
Ella menghirup napas dalam-dalam. "Wangi parfumnya beda, ya?" ucapnya kemudian. Bola matanya yang berwarna kecoklatan melirik ke arah pria berkulit putih, yang sedang mengemudi di sebelahnya.
"Tajam banget sih penciumanmu? Ini memang wangi parfum baru. Kamu suka wangi parfum yang lama atau yang baru?" jawab Albert yang mengenakan kemeja hitam kotak-kotak.
"Nggak dua-duanya. Karena aku lebih suka wangi pelembut pakaian," jawab Ella dengan tegas tapi disertai senyuman.
"Jujur amat sih, Neng. Kenapa nggak sekalian wangi parfum laundry aja?" balas Albert ikutan tertawa.
"Oh, bener juga! Kenapa aku nggak kepikiran, ya? Parfum laundry kan lebih murah harganya," ucap Ella.
"Hahaha ... Apa sih? Jangan dibawa serius, dong. Ntar kalau emang kamu mau parfum biar yang beliin," kata Albert sambil memutar setirnya ke arah fly over. Kendaraan berjalan cukup lambat, karena mulai memasuki kemacetan.
"Duh, nggak usah. Aku nggak perlu parfum kok di sekolah. Kalau penampilan ku terlalu cetar, ntar cowok-cowok semakin nggak fokus belajar," balas Ella dengan sombongnya.
"Hilih, sombong Lu," Cibir Albert.
Meskipun dia berbicara seperti itu, kedua matanya tetap memperhatikan gadis manis yang duduk di sebelahnya. Bulu matanya yang lentik. Kulit yang halus bak sutra. Pipinya yang merona, Mbak buah tomat segar. Lalu bibirnya yang ...
"Astaga! Aku ini mikir apa, sih?" Albert buru-buru mengalihkan pandangannya.
"Jadi si Daniel itu gebetan kamu atau pacar kamu?" tanya Albert sambil menenangkan jantung.
"Nggak dua-duanya, loh. Dia itu cuma temen aku. Eh, dia juga bos aku sih," sahut Ella.
"Masa sih kamu nggak tertarik sama dia? Daniel kan cakep. Dia juga pintar," selidik Albert.
"Ya, emangnya kalau naksir harus jadian? Enggak, kan?" jawab Ella tegas.
"Pengalaman, ya?" Sindir Albert lagi.
Ella mendengus kesal, melihat pria itu tertawa lepas. "Pengalaman apanya? Aku kan masih bocah polos tanpa dosa?" kilah Ella. "Lagi pula aku sama dia beneran cuma temen kok," sambungnya lagi.
"Iya deh, aku percaya," kata Albert tanpa bisa menghentikan tawanya. "Kapan ya kita terakhir kali ngobrol santai seperti ini? Kayaknya udah lama banget, deh," celetuk pria itu.
__ADS_1
Ella langsung membungkam bibirnya. Senyum di wajahnya perlahan memudar. Hari-hari yang dulu menyenangkan bersama pria ini, kembali terbayang dalam sanubarinya. Tetapi kini sudah berubah, status mereka telah berbeda.
"La, kok diem aja? Walaupun status kita udah beda, kamu masih boleh kok mengobrol santai seperti ini," ujar Albert seakan-akan mengerti isi kepala Ella saat ini.
"Enggak, kok. Aku cuma lagi mikirin hal lain aja," kata Ella. "Kenapa mama nggak pernah nganterin aku pulang, sih?" kata Ella.
"Ayah juga nggak tahu alasannya. Tapi kayaknya karena dia nggak bakalan tega ninggalin kamu sendirian di rumah itu," kata Albert. "Apa kamu beneran nggak mau pindah aja? Alasannya apa? Karena ayah?" desak pria itu.
"Nggak, kok. Bukan karena itu," jawab Ella. "Yah, walau pun dulu memang itu alasan utamanya," sambung Ella dalam hati.
"Terus apa, dong? Kalau cuma jarak antara rumah dan sekolah, ayah bisa sediakan supir pribadi untukmu," bujuk Albert.
"Nggak usah. Aku justru nggak bisa belajar nanti kalau gitu," tolak Ella.
Albert mengerutkan keningnya dengan bingung. Dia tidak memahami maksud ucapan Ella barusan. Pria itu lalu memutar kemudinya ke kiri, dan memperlambat laju kendaraannya.
"Lho, kenapa berhenti di sini?" tanya Ella, ketika mobil mewah itu berhenti di bawah sebuah pohon tepi jalan.
