
"Sayang, ayo sarapan, Nak." Ghina mengetuk pintu kamar putrinya beberapa kali. "Sayang? Kamu udah bangun, kan? Ayo sarapan. Mama masak ayam cabe hijau kesukaan kamu, tuh," panggil Ghina lagi.
Ceklek! Wanita itu memutar kenop pintu kamar Ella. Pintu kayu itu tidak terkunci. Ghina pun membukanya sedikit lebih lebar.
"Ella?" Ghina mengerutkan keningnya, lalu buru-buru mencari sang suami.
"Al, kamu ada lihat Ella, nggak?" tanya Ghina dengan suara panik.
"Nggak, emang kenapa?" tanya Albert yang sedang memasang kancing baju kemejanya.
"Ella gak ada di kamarnya, sayang. Kamarnya udah bersih dan rapi," kata Ghina.
"Udah pergi sekolah, mungkin," jawab Albert dengan santai. Dia lalu meminta bantuan Ghina untuk mengambil ikat pingganggnya yang tergantung di lemari.
"Ke sekolah apanya? Ini baru jam enam, sayang? Gabriel juga belum datang untuk menjempurnya. Apa dia menghindari kita seperti dulu lagi?" kata Ghina cemas.
"Gak usah overthinking gitu. Ella tuh udah mulai dewasa. Bisa aja kan dia hari ini ada piket, atau kegiatan lainnya? Kenapa nggak coba kamu tanya aja sama satpam depan rumah? Dia pasti lihat Ella pergi tadi," kata Albert lalu mengecup pipi sang istri.
"Duh, kenapa aku nggak kepikiran dari tadi, sih?" Ghina berbegas mengambil HP-nya lalu menelepon satpam pribadi rumah mereka, yang berjaga di gerbang depan rumah.
"Sayang, tunggu dulu. Ikat pinggangku mana?" tanya Albert lagi.
...🥀🥀🥀...
"Duh, aku ngapan aja sih tadi malam? Gara-gara denger suara horor dari kamar mama, aku malah langsung tidur untuk menenangkan pikiran. Aku lupa kalau hari ini di suruh bawa telur itik dan telur puyuh, untuk praktikum."
Gadis manis itu meminta pada supir taksi di depannya, untuk mempercepat laju mobilnya dan mengarah ke sebuah pasar tradisional. Bocah berseragam SMA itu lalu berlari ke tengah pasar untuk mencari benda yang diminta oleh guru di sekolahnya.
"Ada jual telur itik dan telur puyuh, Pak?" tanya Ella di salah satu kios.
"Nggak ada, Dek. Di sini cuma jual beras, tepung, sama gula. Di toko dalam sana ada, tuh," ujar pedagang beras tersebut.
"Terima kasih, Pak." Remaja itu lalu mengayunkan kakinya ke kios yang ditunjuk pedagang tadi. Ella tidak mempedulikan sepatunya yang tampak kotor karena lumpur, serta seragamnya yang bau pasar. Dia lalu membeli beberapa butir telur itik dan sekantung telur puyuh.
__ADS_1
Lima belas menit kemudian. Mobil hitam buatan Jepang itu berhenti tepat di depan gerbang sekolahnya. Suasana sekolah tampak sepi. Sepertinya lonceng masuk baru aja berbunyi.
"Terima kasih, Pak. Ini ongkosnya," ucap Ella sambil memberikan uang pas.
"Sama-sama, Dek," jawab supir taksi tersebut dengan ramah.
"Ella, akhirnya Lu datang juga. Tumben Lu telat?" bisik Naya.
Ella memasuki kelas dengan kikuk dan napas terengah-engah. Semua pasang mata tertuju padanya. "Gue lupa kalau hari ini di suruh bawa ini," bisik Ella sambil mengangkat bungkusan plastik berisi telur.
"OMG, banyak banget. Kita kan cuma disuruh bawa satu butir aja masing-masing telur," kata Naya terbelalak, sambil tertawa cekikikan.
"Ya mau gimana lagi? Masa Gue mesti telur puyuh sebutir doang?" balas Ella. "Tapi Bu Guru belum datang, kan?" tanya gadis itu.
"Belum, kok. Eh, btw gimana caranya Lu bisa lolos dari satpam depan?" tanya Naya penasaran.
