
"Bersih banget rumahnya. Rupanya Ella rajin beres-beres." Ghina memperhatikan seluruh isi rumah.
"Di mana ya Ella menyimpan berkas-berkas itu? Bukannya di lemari?"
Ghina masih belum menemukan yang ia cari. Sebagian besar berkas penting sudah dibawanya pindah ke rumah Albert. Akan tetapi beberapa berkas lainnya, terutama yang berkaitan dengan putrinya masih tersimpan di sini.
"Di mana, sih? Perasaan sudah ku bongkar semua?" Lalu Ghina teringat sesuatu. "Jangan-jangan disimpannya di sana?"
Ghina mengambil kursi plastik lalu menurunkan sebuah kotak kayu dari atas lemari. Kotak kayu tersebut adalah hadiah terakhir dari mendiang suaminya untuk Ella. Di dalamnya terdapat beberapa kesayangan putrinya dari sang suami dulu.
Ceklak! Kotak kayu itu pun terbuka. Ghina mengecek isinya satu per satu. Matanya menyapu seluruh isi kotak tua tersebut, untuk menemukan beberapa berkas yang mereka perlukan.
"Astaga! Ini kan buku diary Ella dari papanya?"
Ghina tak mampu menahan tangis melihat benda bersampul biru yang dipegangnya kini. Dia juga menemukan beberapa amplop surat dengan kertas warna warni di dalamnya. Dengan jemari bergetar, Ghina membuka lembaran kertas itu satu per satu dan membacanya.
12 Desember 20xx. “Kenapa papa pergi meninggalkan kami? Aku kesepian, Pa.”
Dada Ghina bergetar melihat tulisan gadis cilik yang berantakan itu. Ternyata bocah sekecil itu bisa meluapkan isi hatinya seperti ini. Ghina lalu membaca lembaran lainnya.
14 Februari 20xx. “Katanya hari ini adalah hari kasih sayang. Tetapi kenapa mereka terus mengejekku? Apa salahku, Pa? Memangnya salah kalau Papa pergi lebih dulu? Siapa yang bilang kalau aku nggak punya Papa? Aku punya Papa, kok. Tetapi sekarang rumahnya berbeda.”
26 April 20xx. “Aku nggak tahu boleh bilang ini atau nggak? Tapi tadi aku habis berantem dan menjambak rambut temanku, Pa. Katanya mama itu orang yang jahat, karena udah telantarin Papa sampai meninggal. Padahal mama kan orang paling baik.”
4 Mei 20xx. “Hari ini hari kelulusan SMP-ku, tapi mama terus menangis. kami rindu papa.”
4 September 20xx. “Aku Kesepian, Pa. Mama selalu pulang malam karena harus bekerja demi aku. Apakah papa nggak rindu pada kami? Datanglah ke mimpiku sekali saja.”
6 November 20xx. A”pa papa ingat? Sekarang hari ulang tahun mama. Dulu kita selalu merayakannya dengan nasi tumpeng. Sejak papa pergi, semua itu menghilang. Aku kangen masa-masa itu.”
__ADS_1
8 Maret 20xx. “Papa harus dengar kabar baik ini. Mama dapat pekerjaan baru. Bos-nya masih muda baik banget. Jadi Mama nggak perlu pulang tengah malam lagi seperti dulu.”
14 Juli 20xx. “Halo, Pa. Aku sudah resmi jadi anak SMA, nih. Oh iya, sekarang aku sudah tidak kesepian lagi. Aku dapat teman baru. Em … dia laki-laki. Papa nggak marah, kan? Papa tetap nomor satu di hatiku.”
17 Juli 20xx. “Halo, Papa. Masih ingat ceritaku kemarin? Itu lho, tentang cowok itu. Ini pertama kalinya aku membuka hatiku pada laki-laki. Sifatnya juga mirip papa, lho. Pengertian banget.”
3 April 20xx. “Papa jangan cemburu, ya. Aku tadi ditraktir makan sama dia. Cowok yang aku ceritakan itu. Katanya aku hebat, bisa menang olimpiade fisika. Kalau papa masih ada, medali ini pasti akan aku berikan untuk papa.”
