
"Permisi, masih ada komputer kosong?"
"Masih a-" Ella menggantung kalimatnya. Tubuhnya mendadak jadi merinding. "Suaranya kayak familiar?" batinnya.
Gadis itu mengangkat kepalanya.
Seorang pria tampan menggunakan setelan kaos hitam dan celana jeans berdiri tepat di depan meja kasir. Penampilannya sangat kontras dengan suasana warnet. "Al? Ngapain kamu di sini?" jerit Ella. Beberapa pengunjung warnet melihat ke arah kasir warnet tersebut.
"Menurutmu?" Albert balik bertanya.
Tangan Ella gemetaran. Ia sembunyikan di balik blazer sekolahnya. "Jangan bilang Mama, ya," pinta gadis itu dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu selesai jam berapa? Aku tunggu sampai kamu pulang," ujar Albert, mengabaikan permintaan Ella tadi.
"Untuk apa? Dari mana kamu tahu aku di sini?" kata Ella dengan suara rendah.
"Rahasia. Kamu harus menemuiku nanti, kalau mau pulang dengan aman," ancam Albert kemudian berlalu pergi.
...🥀🥀🥀...
"Kamu belum pulang?" Ella terkejut melihat mobil mewah yang terparkir di depan warnet milik Daniel. Dia sedang berbincang dengan pemilik warnet tersebut.
"Sudah ku bilang, kan? Aku akan menunggumu," sahut Albert sambil mengedipkan matanya. "Thanks, Daniel. Aku cabut dulu," ujar Albert pada Daniel.
"Oke," balas Daniel. "Kapan-kapan kita mabar, deh," imbuh nya.
"Jadi kamu yang ngasih tahu kalau aku di sini?" bisik Ella. Matanya membat dan giginya rapat. Tapi hal itu tidak membuat Daniel takut.
"Nggak, kok. Kami malah baru kenalan di sini," jawab Daniel. "Saudara kamu tuh asyik juga diajak ngobrol. Kapan-kapan kita main ajak dia juga," sambung Daniel.
__ADS_1
"Ella, ngapain? Yuk, pulang," ajak Albert yang udah di dalam mobil.
"Aku pulang dulu, Niel," ujar Ella, lalu berlari mendekati mobil mewah milik Albert.
"Kamu udah tahu jawabanku, kan?" ujar Ella dengan angkuhnya. Kedua tangannya dia letakkan di pinggang.
"Iya. Kamu pasti nggak akan mau ku antar pulang," jawab Albert dengan lembut.
"Nah, ya sudah." Ella nyelonong pergi hendak mencari angkot.
"Mama kamu belum tahu masalah ini. Apa sebaiknya ku beri tahu aja, ya?" ucap pria itu sambil menyeringai tipis.
Strategi Albert berhasil. Ella menghentikan langkahnya lalu berbalik badan. "Jangan!" seru gadis itu. Albert tersenyum puas.
...🥀🥀🥀...
"Satu minggu yang lalu," jawab Ella sambil mengikat rambutnya yang panjang dengan karet gelang. Lehernya yang jenjang pun terlihat.
"Apa kamu begini karena aku akan menikahi Ghina?" tanya Albert lagi sambil mengunyah.
Ella duduk sejauh dua hasta dengan Albert. Pada akhirnya mereka mengunjungi taman kota. Mereka berbincang sambil makan cilok.
"Bukan begitu..." Ella memonyongkan bibirnya yang kepedasan.
"Terus?"
"Aku... Ingin belajar mandiri." Suara Ella hilang ditelan riuhnya musik dari kereta api mini, yang berputar mengelilingi taman kota.
"Tiba-tiba ingin mandiri?" tanya Albert. Rupanya pri itu mendengar jawaban Ella barusan.
__ADS_1
Ella menundukkan kepala. Dia menghindari kontak mata dengan Albert, agar pria itu tak bisa membaca isi hatinya.
"La, kalau mama kamu tahu pasti dia akan sedih. Dia susah payah mencarikanmu biaya sekolah, tapi kamu..."
"Aku tahu. Tapi aku kan nggak lalai di sekolah. Aku tetap belajar untuk mengejar cita-citaku," ucap Ella memotong kalimat Albert.
"Aku nggak melarangmu belajar hidup mandiri. Seusia kamu, aku dulu juga mulai mencari uang sendiri. Tetapi mama kamu sedih. Dia selalu mencium bau rokok dari bajumu. Dia pikir kamu berubah jadi anak nakal," ujar Albert panjang lebar.
"Tapi kenyataannya nggak gitu, kan?" balas Ella.
"Memang nggak. Tapi bukan berarti mama kamu nggak sedih kalau dia tahu. Untuk siapa lagi dia bekerja siang malam kalau bukan untuk putri kesayangannya," kata Albert.
Air mata Ella tumpah. Entah karena menangis atau kepedasan. Yang jelas, dia tidak bisa menahan air matanya yang terus mengalir.
"Jangan seperti ini, hanya karena kehadiranku di antara kalian berdua," ujar Albert. Dia baru saja menghabiskan gigitan terakhir ciloknya.
"Terus? Aku sudah memberi izin sama Mama. Apa kamu akan membatalkannya begitu saja cuma gara-gara aku? Nggak, kan?" tanya Ella dengan air mata berlinang.
Albert menggeser duduknya mendekati Ella. Dia lalu mengusap rambut Ella sambil memandangnya. Kali ini gadis itu tidak mengelak. Dia membiarkan pria itu mengacak rambutnya.
"Mungkin ini terakhir kalinya aku merasakan kehangatan tangannya seperti ini. Setelah dia menjadi ayahku, aku harus lebih menjaga sikap," batin Ella.
"La, aku menyayangimu."
"Cukup! Jangan katakan itu lagi! Jangan bikin aku berubah pikiran lagi!" teriak Ella. Beberapa pengunjung di sekitar memandangi mereka, membuat Albert hanya bisa memilih diam, dan membiarkan Ella pergi.
"Apa dia tahu, kalau Ghina meminta pernikahan dibatalkan?" ujar Albert pads dirinya sendiri.
(Bersambung)
__ADS_1