
"Ciee ... Siapa tuh, La? Pagi-pagi udah diapelin aja," goda Naya, ketika Ella kembali ke kelas.
"Hadeeh.. Apaan, sih? Cuma orang gak penting." Ella mendengus kesal dan memasang wajah masam.
"Nggak penting, tapi kok dateng mulu? " Naya terus menggoda teman sekelasnya itu.
"Ella mainnya ngeri, nih. Dia lebih pilih cowok dewasa dari pada cowok-cowok SMA sini," timpal Imelda.
"Kalian halunya ketinggian. Al cuma nganterin buku paketku yang ketinggalan di mobilnya," kata Ella sambil mengangkat buku paketnya tinggi-tinggi.
"Oh, jadi namanya Al?" Celetuk Imelda dan Naya bersamaan. "Kok bukumu bisa ketinggalan di mobilnya?" imbuh Naya sambil tersenyum jahil.
"Mampus! Aku salah jawab," ucap Ella dalam hati. "Ya pokoknya kemarin nggak sengaja ketinggalan gitu. Nih, untuk kalian." Ella cepat-cepat mengalihkan cerita dan meletakkan kantong plastik berisi kue ke atas mejanya.
"Aduh Mel, Naya ... Jangan dibahas lagi. Tuh lihat, bibir Ella udah manyun tujuh sentimeter," kata Maira. Dia baru aja kembali dari ruang guru untuk mengambil buku absen.
"Enak aja manyun tujuh sentimeter? Kayak bebek, dong?" balas Ella dengan wajah kesal tapi juga tertawa cekikian. "Gaes, ada kue nih. Kalian mau nggak?" seru Ella di tengah kelas.
"Kok kamu nggak pernah makan yang dibawain dia, sih?" tanya Maira penasaran.
"Nggak minat aja," jawab Ella singkat. Dia sibuk membagi-bagikan kue pada teman-teman sekelasnya, hingga kantong plastik itu bersih.
Maira, Naya dan Imelda hanya menatap Ella dengan heran. Mereka semakin penasaran, apa hubungan Ella dengan cowok itu sebenarnya.
"La, btw tadi kamu di panggil Bu Elya. Katanya jam istirahat nanti ditunggu di ruangannya," kata Maira menyampaikan pesan dari gurunya.
"Waduh. Ada apa, ya?"
"Nggak tahu juga. Bu Elya nggak ada bilang tadi," sahut Maira.
__ADS_1
...🥀🥀🥀...
Jam istirahat pertama. Ella berjalan di koridor sekolah menuju ke ruang guru. Jantungnya berdegup kencang. Dia jarang sekali dipanggil ke ruangan guru, kecuali untuk mengambil buku absen dan mengantarkan tugas.
"Permisi, selamat pagi, Bu. Apa Ibu memanggil saya?" Ella berdiri di depan ruangab Bu Elya.
"Oh, Ella. Sini masuk." Wali kelas Ella tersebut melambaikan tangan padanya.
"Baik, Bu," sahut Ella. Dia lalu duduk di hadapan gurunya.
"Ada yang ingin Ibu tanyakan padamu. Apa kamu masih berminat masuk sekolah tinggi farmasi?" Bu Elya bertanya dengan wajah serius.
"Iya, Bu. Masih," jawab Ella. Ella sudah bermimpi menjadi farmasi sejak papanya sakit dahulu. Semua obat yang ada belum bisa menyembuhkan penyakit sang papa. Dia pun tertarik untuk menelitinya.
"Jadi gini, La. Persaingan untuk masuk ke sana kan berat. Sedangkan yang berminat itu bukan hanya kamu saja."
Bu Elya menggantung kalimatnya sejenak untuk menerima telepon. Hati Ella gelisah menunggu kelanjutan dari kalimat wali kelasnya tersebut.
"Baik, Bu. Saya mengerti," sahut Ella.
"Ibu dengar, belakangan ini nilai kamu sangat menurun. Kalau nilaimu seperti ini terus, beasiswa ini mungkin aja di berikan kepada siswa lain," sambung guru Biologi tersebut.
Gulp, Ella menelam salivanya. Siswi kelas tiga SMA itu menatap Bu Elya dengan sedih. Jika dia tidak mendapatkan beasiswa itu, dia bakalan sulit membiayai kuliahnya.
"Bukan berarti Ibu kejam padamu. Tapi di tengah persaingan seperti ini, semua siswa berhak mendapat kesempatan yang sama, bukan?" kata Bu Elya.
"Benar, Bu," jawab Ella.
Remaja itu menghela napas panjang. Selama beberapa minggu terakhir, dia terlalu fokus memikirkan masalah Albert dan mamanya. Dia lalai terhadap cita-cita dan tujuannya di masa depan.
__ADS_1
"Benar, untuk apa aku terus menerus memikirkan Albert? Toh dia juga nggak ada keinginan untuk membatalkan rencananya? Lebih baik aku fokus dengan masa depanku sendiri," gumam Ella dalam hati.
"Kamu harus tahu, untuk masuk ke farmasi yang dilihat bukan cuma nilai kimia saja. Tetapi semua pelajaran sains. Ibu mengerti kamu selalu unggul di kimia. Tapi pelajaran lain Jangan dilupakan," Nasehat Bu Elya pada anak didiknya. "Ibu yakin kamu bisa. Tetaplah semangat," imbuhnya lagi.
"Baik, Bu. Terima kasih. Saya akan belajar lebih giat lagi," ujar Ella.
"Oh iya, satu lagi. Uang sekolah kamu bulan ini kenapa belum di bayar?" tanya Bu Elya. Mata Ella membulat ketika mendengarnya. Dia melupakan masalah uang sekolah yang sangat penting.
"Kalau memang sedang kesulitan katakan saja. Karena separuh dari uang sekolah kamu kan sudah dibayarkan melalui beasiswa. Tetapi menjelang ujian nanti harus dilunasi semua, ya."
"Baik, Bu. Nanti akan segera saya lunasi."
...🥀🥀🥀...
Ella berjalan ke kelas dengan langkah gontai. "Padahal uang sekolah sudah diberikan mama seminggu yang lalu. Apa aku gunakan saja ya, uang itu?"
Ella sangat ingin hidup mandiri. Tetapi lagi-lagi ia tertampar oleh kenyataan, bahwa ia belum siap untuk hidup tanpa sokongan ibunya.
"Nggak. Aku akan tetap menyimpan uang itu. Kalau aku bertahan beberapa minggu lagi di warnet, maka uang sekolah bisa aku bayar. Aku juga harus mendapatkan beasiswa itu. Agar aku nggak selalu bergantung pada Al." Rasa ego kembali menguasai dirinya.
"La, ngapain ngelamun di sini?" tegur Daniel yang membawa setumpuk buku sejarah dari perpustakaan.
"Ah, nggak apa-apa," jawab Ella.
"Kamu menangis? Lagi ada masalah apa?" tanya Daniel khawatir.
"Nggak ada masalah, kok. Ayo ke kelas. Sebentar lagi ulangan Bahasa Indonesia," ucap Ella sambil melukis senyum di wajahnya.
"Ternyata benar kamu ada masalah," kata Daniel. "Kamu lupa? Kelas kita kan berbeda?"
__ADS_1
(Bersambung)