Me Vs Berondong Mommy

Me Vs Berondong Mommy
Bab 88. Penyesalan Ghina


__ADS_3

Ghina teringat saat suaminya baru saja meninggal dulu. Kondisi Ella sangat tidak baik kala itu. Gadis itu selalu menyalahkan dirinya sendiri, yang pergi ke sekolah pagi itu.


Berhari-hari Ella berada di dalam ruang kerja sang ayah, sambil duduk menyendiri. Tidak ada yang dilakukannya di sana. Dia hanya duduk diam di sisi jendela. Menatap langit dan halaman rumah yang berumput. Memandangi matahari dari terbit hingga terbenam lagi. Sebuah boneka beruang hadiah ulang tahun dari sang ayah, menjadi temannya di sana.


Selama lebih dari dua minggu, Ella tidak masuk sekolah. Gadis pintar itu pun sempat terancam tidak naik kelas. Ella seakan tidak peduli lagi pada masa depannya.


Sementara Ghina terpaksa mengambil alih semua peran suaminya, termasuk mencari nafkah. Wanita itu pergi pagi-pagi sekali, dan pulang larut malam setelah buah hatinya tidur dengan lampu menyala. Ella tertidur karena kelelahan menunggu sang ibu pulang. Tidak jarang Ghina harus pulang sembunyi-sembunyi, untuk menghindari para pria yang menagih hutang padanya. Ketika itulah gosip miring di antara para tetangga bermunculan. Mereka mengira jika Ghina bermain api dengan banyak pria.


Suatu pagi Ghina terkejut bukan main. Tanpa angin tanpa hujan, gadis ciliknya mengenakan pakaian seragam dan tersenyum manis. "Ma, bikinkan aku nasi goreng, dong. Aku mau sekolah. Nanti sore juga ada latihan pramuka," kata Ella kecil.


Air mata Ghina tumpah seketika. Dia tak menyangka gadis ciliknya yang pemurung telah kembali ke sedia kala. Semangat hidup Ghina yang hampir sirna, akhirnya kembali.


"Tunggu, ya. Kamu duduk manis aja dulu di sana. Mama mau masak nasi goreng, telur dadar dan goreng nugget untukmu," ucap Ghina dengan sangat ceria.


"Gadis kecil itu tampak begitu tegar dan mandiri. Dia bahkan bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah ketika aku bekerja. "Tetapi tetap saja, setiap aku pulang ke rumah, aku selalu melihatnya berada di tempat yang sama. Dia pasti sangat kesepian dan merindukan ayahnya saat itu," batin Ghina sambil mengusap air matanya.


"Gadis yang malang. Tapi justru ibunya tak mengerti. Ibunya selalu menganggap kalau dia tegar. Bukan hanya merebut cinta pertamanya. Bahkan sampai beberapa saat yang lalu... Aku... merasa cemburu dengannya." Ghina kembali menitikkan air mata. Tangannya gemetar.


"Sayang, kamu belum tidur?" tanya Albert yang mendengar suara isak tangis di sebelahnya. Klak! Pria itu menyalakan lampu kamar. Dia lalu mengambil selembar tisu untuk mengusap air mata sang istri.


"Kamu mikirin apa lagi? Ini udah jam satu malam, lho," kata Albert seraya mengecup pipi istrinya.


"Aku pasti Ibu terburuk di dunia. Menelantarkan anakku, merebut cinta pertama anakku, hingga cemburu padanya. Ibu macam apa aku ini?" isak Ghina.


"Shhh, gak boleh ngomong gitu. Selama ini kan kamu telah berjuang keras untuk Ella, kan? Sekarang Ella telah tumbuh menjadi gadis yang sehat dan cerdas. Itu karena siapa kalau bukan dirimu?" Albert mendekap Ghina ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Tapi a-aku ... Aku malu pads diriku sendiri. Walau pun sesaat, aku masih merasa cemburu dan egois," kata Ghina.


"Sifat cemburu dan egois itu bisasa. Tandanya kamu beneran mencintaiku. Asal jangan terlalu berlebihan," sahut Albert. Memangnya Ella ada mengatakan sesuatu padamu?" tanya pria itu.


Ghina menggelengkan kepalanya. "Dia tadi cuma mengirimiku pesan sebelum magrib. Katanya dia sudah sampai di rumah," sahut Ghina.


