Me Vs Berondong Mommy

Me Vs Berondong Mommy
Bab 96. Olahraga Malam


__ADS_3

"Nenek!" seru Ella ketika dia dan Albert memasuki sebuah restoran Padang.


"Kenapa lama banget datangnya, sayang? Nenek udah kelaparan nih nungguin kamu," ujar ibunda Albert tersebut.


"Maaf, Nek.Tadi aku belajar kelompok di rumah teman dulu," ucap Ella. "Tumben makan di sini? Aku pikir kita bakalan makan di restoran milik ayah," ucap Ella.


"Masa di hari spesial gini kita makan di restoran sendiri? Nenek lagi kepingin makan rendang sama sup tunjang," ucap wanita itu.


"Hari spesial?" ulang Ella.


"Loh, ayahmu nggak cerita?" ujar ibunda Albert tersebut.


"Soal apa?" tanya Ella bingung.


"Hari ini ulang tahun Nenek. Jadi ayah dan ibumu memaksa Nenek untuk merayakannya," jawab sang Nenek.


"Eh? Kok A-yah nggak cerita, sih? Kalau aku tahu, kan bisa beli kado dulu sebelum ke sini," seru Ella dengan nada kecewa.


"Siapa bilang Ayah nggak cerita? Coba buka HP-mu. Tadi Ayah udah kirim pesan padamu. Lagian tadi juga kelamaan keliling cariin kamu. Untung aja ketemu sama Daniel," balas Albert sedikit memarahi sang putri.


"Oh git,u ya. Maaf, deh," jawab Bella sambil menyengir cengengesan.


"Udah, berhenti berantemnya. Nenek udah laper, nih." Wanita yang hari ini genap berusia 54 tahun itu, mengisi piringnya dengan nasi dan lauk pauk.


"Astaga! Maafkan aku, Nek. Selamat ulang tahun ya. Lain kali aku akan belikan hadiahnya," ucap Ella mencium pipi kanan dan pipi kiri wanita itu.


Sore itu Ella menghabiskan waktunya dengan bercengkerama bersama keluarga. Hatinya riang karena merasakan kehangatan sebuah keluarga. Tetapi disisi lainnya dia juga merasakan sedih, karena sang papa tidak ada lagi di antara mereka.


"Jadi kamu beneran nggak ikut tinggal di rumah nenek, nih? Nenek sedih, lho." Tanya sang Nenek setelah mereka selesai makan.


"Sebenarnya aku juga pengen banget tinggal sama Nenek. Dari pada tinggal sama ayah yang cerewet dan tukang ngomel gitu," cibir Ella.


"Hei, siapa yang kamu sebut cerewet dan tukang ngomel?" Albert memprotes kalimat Ella.


"Pffftt..." Ghina menahan tawa melihat ekspresi suaminya. "Kamu emang tukang marah-marah, kok," timpal Ghina. "Barusan aja kamu juga habis marah lanjutkan lagi," sambungnya lagi.

__ADS_1


"Aku mau banget tinggal sama Nenek. Tetapi rumah Nenek jauh banget sama sekolahku. Bisa-bisa aku harus berangkat subuh tiap hari," kata Ella.


"Hmmm... Iya juga sih."


"Jangan sedih, Nek. Saat liburan aku akan menginap di sana," ucap Ella menghibur ibunda Albert tersebut.


"Janji, ya."


"Iya, Nek. Aku janji," jawab Ella dengan yakin.


...🥀🥀🥀...


Drrttt... Drrtt...Ponsel Ella berdering beberapa kali. Suaranya memenuhi kamar Ella yang luas itu.


"Siapa, ya?" Ella mengelap rambutnya yang masih basah sambil membaca pesan masuk.


"Ah, benar juga. Aku belum mengisi angket yang di bagikan siang tadi. Untung Maira mengingatkanku," ujar Ella. Sepanjang sore sibuk merayakan ulang tahun sang nenek, membuat Ella lupa pada tugasnya.


Setelah merapikan pakaiannya, Ella bergegas mencari lembaran angket tersebut di salam tas-nya. "Loh, kok nggak ada? Perasaan tadi aku menyelipkannya di dalam buku biologi," ucap Ella dengan panik.


