Me Vs Berondong Mommy

Me Vs Berondong Mommy
Bab 31. Aku Ayahnya


__ADS_3

"Jadi ini udah semuanya, ya? Surat izin impor barang dan pemeriksaan bea cukai-nya udah distempel juga," ujar seorang petugas pelabuhan.


"Terima kasih," balas Albert. "Fyuh, syukurlah udah kelar semua menjelang malam," gumam pria itu.


Sinar sang surya mulai meredup. Perlahan bintang raksasa itu bergerak menuju ke ufuk barat, untuk berganti tugas dengan sang rembulan. Warna jingga nan elok, membentang sepanjang cakrawala hingga ke garis horizon.


Albert memutar kemudinya keluar dari area pelabuhan. Aroma laut masih terasa. Udara hangat berembus pelan ke arah daratan, mengajak burung camar pulang ke sarangnya.


Sekelompok remaja berseragam putih abu-abu berjalan di trotoar sambil bersenda gurau. Mereka terlihat begitu ceria menikmati masa muda. Sesekali tangan jahil mereka memetik bunga tanjung dan bunga cempaka, yang sengaja di tanam di tepi jalan.


"Astaga! Anak SMA?" Albert tiba-tiba teringat sesuatu, saat melihat bocah-bocah SMA tersebut. "Aku lupa mengabari dia, kalau Ghina baik-baik aja." Pria itu menghentikan laju kendaraannya, lalu mengambil ponselnya dari dalam saku celana.


"Ya ampun! Banyak banget telepon masuk dan pesan dari Ella. Dia pasti sangat cemas menunggu kabar dariku," kata Albert. Kedua mata pria itu membulay, melihat puluhan misscall dari gadis itu.


Baru saja Albert hendak menelepon Ella, Ghina sudah duluan menghubunginya. "Ada apa, Ghina?" kata Albert.


"Apa kamu sibuk?" tanya Ghina.


"Aku baru aja keluar dari pelabuhan. Mau pulang. Kenapa?" ucap Albert.

__ADS_1


"Gimana, nih. Ella belum juga pulang," kata Ghina.


"Maksudmu pulang sekolah? Ini kan baru jam setengah enam sore. Bisa aja Ella masih ada kegiatan di luar," jawab Albert santai.


"Ta-tapi perasaanku nggak enak. Tadi kami janjian mau mengunjungi makam papanya, lalu tiba-tiba aku membatalkannya karena ada urusan. Aku juga menolak panggilan teleponnya. Jadi ..."


"Jadi kamu berpikir kalau dia ngambek, terus kabur kayak kemarin?" ujar Albert memotong ucapan kekasihnya.


"Iya," jawab Ghina singkat.


"Mungkin aja sekarang dia mengunjungi makam papanya sendirian," tebak pria itu.


"Aku yakin, Ella nggak kabur seperti kemarin. Justru dia seharian ini mencemaskanmu. Urusan yang kamu maksud itu membayar hutang bersama rentenir itu, kan?" kata Albert.


"Eh, kamu tahu?" seru Ghina terkejut.


"Iya. Tadi Ella cerita padaku, karena mencemaskanmu. Duh, kenapa kalian kompak bikin aku pusing hari ini? Aku tadi seharian putar-putar di Sakura Square untuk mencarimu. Tapi semuanya udah aman kan sekarang?" ujar pria itu.


"Ya, syukur semuanya berjalan lancar," gumam Ghina. "Sekarang tinggal masalah Ella. Apa Ella tahu kalau aku baik-baik aja?" tanya wanita itu.

__ADS_1


"Itulah masalahnya. Setelah dari Sakura Square dan melihatmu aman, aku langsung ke pelabuhan untuk lanjutin kerjaan. Dan sampai sekarang, aku belum sempat menghubungi dia lagi," kata Albert.


Tiba-tiba Albert kepikiran sesuatu. Demikian juga dengan Ghina. "Ella nggak berbuat hal bodoh, dengan mendatangi Sakura Square sendirian, kan?" batin Albert dan juga Ghina.


Layar ponsel Albert menyala. Seseorang meneleponnya. "Ghina, Ella meneleponku. Nanti aku telepon kamu lagi." Albert memutuskan sambungan telepon dengan Ghina, lalu mengangkat telepon dari Ella.


"Halo, Ella," ujar Albert buru-buru.


"Halo, apa ini dengan Albert?"


Albert terkejut mendengar suara pria yang menghubunginya. "Kenapa HP Ella bisa ada di tangan laki-laki?" batin Albert. "Ini siapa? Kenapa HP Ella ada sama kamu?" tanya Albert setengah membentak.


"Saya supir angkot. Jadi benar, Anda kenal dekat dengan Ella?" tanya supir angkot bersuara berat tersebut.


"Iya. Aku ... Aku ayahnya," jawab Albert dengan sedikit ragu. "Di mana Ella sekarang? Aku mau bicara dengannya," desak Albert.


"Ayahnya? Tapi kenapa di sini tertulis majikan, ya?" ujar supir angkot tersebut. "Anak Anda ada sama saya, Pak. Tapi sekarang dia lagi nggak bisa bicara dengan Bapak," ujar pria itu.


"Kenapa nggak bisa? Sebenarnya Ella kenapa?" seru Albert.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2