6 November 20xx. “Aku merasa aman sejak ada dirinya., Pa. Taka da satu anak nakal lagi yang membullyku. Pa, aku ingin bilang. Aku benar-benar mencintai Albert. Hanya dia yang bisa membuatmu aman dan nyaman selain Papa. Papa nggak marah, kan?”
“Apa Papa tahu? Mama akan menikah lagi. Dengan cowok yang selalu aku ceritakan itu. Iya, yang mirip Papa itu. Tak kusangka akan benereran jadi Papaku. Bagaimana ini? Apa aku harus mengikhlaskan lagi, orang yang sangat ku sayang? Tolong aku, Pa.”
“Ada satu hal lagi. yang baru ku sadari. Entah sejak kapan mama jadi sekurus itu? Entah berapa lama aku nggak memeluk dan mengucapkan terima kasih padanya? Maafkan aku, Pa. Aku lalai menjaga mama. Aku sibuk dengan duniaku sendiri. Mungkin mama lebih memerlukan pria itu dibandingkan aku. Aku akan coba ikhlas.
"Ya Tuhan, apa yang sudah kulakukan pada putriku sendiri? Ella... Kenapa kamu nggak pernah cerita sama mama?" Air mata Ghina berderai setelah membaca lembaran dari lembaran isi kertas tersebut.
"Kenapa kamu simpan semua ini sendirian Nak?"Ghina menangis sejadi-jadinya. Ia bahkan belum membaca semua diary milik Ella, tapi hatinya sangat teriris.
__ADS_1
"Kenapa kamu nggak mengangkat teleponku? Apa kamu sudah menemukan berkasnya?"
Albert baru saja datang. Pria itu melihat kertas-kertas berserakan di lantai kamar dengan sang istri yang sedang menangis. Sekilas, pria itu bisa membaca isi diary dari halaman yang terbuka.
"Ghina? Apa kamu sudah membacanya?" Albert benar-benar cemas pada istrinya. Albert merebut diary di pangkuan Ghina lalu menutupnya. "Jangan dibaca lagi," ucapnya.
"Kenapa kamu tak bicara padaku hingga kita menikah? Kamu jahat! Kamu membuatku mengkhianati putriku sendiri. Katakan padaku, sejak kapan kamu mengetahui ini semua?"
Ghina berteriak histeris. Lengannya yang mungil memukul pundak Albert yang bidang. Albert memeluk Ghina dan mengecup kening wanita cantik itu untuk menenangkannya.
"Aku memang tak pernah membaca isi diary-nya, Ghina," sahut Albert dengan lembut.
"Lalu? Kenapa kamu bisa langsung menebaknya dengan tepat, saat datang tadi? Apa kalian pernah menjalin hubungan?" Ghina menengadahkan wajahnya, untuk melihat sang suami dari dekat.
"Kami nggak ada hubungan seperti itu, Ghina. Dan aku mengetahui isi hatinya dari sorot matanya, setiap ia menatapku. Dia memandangku dengan cara yang sama seperti kamu melihatku," kata Albert.
"Jadi yang dulu kamu maksud menyelesaikan urusan hati dengan wanita itu putriku sendiri?Ya Tuhan, Ibu macam apa aku ini?" Seluruh tubuh Ghina terasa lemas.
"Aku benar-benar tak memahami putriku sendiri. Mengapa justru dia yang merelakan orang terkasihnya demi aku? Apa yang sudah aku lakukan selama ini?"
Albert mememeluk Ghina yang meringkuk di lantai dengan erat. Air matanya membasahi sebagian lembaran kertas yang ada di sana. "Aku yang memutuskan untuk melamarmu. Berhenti menyalahkan dirimu sendiri," ucap Albert.
"Lalu setelah ini bagaimana aku harus menghadapinya? Aku benar-benar malu, Al," kata Ghina di sela isak tangisnya.
"Bersikaplah seperti biasa. Aku selalu mendampingimu," jawab pria itu.
Ghina menundukkan kepala dalam-dalam. Tak hanya pada Ella, hatinya pun sangat malu pada Albert. Apakah ia gagal menjadi orang dewasa?
"Ayo cepat kita bereskan, sebelum Ella pulang," ajak Albert.
Terlambat! Ella telah berdiri di depan pintu kamarnya.
__ADS_1
(Bersambung)