
"Ahhh ... Lega banget rasanya ujian udah selesai," Ella merentangkan kedua tangannya, lalu menghirup udara dalam-dalam.
"Yeee, kalau kamu sih enak nilai ujian mudah pasti bagus. Kalau kayak gini sih masih ketar-ketir," ujar Naya.
"Iya tuh bener, aku juga ragu kemarin waktu ujian fisika dan biologi," timpal Imelda.
"Kalau aku sih ujian bahasa Indonesia. Pilihan jawabannya mirip-mirip semua, jadi nggak tahu deh mana yang paling benar," imbuh Maira pula.
"Optimis dong, guys. Kita akan sebelum hujan selalu belajar bersama," kata Ella menyemangati teman-temannya.
"Iya sih belajar kelompok kemarin memang sangat membantu. Lagi waktu diajarin ayahmu," kata Naya.
"Ehem! Kamu tuh nangkap pelajarannya karena penjelasannya lebih mudah dipahami, atau karena gurunya cakep?" sindir Imelda.
"Karena penjelasannya, dong. Aku udah tobat kok dari calon istri kedua tuan Albert," jawab saya sambil tertawa kecil.
"Rencananya liburan Kalian mau kemana, guys?" tanya Maira.
"Kalau aku sih kayaknya bantu-bantu di toko papaku. Sambil belajar untuk persiapan ujian masuk universitas," sahut Imelda.
"Kalau aku kayaknya ikut les khusus deh, guys. Karena aku nggak yakin bisa lulus ujian masuk universitas, kalau nggak belajar dengan serius," ucap Naya.
"Wah, ini dia yang aku suka dari Naya pantang menyerah. Semangat bestie, kamu pasti bisa," kata Imelda Ella dan Maira.
"Guys, aku udah dijemput tuh. Aku pulang duluan ya," ucapan Allah ketika melihat mobil putih memasuki halaman parkir sekolah.
"See you next time," ucap ketiga teman Ella sambil melambaikan tangan.
"Astaga!" EIla terkejut, ketika membuka pintu mobil.
Seorang pria tersenyum tipis padanya. "Kenapa sih, kamu nengok aku kayak nengok hantu?" tanya pria yang mengenakan kemeja kotak-kotak itu. "Padahal kita udah sebulan lebih tinggal bareng," sambungnya lagi.
Ella duduk di sebelah kiri pria itu. "Mama ke mana?" tanya Ella sambil memasang sabuk pengaman.
"Mamamu pergi mengantar nenek check up ke rumah sakit," jawab Albert.
"Lalu Gabriel?" tanya Ella lagi.
Cekit! Albert menghentikan laju kendaraannya. "Kamu beneran nggak suka Ayah jemput?" tanya Albert.
__ADS_1
"Eh, bukan gitu maksudku. Apa pertanyaanku terlalu menyinggung, ya?" ucap Ella. "Maksudku, sejak aku sakit, kamu kan nggak pernah antar jemput aku," kata Ella.
"Oh, gitu? Aku mengerti. Tapi apa kamu masih bisa memanggilku ayah? Barusan kamu masih memanggilku dengan sebutan kamu," ujar Albert.
"Bisa, kok. Maaf atas kesalahanku barusan," kata Ella.
"Sebenarnya Gabriel lagi nggak ada tugas, kok. Tapi ayah sengaja menjemputmu, karena ingin membawa kamu ke suatu tempat," kata Albert dengan jujur.
"Eh ke mana?"
"Lihat aja nanti, kamu pasti bakalan suka," kata Albert seraya kembali menjalankan mobilnya.
...🥀🥀🥀...
"La, bangun. Kita udah sampai." Albert mengguncang tubuh putrinya.
"Huh? Aku ketiduran, ya? Ini di mana?" Ella menggeliatkan tubuhnya.
"Coba aja kamu lihat sendiri. Masa lupa?" Albert tertawa jahil.
"Astaga! Ini kan rumahku! Rupanya udah selesai direnovasi" Ela menjerit kegirangan.
"Hei, Nona. Ini kuncinya," seru Albert sambil menyerahkan sebuah kunci.
"Wah, bagus banget! Tapi masih ada bau cat sedikit," ujar Ella tak henti-hentinya memandang dengan takjub.
"Gimana, kamu suka nggak?" tanya Albert.
"Suka banget, dong. Mirip sama rumah kami, waktu aku masih kecil," jawab Ella.
