Me Vs Berondong Mommy

Me Vs Berondong Mommy
Bab 9. Cowok Ganteng


__ADS_3

Ella berisitirahat di ruang UKS selama jam pelajaran kedua. Tiba-tiba Naya dan Maira menerobos masuk ke dalam UKS. Wajah mereka tampak cemas.


“La, kamu sakit parah banget, ya?” tanya Maira. Remaja itu menempelkan telapak tangannya di jidat Ella.


“Hngg?” Ella yang masih merasa lemas, hanya bisa menatap kedua temannya dengan bingung.


“Kamu dijemput cowok cakep, tuh. Gila, heboh banget di luar. Berasa ketemu bias.” Naya bercerita dengan antusias. Dia lalu meletakkan tas milik Ella di atas tempat tidur.


“Cowok cakep? Siapa?” Ella memang tidak tahu siapa yang datang menemuinya, karena HP-nya tertinggal di dalam kelas. Lagipula dia nggak punya kenalan cowok cakep.


“Ya mana kami tahu. Dia pake jas gitu. Kayak anak kuliahan, tapi pakaiannya formal. Cakep banget pokoknya. Senyumnya juga manis,” ujar Naya mendeskripsikan pria yang dia lihat tadi.


“Pacar kamu, ya? Kok nggak cerita sih ke kami, kalau kamu punya pacar ganteng gitu?” timpal Maira pula.


Ella masih berpikir keras. “Siapa sih yang mereka maksud? Aku kan nggak punya kenalan cowok ganteng?” gumam Ella. Selama ini, teman lelakinya hanya teman sekelas.


“Kayak anak kuliahan, tapi pakaiannya formal?” Ella mengulang kata-kata Naya tadi. “Hey, yang mereka maksud bukan Albert, kan?” ucapnya dalam hati. “Kalian lihat nggak? diap ke sini pakai mobil apa?” tanya Ella mulai gelisah.

__ADS_1


“Gak tahu, deh. Tapi denger-denger BMY Hitam. Dia tadi langsung ke ruang guru dan mencarimu,” jawab Naya sambil mengingat-ingat.


“BMY? Syukurlah, ternyata bukan Albert. Lagian ngapain juga dia ke sekolah?” gumam Ella lega. Mobil yang dimiliki Albert adalah Bugatti, yang merupakan mobil termahal saat ini.


Tiba-tiba Ella teringat sesuatu. “Tunggu! Kalian nggak salah orang, kan? Yang namanya Ella di sekolah ini kan bukan cuma aku. Anak kelas satu juga ada yang bernama Ella,” ujarnya.


“Gak mungkin salah. Tadi dia menyebut nama Azura Auristella, kok. Memangnya siapa lagi Azura Auristella selain kamu?” sahut Naya dan Maira kompak.


“Siapa sih yang nyari aku ke sini?” Ella tidak bisa menebaknya.


Beberapa saat kemudian, para siswi itu mendengar langkah kaki yang mendekat ke ruang UKS. Mereka mendengar Pak Guru bercakap-cakap dengan seseorang. Ella memutar lehernya ke arah jendela, untuk melihat siapa yang datang.


“Kami keluar dulu ya, La,” ujar Naya dan Maira ketika Pak Guru sudah sampai di depan UKS.


“Please, jangan tinggalin aku,” ucap Ella. Sayangnya Naya dan Maira tidak mendengarnya. Kedua siswi itu meninggalkan Ella di UKS.


“Ella.” Seorang pria memanggil namanya dengan lembut.

__ADS_1


“Itu suara Albert,” batin Ella panik. Gadis belia tersebut masih bersembunyi di dalam selimut. Dia pura- pura tidur untuk menghindar dari pria itu.


“Sepertinya Nak Ella sedang tertidur. Anda boleh menemaninya di sini. Saya akan masuk ke kelas dulu. Nanti kalau ada apa-apa, segera hubungi saya,” kata Pak Guru.


“Pak, please jangan tinggalin kami. Bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan nanti,” batin Ella panik. Dia sudah mulai sesak dan kepanasan di dalam selimut tebal tersebut.


“Baik, Pak. Pintu UKS-nya akan saya biarkan terbuka,” ucap Albert pada Pak Guru. Tidak lama kemudian Ella mendengar langkah kaki menjauh. Pak Guru pasti sudah meninggalkan ruangan tersebut.


“Buka selimutmu, Ella. Aku tahu kalau kamu pura-pura tidur,” ujar Albert ketika Pak Guru telah menjauh. Ella masih bergeming di dalam sana.


“Kamu mau pingsan di dalam selimut karena kekurangan oksigen? Aku akan segera panggilkan ambulan, untuk membawamu kalau pingsan nanti,” kata Albert lagi.


"Biarin aja. Kenapa kamu harus peduli?" balas Ella kesal.


"Oh, kamu nggak takut sama ambulan rupanya? Kalau gitu akan ku bopong di sepanjang koridor kelas sampai ke parkiran. Mau?" ancam Albert sambil tersenyum jahil.


"Hah? Apa yang dibilang cowok ini?" ucap Ella terkejut.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2