Me Vs Berondong Mommy

Me Vs Berondong Mommy
Bab 73. Janji Ella


__ADS_3

"Aku bilang ke Albert, kalau tidak boleh ada yang ditutupi di antara keluarga. Padahal aku sendiri menyembunyikan soal beasiswa itu dari mama. Dasar cewek pengecut," ujar Ella pada dirinya sendiri.


Gadis itu memutar-mutar pena di ujung jarinya, sambil berpikir keras. "Gimana ini? Sabtu besok ada rapat wali murid. Mau tidak mau mama pasti bakalan tahu soal beasiswa itu. Aku juga nggak bisa menyembunyikan hal ini selamanya." Ella semakin resah.


"Apakah aku akan dipaksa pindah ke sini, kalau mama tahu nilaiku menurun?" pikir gadis itu galau.


"Sayang, kamu belajar atau melamun? Mama lihat dari tadi kok bengong aja lihatin kertas kosong?" tegur Ghina yang berdiri di pintu kamar. Di tangannya terdapat sebuah piring berisi bakwan jagung dan segelas jus apel.


Ella menundukkan pandangannya, untuk melihat halaman buku yang dia buka. Ternyata benar, lembaran itu hanyalah buku tulis dengan halaman kosong. "Ah, aku ngapain sih dari tadi? Buang-buang waktu aja," batin Ella.


"Lagi mikirin apa, sih? Kayaknya berat banget? Ini kok bakwan jagungnya nggak di makan?" Ghina mengusap rambut putrinya yang panjang.


"Nanti aja, Ma. Aku masih kenyang." Ella menghirup napas dalam-dalam untuk mengumpulkan keberanian. Ini kesempatan yang bagus untuk bicara. "Ma, sebenarnya beasiswaku di sekolah dicabut," kata Ella dengan wajah tegang.


"Sejak kapan? Kok Mama nggak tahu?" Ghina mengerutkan keningnya. Nada suaranya tetap datar, tifak menunjukkan intonasi marah.


"Kemarin, Ma. Jadi bulan depan aku harus bayar uang spp penuh," kata Ella. Ada perasaan lega dalam dirinya, setelah mengucapkan kejujuran pada sang ibunda. Dia harus berani bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuat.


"Nggak masalah kalau memang harus membayar penuh. Tapi kenapa bisa dicabut? Nilai kamu turun karena kebanyakan bermain di warnet?" selidik Ghina. Tatapannya yang dingin cukup mengintimidasi bocah SMA tersebut.


"Nilaiku memang turun, Ma. Tapi bukan karena kerja di warnet. Nilaiku anjlok total waktu kita bertengkar dulu. Aku nggak bisa fokus belajar. Maaf, Ma," ucap Ella tanpa berani memandang wajah ibundanya.


Grep! Ghina menarik tubuh Ella ke dalam pelukannya."Beneran gara-gara itu? Jadi sampai sekarang kamu masih nggak fokus belajar?" kata Ghina tidak percaya gitu aja, namun di lubuk hatinya yang terdalam dia merasa bersalah.


"Iya, Ma. Aku sangat menyesal," bisik Ella. "Malah sejak aku kerja di warnet dan belajar kelompok bareng teman, nilaiku mulai membaik," ucap Ella.


"Masa sih? Jangan-jangan kamu galau gara-gara cowok?" ujar Ghina sambil tersenyum tipis, sambil merenggangkan pelukannya. Wanita itu terus mengorek permasalahan Ella.


"Apa sih? Nggak, Ma. Anu ... Itu ... " Ella merasa tertampar. Sindiran yang dilontarkan Mamanya itu sangat tepat sasaran.


"Terus kenapa kamu gugup? Kalau emang bener karena cowok juga nggak apa-apa, kok. Di usia kamu gini wajar aja kalau mulai kenal cowok. Malah aneh kalau kamu masih belum puber" kata Ghina terus mendesak putrinya untuk jujur.

__ADS_1


"Aku nggak gugup kok, cuma kaget aja," kilah Ella. Dia memainkan rambutnya dengan jari.


"Mama tahu kalau kamu lagi bohong. Mama jadi makin penasaran, siapa sih cowok yang udah bikin kamu galau gini?" ujar Ghina tersenyum jahil.


Ya, gimana mau bilang, kalau cowoknya itu suami mama sekarang. Tapi sekarang nggak lagi kok, Ma. Aku harus move on," Batin Ella dalam hati.


"Kok malah ngelamun?" tegur Mama.