Memang benar renovasi rumah itu tidak mengubah bentuk aslinya. Semua terlihat persis sama seperti dulu. Bahkan bahan bangunan yang masih menggunakan papan seperti rumah lama. Yang tampak berubah hanyalah lantainya. Dulu hanya semen biasa, tetapi sekarang sudah menggunakan keramik.
"Ini hadiah untukmu. Aku sengaja tidak mengubah bentuk aslinya. Kamu pasti merindukan kehadiran Ayah mu, kan?" ucap Albert.
Ella tidak bisa menyembunyikan rasa terkejut nya, ketika sang ayah mengucapkan kalimat itu. "Iya aku kangen banget sama papa. Terima kasih sudah menghadirkan kenangan masa kecilku melalui rumah ini," kata Ella dengan suara bergetar. Air matanya tumpah seketika.
"Sudah kubilang, kan? Aku sangat menyayangimu. Walaupun dengan cara yang berbeda. Kamu tetaplah gadis manis yang aku sayangi," ucap Albert.
Ella semakin tenggelam dalam isak tangisnya. Dia duduk di kursi rotan yang terletak di ruang tamu. Albert membiarkan gadis yang beranjak dewasa itu melepaskan kerinduan pada almarhum papanya.
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian, tangisan Ella mulai reda. Albert memberikan sebungkus tisu dari mobil, untuk gadis itu.
"Maaf, aku cengeng banget, ya?" kata Ella setelah mengusap wajahnya dengan tisu. Matanya terasa bengkak.
"Enggak, kok. Itu hal biasa. Ayah dulu juga sering kangen sama mendiang papa dan papa tiri," ucap Albert dengan wajah sayu.
"Boleh aku dengar ceritanya?" tanya Ella dengan sangat hati-hati.
Albert melirik ke arah Ella, sambil tersenyum manis. "Papa kandungku meninggal, waktu aku masih kelas dua SD. Sekian lama nenekmu membesarkan Ayah seorang diri. Lalu saat di SMP kelas tiga, Nenekmu meminta izin untuk menikah lagi," cerita Albert.
Ela menatap mata Albert, dengan kening berkerut. Baru kali ini dia melihat sisi yang berbeda dari pria itu.
"Kamu pasti penasaran, kapan papa tiriku meninggal?" kata Albert.
Ela buru-buru mengalihkan pandangannya dari wajah pria itu. "Kapan?" ujarnya.
"Waktu Ayah masih duduk di kelas tiga SMA. Walaupun nenekmu sempat terpuruk, tapi dia berusaha bangkit demi membesarkan ayah." Albert melanjutkan ceritanya.
Hati merasa terpukul mendengarnya. Kisahnya mirip sekali dengan dia dan sang mama. "Apakah hal itu yang membuat dia lebih memilih mama?" pikir Ella.
"Wah nggak terasa udah jam segini. Kamu pasti udah lapar, kan?" ucap Albert. Jarum jam di tangannya telah menunjukkan pukul setengah dua.
...🥀🥀🥀...
"Sayang, gimana rumahnya kamu suka nggak?" tanya Ghina ketika putrinya telah sampai di rumah.
"Aku suka banget. Makasih ya, hadiahnya. Tapi kenapa tadi mama nggak ikut sekalian?" kata Ella.
"Hadiah itu bukan dari Mama. Lagian, Mama takut menangis di depanmu, karena merindukan sosoknya," kata Ghina.
Ella percaya dengan kalimat dari Ghina. Karena kedua mata wanita itu tampak berkaca-kaca. "Itu hal biasa, Ma. Pasti adakalanya kita menangis, waktu merasa sangat rindu, kan?" ucap Ella sok bijak.
"Kayaknya Mama pernah dengar kata-kata itu, deh. Tapi di mana, ya?" Ghina mengingat-ingat.
Albert yang juga berada di sana hanya senyum-senyum mendengarnya. Dia tahu, Ella baru aja menyontek kalimatnya.
"Jadi kapan aku boleh pindah, Ma?" tanya Ella. Ghina langsung mendelik tajam.
(Bersambung)
__ADS_1
"Nangis banget waktu nulis episode ini 😭😭😭. Karena papa author juga udah nggak ada sejak lama. Kangen banget rasanya. Untuk kalian yang masih punya orang tua, sayangi mereka selalu, ya."