Me Vs Berondong Mommy

Me Vs Berondong Mommy
Bab 59. Saat Terakhir


__ADS_3

“Tumben kamu menungguku? Biasanya kabur-kaburan?” tanya Albert saat menemui Ella sepulang sekolah. Pria itu menunggu di parkiran sekolah, di bawah pohon tetabuya pink yang bermekaran dengan indah bak sakura. Parasnya yang rupawan menarik perhatian kaum hawa, terutama siwi kelas satu yang belum pernah melihatnya.


“Aku lagi males berantem,” kata Ella. Dia menyandarkan tubuhnya pada sebuah mobil yang sedang diparkir. “Ada apa ke sini?” tanya gadis itu. Sejak tadi dia menundukkan kepalanya, menghindari menatap pria yang mengenakan kemeja lengan panjang tanpa dikancingkan, dan dilapis baju kaos di dalamnya.


“Aku mau kasih ini. Kemarin kelupaan,” ujar Albert sambil mengeluarkan jepit rambut yang dibeli Cleo tempo hari. Ella hanya memandang benda imut di tangan Albert itu dengan bibir membisu.


“Ambillah, ini hadiah dari Cleo. Bukan dariku,” ujar Albert sedikit memaksa.


Ella mengambil hadiah kecil itu dan berkata, “Terima kasih, Al. Sampaikan salamku pada Cleo. Kalau gitu, urusan kita udah selesai, kan?”


Albert menggelengkan kepalanya. “Belum. Aku harus memastikan keadaanmu." Albert menghentikan kalimatnya sejenak, dan menatap Ella yang masih tertunduk. "Besok aku akan menikah. Aku juga berharap kamu bisa mengakhiri perasaanmu padaku," lanjutnya lagi.


Raut wajah Ella yang tadinya datar menjadi sedikit berubah. “Ah, benar juga. Besok adalah hari pernikahan Mama dengannya. Mulai besok hubungan kami bakal berubah total,” gumam gadis itu sembari menguatkan tubuhnya agar tidak tumbang. Tetapi kemudian dia dengan cepat menguasai perasaannya dan membuang rasa pilu di hatinya.


“Aku baik-baik aja, Al. Untuk apa menangisi kamu?” kata Ella sambil tertawa. “Lagian aku memang nggak pernah menaruh perasaanku padamu. Jadi nggak ada yang harus diakhiri,” sambung gadis itu lagi.


“Bagus deh kalau gitu. Aku senang mendengarnya,” kata Al tersenyum manis, meski dia merasakan kebohongan dari bibir Ella, terutama saat melihat mata sembab gadis itu. “Kamu nggak penasaran sama hadiah yang diberikan Ghina?” pancing Albert.

__ADS_1


“Nggak, deh. Itu rahasia kalian berdua,” sahut Ella. “Udah, kan? teman-temanku udah nunggu, tuh. Kami janjian mau belajar kelompok di warnet,” kata Ella menunjuk para siswi SMA yang menunggunya di depan pagar sekolah. Gadis itu mencari alasan yang tepat, untuk berusaha kabur dari Albert.


“Oke, pergilah. Hati-hati di jalan,” sahut Albert. Ekor mata pria itu mengiringi punggung Ella yang menghilang di ujung jalan bersama teman-temannya.


“Ternyata kamu udah mulai memoles wajahmu," gumam Albert yang tadi melihat polesan lipgloss di bibir mungil Ella. "Semoga kamu menemukan kebahagiaanmu sendiri, La,” gumamnya lagi.


...🥀🥀🥀...


"Gaes, sebelum belajar kelompok kita beli cake dulu, yuk," ajak Ella.


"Hah? Beli cake? Kita kan baru aja siap makan?" sahut Imelda.


"Hmm? Apa nggak kemahalan, La?" celetuk Maira.


"Tumben kami pengen cake? Biasanya dapat gratis juga nggak mau," timpal Naya pula.


"Soalnya enak," kata Ella. "Dan katanya makanan manis bisa membuat rileks dan menghilangkan stress," sambung Ella dalam hati.

__ADS_1


"Ah, kalau kalian nggak mau cake, kita beli es krim aja. Sama beli siomay pedas juga. Kalian mau, kan?" ajak Ella memaksa teman-temannya. "Katanya makanan pedas juga bagus untuk hilangkan stress, kan? Bisa nangis sepuasnya tanpa bikin curiga," batin Ella.


Maira mengenggam tangan Ella. "La, kamu baik-baik aja?" tanya gadis itu.


"Ah, aku nggak kenapa-kenapa, kok," jawab Ella.


"Kalau kamu butuh tempat cerita, kami siap dengerin, kok. Tapi kalau kamu nggak mau cerita, kami juga siap nemenin kamu menumpahkan air matamu," ucap Naya dan Imelda pula.


Bruk! Ella menjatuhkan dirinya ke tanah berlapis rumput. "Huhuhu ..." Ella menangis tersedu-sedu. Ketiga temannya mengusap punggungnya dan menggenggam tangannya.


Selama lebih dari dua ratus empat puluh detik, Ella menumpahkan air matanya tanpa mengucapkan apa pun.


"Huhuhu, dasar cewek bodoh! Kenapa harus menangisi cowok nggak berguna itu, sih? Dia bahkan nggak pernah melihatmu sebagai perempuan," jerit Ella. Maira memberikan sebungkus tisu, untuk membersihkan lendir yang menumpuk di hidungnya.


"La, kamu bukan cewek bodoh. Dan menangis bukanlah hal memalukan," hibur Imelda.


"Ini terakhir kalinya aku menangisinya. Ya, harus. Aku nggak boleh cengeng," tekad Ella.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2