Tumben ke sini?" tanya Naya sang tuan rumah.


"Om?" Albert bingung dengan panggilan baru dari bocah itu. Selama ini mereka memanggilnya dengan sebutan 'kakak'.


"I-iya, seharusnya begitu, kan? Om kan ayahnya Ella. Maaf dulu kami bersikap lancang," jelas Naya.


"Astaga, jadi Ella udah cerita?" Wajah Albert tampak sumringah. Entah kenapa Albert merasa senang mendengarnya. "Ah, apa Ella ada di sini?" tanya Albert kemudian.


"Tadi sih dia di sini belajar bareng kami. Tapi dia baru aja pergi ke simpang sana mau pulang," kata Naya menunjuk ke arah minimarket dekat persimpangan, disertai anggukan kepala dari Maira dan Imelda.


"Gitu, ya? Terima kasih ..."


"Naya, namaku Naya," jawab gadis itu bersemangat.

__ADS_1


"Terima kasih, Naya," ulang Albert sambil melemparkan senyum manisnya. Dia lalu bergegas ke mobil untuk mengejar Ella.


"Om, Om, boleh fotoin kami didekat mobil, nggak? Mobilnya keren, kayak di film transformer," pinta para bocah yang mengerubungi mobil Albert.


"Ya udah, sini HP-nya. Tapi fotonya rame-rame, ya. Om lagi buru-buru, ujar Albert dengan ramah.


"Enak banget ya, punya bokap cakep gitu. Diperhatiin penampilannya, di bella waktu ada yang membully, terus dianter jemput suka nganterin bekal ke sekolah juga," gumam Naya sambil senyum-senyum sendiri.


"Kenapa? Lu masih naksir sama ayah barunya Ella?" celetuk Maira dengan nada menyindir.


"Heee? Ya nggak, lah. Kecuali kalau dia masih buka lowongan untuk calon istri baru," sahut Naya sambil cengengesan.


"Gila aja, Lu. Dia kan udah punya istri yang lebih cantik dari pada Lu. Lagian anaknya seumuran Lu," ujar Imelda.


"Ya nggak apa-apa, kali. Coba aja kalian bayangin, kalian bangun tidur terus lihat cowok secakep Cha Eun Woo di sebelah kalian? Pasti tiap hari berasa pengantin baru," kata Naya.


"Halu Lu ketinggian, Nay. Cha Eun Woo sih terlalu muda. Park Go Bum lah, cowok hot udah mature," timpal Imelda.


"Cha Eun Woo, lah. Om Albert kan baru dua puluh lima umurnya," bantah Naya.


"Halah, sama aja kalian berdua. Meni gelo," kata Maira. "Dari pada mencalonkan jadi istri, mendingan kalian mencalonkan jadi anak aja, biar dididik sama dia jadi anak baik kayak Ella," sambung Maira.


*Meni gelo: gak waras.


Sementara itu di persimpangan, gak jauh dari rumah Naya. Ella berdiri kebingungan di samping sebuah sepeda motor.


"Dek, udah belum? Kok nggak naik-naik?" tanya supir ojek online berseragam hijau tersebut.


"U-udah pake helm, kok," ujar Ella.


"Ya terus nungguin apa lagi?" tanya supir ojek tersebut.


"I-ini gimana naiknya?" tanya Ella.


Ella memegang jok belakang sepeda motor viksion itu dengan bingung. Rok nya yang panjang, membuatnya kesulitan untuk duduk menghadap ke depan seperti biasa. Tetapi jok belakang yang tinggi dan miring, juga membuatnya kesulitan untuk duduk menyamping.


"Baru kali ini aku lihat ada ojek pake motor beginian? Bikin susah aja," gerutu Ella.


"Nah, susah kan? Makanya pulang naik go mobil aja," ujar seorang pria di belakang Ella.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2