
"Kamu mau pergi sekolah, kan? Ayo Ayah antar." Albert menggenggam lengan Ella yang mungil dan lembut. Tubuh Ella langsung membeku. Sentuhan dari pria itu membuat luka yang hampir sembuh kembali terkoyak.
"Nggak usah. Aku bisa pergi sendiri, kok," tolak Ella tanpa menoleh ke belakang. Dia berusaha melepaskan genggaman tangan Albert.
Pria itu semakin menggenggam lengan Ella dengan erat. "Nggak usah bawel kalo nggak mau telat. Ayo ikut aja," ujarnya memaksa gadis itu. Albert lalu berjalan mendahului Ella tanpa melepaskan genggamannya. Mau tidak mau siswi SMA itu pun mengikutinya.
...🥀🥀🥀...
"Wangi ini ..." Ella menghembuskan napasnya secara perlahan, agar wangi parfum pria yang memenuhi memorinya tersebut lenyap seluruhnya.
Sayangnya itu adalah perbuatan yang sia-sia. Kaca mobil yang tertutup rapat, serta posisi duduk mereka yang berdekatan, membuat aroma yang lembut itu semakin tersimpan hingga ke sanubari sang gadis remaja itu. Benar kata Albert tempo hari, wangi parfum yang dulu sangat dia sukai, kini mencium aromanya saja sudah membuatnya pusing dan mual.
"Nanti turunkan aku di depan Minimarket samping sekolah, ya," pinta Ella, memecah keheningan di dalam mobil.
"Kenapa nggak langsung depan gerbang aja? Nanti kamu harus jalan kaki lagi, dong. Apa nggak telat?" tanya Albert.
__ADS_1
"Pokoknya turunkan aku di situ. Titik." Tegas Ella.
"Nggeh, Ndoro Putri," ujar Albert mengalah. "Duh, gini amat punya anak perempuan," gumam Albert sambil melirik ke arah Ella.
"Kamu bilang apa?" tanya Ella.
"Gini amat punya anak perempuan. Rewel, banyak maunya," ulang pria itu.
"Ish mana ada. Itu kan permintaan biasa," bantah Ella. "Oh, iya. Nanti jangan buka kaca mobil, waktu nurunin aku," pinta Ella lagi.
"Btw, kamu kok dari tadi nggak mau lihat ayah, sih?" ucap Albert beberapa saat kemudian. "Emang melihat wajah ayah tuh berdosa, ya? Atau... karena aku menyebut kata-kata 'ayah' dari tadi?"
"Nggak dua-duanya," ujar Ella. "Duh, kok rasanya sekolahku jauh banget, sih? Malah lebih terasa cepat naik angkot walau pun sering nge-tem," gerutu Ella mulai tak betah. Padahal laju kendaraan berada di atas lima puluh kilometer per jam, karena jalanan cukup lengang.
"Ya terus?" desak Albert.
__ADS_1
"Ya nggak ada alasannya. Males lihat aja," sahut Ella.
"Move on dong, La. Status kita udah beda sekarang," bisik Albert.
"Ya aku tahu," jawab Ella sambil menahan air matanya. "Bukannya kamu yang nggak bisa move on, sampai datang mencariku ke rumah? Ah, atau kamu baru mulai sadar atas perasaanmu, ya?" sindir Ella dengan suara bergetar.
"Aku nggak cowok kayak gitu, sayang," ujar Albert keceplosan.
"Sayang?" batin Ella. Matanya membulat, mendengar kata-kata itu. "Ngomong-ngomong, aku nggak bakal punya adik, kan?" Ella mengalihkan cerita.
"Ya itukan tergantung kamu dan mama. Ayah kan cuma na ... nam." Albert menghentikan kalimatnya.Suasana dalam mobil pun menjadi semakin canggung.
Wajah Ella langsung memerah, karena salah memilih tema cerita. "Lupakan aja yang kubilang tadi," ucapnya.
"Lupakan juga yang Ayah bilang barusan," balas Albert seraya menepikan mobilnya di depan minimarket.
__ADS_1
(Bersambung)