"Pada ke mana, sih? Sepi banget?" Ella berjalan di sisi lemari yang begitu besar. Setiap rak-nya dipenuhi dengan beragam jenis buku. Sebagian besar judulnya menggunakan bahasa asing.


"Gila , gede banget sih rumah ini? Tapi yang tinggal cuma tiga orang. Jadi berasa uji nyali di kastil drakula, deh," gumam Ella.


Berpindah ke ruangan lainnya, kali ini Ella memasuki dapur super mewah milik kedua orang tuanya. Lantai dan meja dapur super mengkilap. Peralatan masak yang canggih dan mahal. Di sinilah dulu ibunya menghabiskan waktu untuk melayani sang tuan muda.


"Kok nggak ada juga? Pada ke mana, ya? Apa udah tidur? Tapi ini kan baru jam delapan malam? Padahal aku harus menandatangani berkas ini. Besok pagi harus dikumpul," ucap Ella pada dirinya sendiri.


Langkah kaki Ella berhenti di depan kamar utama. Dia mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya beberapa kali.


"Ma? Udah tidur?" panggil Ela dari luar. "Ma?" panggil Ella lagi.


"Hnng...."


Setiap sentuhan yang diberikan oleh Albert membuat semua syaraf Ghina mengejang. Bibirnya yang seksi mengeluarkan ******* yang sangat nikmat. Tubuhnya melengkung mengikuti otot dan syarafnya yang merespon impuls dari sang pria.

__ADS_1


"Hahhh...." Napas Ghina menderu semakin sesak. Albert merongrong tubuhnya dengan dahsyat. Pria itu merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya.


Ghina merasakan genggaman sedemikian erat di bahunya. Rongga tubuhnya dipenuhi sensasi nikmat dari setiap gesekan benda keras yang menghujamnya. Peluh mengalir di seluruh tubuhnya.


"Hmmm... Hmmm..." Ella mendengar suara lirih dari dalam kamar beberapa kali. Wajahnya mendadak berubah.


"Apa yang terjadi sama Mama? Apa Mama sakit?" tanya Ella dengan polos. Gadis remaja itu tidak tahu, jika sang ibunda sedang menunaikan tugas wajibnya pada sang suami. Dia mengetuk pintu kamar semakin kuar, karena mengkhawatirkan keadaan ibunya.


"Al..." desah Ghina dengan lirih.


"Hmm??" bisik pria itu tanpa menghentikan aktivitasnya.


Albert kembali mendaratkan hidungnya di kening Ghina. Suasana kamar ber-AC itu benar-benar semakin panas. Peluh mereka berpadu satu di tengah asa yang memburu.


"Al, ku mohon berhenti dulu. Itu Ella memanggi kita dari luar," bisik Ghina berusaha menjauhkan tubuh suaminya.


"Bentar, sayang. Aku lagi tanggung, nih." Pria itu menghujam tongkat dewa kenikmatan miliknya semakin dalam


"Akh," tidak tertahankan.


"Mama kenapa? Mama sakit?" teriak Ella sambil mengetuk pintu.


"Al, please. Hentikan dulu sebentar," pinta Ghina lagi.


"Udah, biarin aja. Memangnya kamu mau keluar dengan keadaan berantakan dan berkeringat gini? Ella pasti merasa sangat canggung melihatnya," ujar Albert yang terus merengkuh tubuh Ghina di bawah kendalinya.


Kedua kaki Ghina terbuka lebar. Tubuhnya yang mungil dihimpit oleh pria itu. Ghina tidak bisa memberontak, karena Albert telah mengunci tubuhnya.


Bruk! Bruk! Albert bergerak luar di atas tubuh wanita yang sembilan tahun lebih tua darinya. Napasnya terengah-engah. Rasa nikmatnya hampir mencapai ubun-ubun.


Sementara itu dibalik pintu. Ella merasa merinding mendengarkan suara rintihan samar-samar dari dalam sana. Rasa khawatirnya berubah jadi rasa malu.


"Ck, aku mikir apa, sih? Mama pasti sedang sibuk saat ini. Sepertinya aku datang di waktu yang salah. Aku cuma mengganggu aja berdiri di sini." Ella segera mengambil langkah seribu untuk berpindah dari tempat itu. Gadis itu pun segera mengurung diri di kamar untuk menenangkan pikirannya.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2