"Beneran nggak ada kok, Ma. Lagian udah kelas tiga gini mana ssmpat lagi mikirin soal cowok? Aku harus fokus sama masa depan," ujar Ella, yang sekalian menguatkan tekad di dalam hati.


"Oh, bagus dong kalau kamu punya prinsip seperti itu. Tapi mama nggak larang kamu dekat dan berteman sama cowok , asalakan tahu batasan dan nggak mengganggu sekolahmu," ucap Ghina. "Dan Mama juga nggak mau kita bertengkar lagi, sayang," imbuh wanita itu.


Ella memberanikan diri menatap wajah ibundanya. Ternyata seulas senyum terukir di wajah wanita cantik itu. "Aku janji akan memperbaiki nilaiku dan meraih kembali beasiswa itu, Ma," janji Ella.


"Kamu harus berjanji pada dirimu sendiri. Bukan pada Mama. Karena semua ini nanti untuk dirimu juga. Lalu, soal biaya sekolah itu kamu nggak perlu khawatir. Mama bisa memenuhinya sebesar apa pun biayanya," kata Ghina. Wanita itu lalu mencium kening putrinya dan memeluknya dengan erat.


"Aku beneran menyesal udah berantem sama Mama kemarin, cuma gara-gara mikirin egoku sendiri," batin Ella.


*


Ghina merenggangkan pelukannya lalu berkata, "Sebenarnya Mama nggak rela kamu pulang. Pindah ke sini aja, sayang. Kamar kamu kan cantik," bujuk Ghina.


"Pffft ..." Albert menyemburkan air yang diminumnya karena mendadak tertawa. "Kalau kamu kayak gini terus gak bakal kelar. Udah, mendingan kamu ikut nganterin Ella pulang, deh," usul pria itu.


"Nggak bisa, sayang. Sebentar lagi waktu cek up Mama. Kamu kan tahu sendiri, Mama kamu tuh manja banget sama aku. Nggak bakalan mau pergi ke rumah sakit kalau kamu yang nganter," ucap Ghina.


Ella menatap Ghina dan Albert dengan hati trenyuh. Dia baru tahu, kalau ibunda Albert yang sekarang menjadi neneknya, sangat dekat dengan Ghina. Hal itulah yang membuat Albert yakin memilih mantan asisten rumah tangganya itu menjadi istri.


"Ma, aku kan nggak pergi jauh. Besok kalau ada libur aku main sini lagi," kata Ella.


"Nggak, Mama nggak izinkan kamu main sini lain kali. Kamu tuh harusnya pindah sini, tinggal bareng Mama," ujar Ghina dengan bibit manyun.

__ADS_1


"Iya, Ma. Sekarang, aku pulang dulu, ya." Ella memeluk mamanya lalu mencium pipi kanan dan kiri wanita itu.


*


"Jadi ceritanya sekarang kamu udah move on, nih," ujar Albert sambil mengemudi.


"Move on? Aku nggak pernah move on, tuh," kata Ella.


"Lah, terus? Kamu nggak berpikiran ada hubungan terlarang, kan?" kata Albert lagi.


"Nggak, lah. Aku juga ngerti adab kali," celetuk Ella. "Maksudnya aku tuh, ngapain move on? Kan aku dari dulu emang gak pernah menyukai seseorang," ujar Ella lagi.


"Yang bener? Terus kenapa waktu itu sampe nangis-nangis dan nggak fokus belajar?" cibir Albert.


"Ya waktu itu kan aku cuma kaget mama mau nikah lagi. Terus kamu nguping obrolan aku sama mama tadi, ya?" balas Ella.


"La, panggil aku ayah," tegas Albert.


"Maaf, lain kali aku akan membiasakan diri," ujar Ella.


"Lagian ayah nggak nguping, kok. Kebetan dengar aja pas lewat tadi. Ayah dukung tekad kamu yang mengejar pendidikan," sambung pria itu.


"Apa, sih? Omongannya kayak bapak-bapak banget," tawa Ella.


"Kan aku emang udah jadi bapak-bapak," sahut Albert.


"Ah, benar juga. Oh iya, kemarin Cleo menemuiku untuk mengawasi a-ayah biar nggak nakal. Aku baru tahu, kalau mama bukan satu-satunya," kata Ella.


"Namanya cowok, biasa kan berteman dengan banyak cewek? Tapi kalau mama kamu yang ayah pilih, berarti dia yang terbaik. Dialah satu-satunya wanita yang kucintai hingga tua nanti" timpal Albert.


"Ah, Mama beruntung banget," batin Ella.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2