
Srr ...! Albert menyiram tubuhnya dengan air hangat dari shower. Bulir air bercampur sabun mengalir di sisi tubuhnya yang seksi. Kulitnya yang kencang tanpa lemak, pasti membuat siapa saja yang melihatnya akan merasa iri.
Albert menambah intensitas panas air yang keluar dari shower. Dia berharap, pikiran di kepalanya turut luntur terbawa air. Tapi tetap saja dia tidak bisa melupakan kejadian tadi malam.
"Aku pasti nggak salah dengar. Yang berteriak tadi malam itu pasti Ella. Tapi kenapa dia tiba-tiba berteriak, ya?" Pria itu menggosok kepalanya semakin kuat.
"Apa yang dia lihat tadi malam saat membuka pintu? Padahal aku cuma sendirian di sana? Ah, apa jangan-jangan dia melihat sesuatu yang nggak bisa kulihat? Padahal aku udah lama tinggal di sini, tapi nggak pernah lihat ada yang aneh. Apa aku harus panggil orang pintar?"
"Astaga! Benar juga. Pasti hal itu yang mau ditanyakan Ella tadi malam. Tapi dia pasti bingung harus mulai dari mana," pikir pria itu lagi.
Albert tiba-tiba merasa merinding, karena pikiran liarnya sendiri. Pria muda berstatus ayah tiri itu tidak sadar, jika yang membuat Ella berteriak adalah dirinya sendiri. Penampilannya yang tampak kusut karena baru terbangun dari tidurnya, dan celana pendeknya yang tepat sepanjang lutut.
"Sayang, sudah berapa lama kamu di dalam? Saatnya sarapan, nih. Kita harus segera pergi. Hari ini kan mau mulai renovasi rumah. Setelah itu ke kantor kependudukan untuk mengurus surat-surat kita," seru Ghina dari luar.
"Sebentar, sayang," sahut Albert dari dalam kamar mandi.
Ceklek! Albert keluar dari dalam kamar mandi berbalut handuk putih.
"Hei, apa yang terjadi denganmu pagi ini?" Ghina terkejut melihat tubuh bagian bawah suaminya yang bereaksi di pagi buta ini.
Albert tidak menjawab. Dia melangkahkan kaki mendekati Ghina, hingga wanita itu terperangkap di antara dinding dan tubuh Albert. Pria itu lalu menyentuh bibir Ghina yang merah ranum.
"Hmmpphhh ... Kamu kenapa, sih?" Ghina menjauhkan tubuh Albert yang masih wangi sabun dari tubuhnya.
"Ya ingin cium aja. Masa mencium istriku sendiri nggak boleh? Harum sekali, kau pakai shampo apa? Wangi sekali."
"Jangan mengalihkan pembicaraan. Akh!" Bruk!
Albert memeluk istrinya dengan erat. Ia mengusap rambut lebat milik wanita itu. Keduanya lalu terjatuh di atas sofa dekat jendela kamar. Handuk yang melingkar di tubuh Albert pun terlepas. Pria itu menjadi semakin ganas tidak terkendali.
"Sayang, hentikan! Cepat berpakaian lalu kita sarapan. Bukankah hari ini kita akan mulai merenovasi rumah?" Ghina berusaha memberontak, ketika sang suami mulai menelusupkan jari ke bagian sensitifnya.
Seakan tidak mendengar ucapan istrinya, pria itu terus meluapkan gairahnya dengan berapi-api. Ghina pasrah. Toh, lagi pula mereka sudah resmi menikah, kan? Selama dua puluh menit bergumul di sofa, keduanya pun mengakhiri permainan dengan kecupan manis di bibir.
"Yuk," kata Albert sambil mengulurkan tangannya.
"Mau ngapain?" ucap Ghina sambil memungut pakaian yang berserakan di lantai
"Ya mandi, lah. Masa kamu mau pergi dengan acak-acakan dan berkeringat kayak gitu?" balas Albert.
__ADS_1
"Ya emangnya ini ulah siapa?" kata Ghina.
"Tapi kamu suka, kan? Siapa tahu kita bisa ngasih hadiah adik kecil pada Ella nanti, " jawab Albert sambil tertawa jahil.
"Ck, kau bilang apa, sih? Bikin malu aja," seru Ghina menutup wajahnya dengan kain.
...🥀🥀🥀...
"Wow, ini menu sarapan kita? Kelihatannya enak. Tumben kamu masak sebanyak ini?" Albert mencicipi makanan lezat yang terdapat di meja. Ada creamy garlic tuscan salmon, bread cheese garlic lalu salad dan telur rebus.
"Wow, enak. Kamu pintar banget, deh."