"Sayang, aku tadi juga sempat khawatir ketika melihat sikap Ella yang dingin, ketika kita membongkar semua rahasianya. Tetapi menurutku, dia justru bersikap begitu karena dia telah dewasa. Dia mengerti bahwa tidak ada lagi yang harus dipermasalahkan di antara kita," jelas Albert.


"Tapi apa itu mungkin? Seharusnya dia marah padaku, kan?" kata Ghina.


"Untuk apa dia marah kalau semuanya telah jelas? Mungkin benar aku dulu pernah ada di hatinya. Tapi sekarang semuanya udah berbeda, kan? Dia mengizinkan kita menikah karena sangat nenyayangi kamu. Dia juga berterima kasih padamu, karena kembali menghadirkan sosok ayah dalam hidupnya," ujar Albert lagi.


"Begitu, kah?" tanya Ghina dengan perasaan ragu.


"Hu'um. Sama seperti waktu kecil dulu, dia pernah merasa terpuruk karena kehilangan ayahnya. Tapi kemudian dia bangkit kembali, kan? Saat ini dia juga begitu. Jalan hidup Ella masih panjang, sayang. Dia masih bisa bertemu pria lain yang lebih baik dalam hidupnya," kata Albert.


"Itulah tugas kita. Memastikan agar dia tidak menyimpan sebuah luka sendirian," kata Albert. "Jangan cemburu terlalu berlebihan, Ghina. Sejak dulu rasa sayangku pada kalian berdua itu berbeda. Dulu dia adalah adikku. Sekarang anakku," ucap Albert.


Ghina tersenyum. "Aku beruntung punya suami kayak kamu," ucapnya. Kepalanya menelusup ke dada bidang milik pria itu.


"Ella juga beruntung memiliki ayah kayak aku," balas Albert.


"Huh?" Ghina menahan tawa melihat keangkuhan pria itu. "Hei, nggak ada yang muji kamu kayak gitu," protes Ghina.


"Ela pasti berpikir seperti itu di dalam hatinya. Cuma dia gengsi aja ngungkapinnya," kata Albert dengan sangat pede.

__ADS_1


"Hilih, kepedean," cibir Ghina.


Albert hanya tertawa kecil. Dia senang melihat senyuman istrinya telah kembali. "Aku juga beruntung punya istri kayak kamu," ucapnya.


"Makasih, sayang," bisik Ghina.


"Nggak ada orang tua yang sempurna di dunia ini. Aku juga masih harus belajar menjadi ayah yang baik. Masih ada banyak kesempatan bagimu untuk menjadi ibu yang hebat," ucap Albert memberikan support pada sang istri.


"Terima kasih, sayang," ucap Ghina sekali lagi. "Terus gimana tanggapanmu soal anak yang gak mau punya adik lagi?" tanya Ghina.


"Menurutmu? Apa kita harus bikin kejutan untuk Ella malam ini? Seorang adik kecil untuk hadiah kelulusan sepertinya oke juga," kata Albert sambil tersenyum nakal. Jemari menari pundak wanita itu untuk semakin merapat pada tubuhnya.


"Hiiisss, pikiran mau kemana sih?" tolak Ghina.


"Jangan malu-malu, Ghina. Kita kan sudah menikah?" Albert mengecup pipi Ghina dengan lembut.


Grrroowwl! Tiba-tiba suara dari perur Ghina mengacaukan semuanya. Albert yang hampir bertingkah liar, mendadak menghentikan aktivitasnya.


"Itu suara perutmu? Kamu kelaparan ya?" tanya Albert sambil menahan tawa. "Ghina hanya memegangi perutnya yang terus berbunyi.


"Makanya kalau aku ajak makan itu jangan menolak. Mau aku masakan sesuatu?" ucap pria itu.


"Memang kamu bisa memasak? Aku belum pernah melihatmu memegang panci atau kuali," kata Ghina ragu.


"Kamu meragukan kemampuan seorang bos restoran Jepang?" ucap Albert. "Ayo ke dapur. Aku masakan kamu sesuatu yang enak.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian bau harum memenuhi setiap sudut dapur mewah itu. Ya ampun aku pikir kamu mau masak apa? Rupanya kamu memasak Indomie?" Tawa Ghina. Meski demikian dia tidak mengucapkan terima kasih kepada suaminya dan makan dengan lahap.


(Bersambung)


__ADS_2