
"Al? Albert?"
Ting! Tong! Ghina mengetuk pintu rumah majikannya berkali-kali. Tidak seperti biasanya, rumah mewah bergaya modern itu tertutup rapat. Lampu-lampu taman masih menyala. Tirai jendela kamar sang majikan juga tampak tertutup.
"Ke mana sih, dia? Apa dia kesiangan karena pesta kemarin?" pikir Ghina bingung. Pembantu rumah tangga itu mengaduk-aduk tasnya, untuk mencari kunci cadangan. Wanita muda tersebut memang diberi kelonggaran akses masuk oleh sang majikan, untuk keadaan terdesak seperti ini.
"Di mana sih kuncinya? Apa ketinggalan di rumah?" Ghina tidak bisa menemukan kunci cadangan tersebut. Dia lalu mencoba menelepon Albert, tetapi dihubungkan dengan kotak suara.
"Aku masih boleh bekerja di sini, kan? Seingatku, Albert cuma memberiku libur sehari, deh." Ghina mulai cemas, karena tidak kunjung dibukakan pintu oleh sang majikan. "Tuan muda? Apa Anda di dalam?" Ghina berseru memanggil majikannya, dengan bahasa formal seperti dulu.
Deru mobil yang memasuki gerbang, membyat Ghina memutar tubuhnya ke belakang. Sebuah taksi berhenti tepat di halaman rumah yang beralaskan rumput hijau tersebut. Beberapa saat kemudian, Albert turun dari taksi dalam keadaan berantakan. Pria itu terlihat seperti baru bangun tidur.
"Loh, kamu udah datang? Maaf aku telat," ujar Albert sambil mengeluarkan sebuah kunci dari saku celana.
"Kamu dari mana? Baru pulang?" Ghina terkejut melihat Albert yang baru pulang jam segini. Pergi ke mana pria itu setelah berpesta? "Gimana pestanya kemarin? Pasti seru ya?" ujar Ghina sembari membuka pintu.
"Iya mungkin," jawab Albert sekenanya. Pria itu mengucek matanya yang masih bengkak.
__ADS_1
"Kok mungkin?" balas Ghina seraya membuat kerutan di keningnya.
"Kamu udah lihat postinganku, kan? Memangnya kamu lihat aku di dalam foto-foto itu?" tanya Albert.
Ghina membalikkan tubuhnya, "Kamu nggak ikut pesta? Terus kamu dari mana?" tanya Ghina. Dia baru menyadari keganjilan tersebut.
"Aku tidur di restoran," jawab Albert. Mereka berdua lalu memasuki rumah.
"Tidur di restoran?" Ghina mengulang kalimat terakhir Albert, sambil mengerutkan keningnya.
"Kemarin sepupuku meminjam rumah ini untuk reuni. Kebanyakan temannya perempuan," ujar Albert sambil menyisir rambutnya dengan jari. "Aku sengaja nggak ikut, untuk menjaga perasaan wanitaku," sambung pria itu.
"Cleopatra, perempuan cantik yang Ella temui di mall waktu itu. Pasti kamu udah melihat fotonya, kan? Dia ingin berkenalan denganmu, tapi waktunya belum tepat," jelas Albert.
Ghina mengangkat wajahnya, dan menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca. Sudah lebih dari enam tahun, hatinya tidak merasa hangat seperti ini. Sikap Albert yang selalu menjaga perasaannya, membuatnya merasa nyaman dan aman.
"Ghina, perasaan dan niatku padamu masih sama seperti dulu. Jadi apa jawabanmu? Maukah kamu menikah denganku?" tanya Albert.
__ADS_1
...🥀🥀🥀...
"La, ini beneran kamu kasih cuma-cuma? Ini masih bagus semua, loh. Emangnya kamu nggak pakai lagi?" tanya teman-teman sekelas Ella.
"Ambil aja sesuka hati kalian." Ella akhirnya mengubah pikirannya. Dia membawa barang-barang pemberian Albert ke sekolah untuk dibagikan secara cuma-cuma. Dia merasa nggak nyaman jika menjual barang-barang itu, lalu menggunakan uangnya untuk kepentingan pribadi.
"Jadi kamu beneran putus sama cowok itu? Terus sekarang kamu mau membuang pemberiannya?" celetuk Naya sok tahu.
"Maksudmu siapa?" Ella balik bertanya.
"Cowok yang kita lihat di mall," jawab Naya dengan yakin.
"Dia bukan pacarku, Nay," bantah Ella tegas.
"Terus ini apa? Semuanya ada tulisan from Albert❤. Albert yang kamu maksud itu 'Al' yang kemarin, kan?" ujar Naya sambil menunjukkan label di benda-benda tersebut.
Ella buru-buru mengambil benda-benda buangan itu, dan mengecek setiap sisinya. Benar kata Naya, semuanya sudsh ada stempel cringe yang dia buat sendiri. "Ugh, Ella bodoh! Terus sekarang gimana?" ujar Ella menepuk jidatnya.
__ADS_1
(Bersambung)