
"Udah tidur, La?"
"Nasi gorengnya udah di makan?"
"Aku tebak, pasti belum di makan, kan?"
"Jaga kesehatan, ya. Jangan sampai sakit lagi. Sebentar lagi kamu ujian."
HP milik Ella bergetar berkali-kali, karena serentetan pesan masuk dari Albert. Ella membacanya dengan rasa malas. "Dia ngapain, sih? Sok perhatian gini?" gumam Ella. Matanya melirik ke arah jam dinding, yang menunjukkan waktu pukul 11.30 malam.
Remaja cantik itu lalu membalas pesan dari Albert, "Ada apa? Tumben nge-chat?" tulis Ella.
"Aku masih belum pulang," balas Albert dalam beberapa detik.
"Ya terus?" jawab Ella masa bodoh. Dia enggan berurusan panjang dengan pria itu.
"Kamu udah makan?" Albert mengulang pertanyaannya tadi.
"Udah," balas Ella singkat.
"Jangan bohong. Pasti belum makan, kan?"
__ADS_1
"Hah, percuma dong ku jawab kalau kamu tetap nggak percaya," tulis Ella. Gadis itu menekan layar HP-nya dengan kasar untuk meluapkan kekesalannya. "Apa cowok ini memasang CCTV di kamarku? Kok dia bisa tebak dengan tepat?" ujar Ella dalam hati.
"Udah, ya. Kalau mama tahu kamu chattingan sama aku, habis kamu!" Ella menyelipkan HP-nya di bawah bantal, setelah mengirimkan pesan terakhir.
Drrtt! HP-nya bergetar. Albert kembali membalas pesan dari Ella. Bocah SMA itu tidak bisa menahan rasa penasaran terhadap isi pesan dari pria itu.
"Emangnya kamu anggap aku chattingan sebagai apa? Pacar? Teman? Apa gebetan?" tulis Albert dalam pesannya.
"Cih, aku jadi terjebak," gumam Ella dalam hati. Jemarinya mengetik balasan untuk Albert secepat kilat.
"Kamu sendiri anggap aku apa? Sampai chat malam-malam gini?" Jantung Ella berdegup kencang saat mengetik balasan tersebut.
"Aku mengkhawatirkanmu sebagai anakku," tulis Albert dalam pesan berikutnya.
"Cih, lihat tuh. Lagi-lagi diagampang banget bikin perasaan orang hancur lebur." Ella mengukir senyum di wajahnya. Tetapi sudut matanya basah karena air mata yang tiba-tiba keluar.
Drrtt! HP Ella berdering lagi. Ella malas membukanya. Tetapi dari layar HP-nya yang terkunci, dia bisa membaca isi pesan tersebut.
"Kenapa kamu tadi tiba-tiba masuk kamar? Kamu nggak mau lihat aku makan bareng Ghina? Atau kamu marah karena aku lebih memilih masakan Ghina?"
Bibir Ella mengerucut tiga sentimeter ke depan, setelah membaca pesan dari pria itu. Harga dirinya tercabik-cabik. "Nggak ada apa-apa, kok. Aku cuma pengen rebahan aja, karena kepalaku agak pusing," tulis Ella.
__ADS_1
"Kamu nggak bisa bohong padaku. Aku bisa lihat sorot matamu. Waktu kamu merebut nasi goreng tadi," ujar Albert dalam pesannya.
"Ya Tuhan! Kenapa dia peka banget, sih?" gerutu Ella sambil melemparkan HP-nya ke atas kasur.
"Kok gak dibalas lagi? Benar kan yang aku bilang tadi." Albert masih terus mengirimi Ella pesan singkat.
"Tauk, ah. Aku mau tidur. Besok pagi sekolah," batin bocah remaja tersebut. Ella membiarkan pesan dari Albert tanpa membalasnya.
Drrt! Baru aja Ella memejamkan mata, HP-nya kembali berdering. Sambil mengomel dalam hati, Ella mengambil HP dan melihat isi pesan tersebut. "Ngirim apa sih dia? Tumben banget betah chattingan?" ujarnya.
"Selamat tidur, La. Jangan lupa makan nanti ya."
Ella terkejut ketika membaca pesan tersebut. Mendadak dia melemparkan HPnya ke bawah bantal. "Kok dia bisa tahu aku mau tidur? Dia beneran memasang CCTV di kamarku?" ucap Ella pada dirinya sendiri.
Ella buru-buru mematikan lampu kamar dan menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya. "Kalau sudah begini, rasanya aku lebih nyaman kalau dia cuek dari pada perhatian. Aku nggak kuat melihat senyumannya. Aku juga nggak kuat menerima seluruh perhatiannya. Sampai kapan aku harus menahan semua rasa ini?" Ella pun tertidur karena kelelahan menangis.
Sementara di luar, tanpa diketahui oleh Ella, Albert bersandar di pintu kamar Ella sambil memastikan keadaan gadis itu. Mata dan tubuhnya yang lelah dikalahkan oleh perasaan bersalah pada calon anak tirinya tersebut.
"Maafkan aku, La. Aku tidak bisa memilihmu. Kamu harus tetap kuat dan sabar, jika nanti kamu resmi menjadi anakku," kata Albert dalam hati.
(Bersambung)
__ADS_1