Pria tampan berstatus papa muda itu tidak menjawab pertanyaan Ella. Dia membuka sabuk pengaman lalu memutar tubuhnya ke kiri, hingga jarak mereka saat ini tidak lebih dari satu jengkal saja. Matanya yang berwarna kecoklatan, menjelajah wajah gadis itu tak luput satu milimeter pun. Selama beberapa detik, pandangan mereka bertemu.
Ella yang merasa jengah, memundurkan tubuhnya hingga membentur pintu mobil. Dadanya berdegup kencang. Tetapi dia tidak memiliki perasaan aneh dalam hatinya seperti dulu.
Grek! Cklak! Albert kembali ke posisinya semul, lalu memasang sabuk pengamannya. "Kuakui dia memang cantik dan manis. Tetapi perasaan suka-ku padanya berbeda, dengan yang ku rasakan pada Ghina," batin Albert.
"Al?" panggil Ella.
Seakan tidak mendengar ucapan Ella, Albert terus tenggelam dalam pikirannya.
"Kemarin aku sempat ragu sama perasaanku, saat mengantarkannya pergi sekolah. Tapi sekarang aku sudah yakin, bahwa yang kurasakan pada Ella adalah kasih sayang sebagai seorang ayah. Sementara yang kurasakan pada Ghina adalah cinta, dan ingin selalu bersamanya setiap waktu."
"Ada apa sih? Kok tiba-tiba diam? Ada yang aneh di wajahku?" desak Ella yang semakin merasa penasaran.
"Nggak ada yang aneh kok. Wajahmu cantik. Cantik dan tampannya kedua orang tuamu, menurun padamu," puji pria itu.
__ADS_1
"Cih, apaan? Tumben banget muji-muji aku," kata Ella. Berbeda dari biasanya, jawaban Albert kali ini tidak membuat dada Ella berdebar. Justru gadis remaja itu bisa menanggapinya dengan sangat baik.
"Tapi kenapa sih, kamu tadi tiba-tiba lihatin aku kayak gitu?" rupanya Ella masih merasa penasaran.
"Sudah kubilang, aku memperhatikan wajahmu yang cantik itu," kata Albert. "Lalu, jangan lupa panggil aku ayah," pinta Albert dengan tegas.
"Iya, a-yah." Lidah Ella masih belum bisa menyebut kata-kata itu dengan lancar. "Tapi untuk apa? Bukannya udah ada wanita cantik yang bisa a-yah pandangi setiap hari?" sindir Ella.
"Untuk mengingatkanku, kalau aku bukanlah pria lajang seperti dulu lagi. Sekarang aku sudah punya anak gadis yang harus kujaga," jawab Albert. Meskipun kalimatnya tidak sesuai dengan apa yang dia pikirkan tadi, tetapi yang keluar dari bibirnya itu bukanlah kebohongan. Dia memang sedang berusaha menjadi suami dan ayah yang baik bagi keluarganya.
"Terima kasih, ya," ucap Ella tiba-tiba.
"Huh? Soal apa? Makan di restoran tadi? Restoran itu kan juga milikmu, La," kata Albert.
"Bukan cuma itu."
"Terus?" tanya Albert.
"Terima kasih karena udah menikah dengan mama dan mewujudkan keinginan mama," jawab Ella.
Albert terperanjat mendengar kalimat Ella. Ini pertama kalinya dia mendengar hal seperti itu dari bocah SMA tersebut. Biasanya yang selama ini dia lihat dan dengar hanyalah tangisan kesedihan dari putri sambungnya itu.
"Kalau boleh tahu, memang apa keinginan mamamu?" tanya Albert.
"Memberikan kehidupan yang layak untukku, lalu memberikan keluarga yang lengkap dan harmonis padaku," jawab Ella.
"Ah, sesederhana itu rupanya," ujar Albert.
"Bagi orang lain mungkin terdengar sederhana. Tapi bagiku itu adalah hal yang sangat mahal dan sulit digapai," kata Ella.
Albert menatap Ella sekali lagi. "Mulai saat ini kamu nggak perlu khawatirkan hal apa pun. Aku sebagai ayahmu, siap mendukungmu dan menjagamu," ucap Albert.
Brrrrshh! Air mata Ella mendadak jatuh tanpa bisa di tahan. Kalimat dari orang yang pernah dia sukai itu meruntuhkan benteng pertahanan yang dia buat. Masih panjang perjalanan Ella untuk melupakan cinta pertamanya itu.
__ADS_1
(Bersambung)