"Oh, ya? Bagus dong." Mata Ghina tampak berbinar senang. "Tapi ini bukan aku yang masak. Semuanya yang bikin Ella," lanjutnya lagi.
"Oh, pantes enak. Anaknya kan belajar dari mamanya. Bakat memasaknya turun," puji Albert.
"Tapi aku nggak bisa masak kayak gini, sayang. Namanya aja susah disebut," jawab Ghina sambil tertawa.
"Meskipun begitu, pasti bakat masaknya tetap menurun dari mamanya, kan?" kilah Albert
Ghina tidak menyahut. Ia hanya mengambil dua buah piring, lalu mengisinya dengan menu sarapan tadi. Wanita itu menambahkan perasan jeruk lemon pada ikan salmon.
"Nggak, sayang. Gak ada gunanya juga cemburu sama anak sendiri. Toh, dia udah ngorbanin banyak hal untuk aku," jawab Ghina dengan santai. "Ayo makan," sambungnya lagi seraya menyodorkan piring pada sang suami.
"Loh, Ella mana?" Albert baru menyadari, jika putrinya tidak ada di antara mereka.
"Mungkin udah pergi sekolah ke sekolah, karena kelamaan nungguin kita . Tadi aku cek di kamarnya, dia udah nggak ada," sahut Ghina sambil memotong bread cheese garlic dengan sendoknya.
"Pergi naik apa? Emangnya supir pribadi kamu udah datang?" tanya Albert.
"Naik ojek online, mungkin. Andreas aku liburkan hari ini," ujar pembantu rumah tangga, yang naik pangkat menjadi nyonya besar tersebut.
...🥀🥀🥀...
"Wow, hebat bener bos restoran Jepang satu ini. Pergi sekolah aja naik taksi," celetuk Naya yang berada di gerbang sekolah.
"Hah, ini juga karena terpaksa. Nggak ada ojek online di sekitar sana tadi," sahut Ella. Remaja itu merogoh tasnya, untuk mengeluarkan lip balm.
"Gimana liburan kamu, La?" tanya Maira yang turut bergabung dengan mereka.
__ADS_1
"Nyebelin," sahutnya. Satu kata dari Ella tersebut, sudah menggambarkan seluruh isi hati dari remaja tersebut.
"Kenapa?" tanya Naya dan Maira bersamaan.
"Nyebelin aja. Gara-gara hujan aku terpaksa pindah ke rumahnya." Ella melipat kedua tangannya di depan dada, lalu melangkahkan kaki menuju ke kelas.
"Rumah siapa?" tanya Naya yang masih kepo.
"Rumah siapa lagi? Ya cowok yang selalu kalian agung-agungkan itu, lah," kata Ella.
"Maksudnya rumah ayahmu itu?Terus apa masalahnya? Emangnya rumahnya gak seperti yang kamu bayangkan?" tanya Maira pula.
"Kenapa? Ayah siapa? kok rame bener?" Imelda yang baru aja bergabung, penasaran dengan apa yang dibicarakan Maira, Naya dan Ella.
"Ah, bener juga. Imelda kan belum tahu apa-apa soal ayah Ella?" batin Maira dan Naya langsung menutup mulut mereka.
"Soal rumah papaku dan ayahku," jawab Ella sambil tersenyum penuh rahasia.
"Hah?" Bukan cuma Imelda yang semakin bingung, tapi juga Maira dan Naya.
"Ella, tunggu! Kalian jalannya cepet banget, sih?" Daniel berlari mengejar para gadis itu dengan napas ngos-ngosan.
"Kamu abis kena razia Pak Satpam? Kok lari-lari gitu?" celetuk Ella.
"Razia apaan? Orang bajuku rapi dan lengkap gini?" protes Daniel. "Nih, bekalmu ketinggalan." Daniel lalu menyerahkan tentengan di tangannya.
"Ya ampun. Makasih, Daniel. Tadi pasti ketinggalan di pos satpam depan rumah, waktu aku nunggu taksi," kata Ella. "Eh, tunggu. Jadi siapa yang nganterin ke sini?"
"Siapa lagi kalo bukan dia? Supir gofudmu yang spesial itu. Sebenarnya tadi dia lihat kamu jalan bareng Maira dan Naya. Tapi tetap aja dititipin ke aku. Katanya kalian pasti ribut kalo ketemu," ucap Daniel di sela napasnya yang masih ngos-ngosan.
"Thanks ya. Tapi aku boleh minta tolong satu hal lagi, nggak?" ucap Ella.
"Apaan?"
"Gajiku bisa dibayar hari ini nggak? Uangku ludes semua untuk bayar taksi tadi," kata Ella sambil tersenyum malu-malu.
"Astaga! Bos restoran kok kere," cibir Daniel dan kawan-kawan yang lain.
(Bersambung)
__ADS_1