"Kebetulan tadi Gue datang barengan sama anak anggota Dewan yang kelas satu itu," ujar Ella.
"Selamat pagi anak-anak," ujar Bu Guru yang baru aja masuk kelas.
"Ayo, kumpulkan angket yang ibu bagikan hari sabtu kemarin."
"Waduh! Gawat! Aku lupa membawanya karena kejadian kemarin. Mana harus pakai tanda tangan mama lagi. Kertasnya aku letakkan di mana ya tadi malam?" Ella menepuk jidatnya sendiri.
Semua siswa mengumpulkan lembaran angket tersebut ke meja guru. Ella yang mulai panik, perlahan beringsut dari tempat duduknya, hendak melarikan diri ke toilet.
"Kok kurang satu? Siapa nih yang belum mengumpulkan?" tanya Bu Guru setelah menghitung lembaran kertas tersebut.
Ella yang baru saja akan keluar kelas mendadak menghentikan langkahnya. Semua mata menuju padanya karena hanya dia seorang yang tidak berada di kursinya.
"Mampus aku! Bikin alasan apa, nih?" pikirnya panik. Bibirnya membuat senyuman masam.
"Ella! Mau ke mana kamu? Sudah mengumpulkan angket?" tanya Bu Elya pada siswinya tersebut.
__ADS_1
"Anu, Bu. Maaf. Em... Saya lagi sakit perut," jawab Ella ngasal. Duh, Ella terpaksa berbohong demi menyelamatkan diri.
"Ibu nggak percaya. Kamu nggak pernah keluar kelas tanpa izin. Kamu pasti belum mengumpulkan angket, ya? Mana lembaran angket kamu?" Wali kelas XI IPA 1 itu menagih kertas yang dibagikannya kemarin.
"Ma-maaf Bu. K-ketinggalan di rumah, Bu," kata Ella sambil menyengir menahan malu.
"Haah, ya udah. Kenapa kamu susah payah berbohong gitu? Silakan kembali ke tempat dudukmu, Ella," perintah Bu Elya. "Besok harus kamu bawa, dan sebelum bel diserahkan pada Ibu, ya. Jangan anggap sepele walau pun ini cuma angket," kata Bu Elya.
"Baik, Bu. Saya minta maaf," ujar Ella menyesal.
"Nah, hari ini sesuai janji kita akan ke lab melakukan praktikum. Kalian sudah bawa yang Ibu suruh kemarin, kan?" ujar Bu Elya.
Kelas tiba-tiba riuh. Para murid laki-laki banyak yang tidak membawa bahan praktek yang diperintahkan Bu Guru.
"Tenang, guys. Aku ada bawa banyak, nih," seru Ella mengangkat kantong plastik berisi telur yang dibelinya tadi.
"Wah, syukur deh. Thanks, Ella."
"Cih, dasar ganjen. Dasar caper," cibir Dewi yang duduk di belakang. Hatinya merasa panas dan kalah saing, karena melihat Ella dikerubungi oleh teman-teman cowok di kelasnya. Dia nggak puas, karena gosip yang dia sebarkan beberapa hari yang lalu, ternyata tidak membuat Ella dijauhi oleh teman-temannya.
"Ki, kamu nggak iri lihat si Ella yang sok kecakepan itu?" tanya Dewi.
"Nggaklah, aku udah males berurusan sama dia," gumam Kiki.
"Cupu Lu. Takut banget kesalahan ayah Lu kebongkar," kata Dewi.
"Emangnya Lu sendiri nggak takut, kedok mama Lu kebongkar?" balas Kiki seraya menarik kursinya menjauhi Dewi. Dia lalu bergabung dengan teman-teman lain yang hendak ke laboratorium biologi.
"Huh, nggak seru. Anak kayak gitu harus dikasih pelajaran. Untung aja aku udah siapin sesuatu buat ngerjain dia," kata Dewi sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam tas.
Pelajar berusia tujuh belas tahun tersebut sengaja lambat menuju ke laboratorium biologi untuk menjalankan rencananya. Setelah mengamati keadaan dan merasa cukup aman, remaja itu memasukkan sesuatu ke dalam kotak bekal dan botol minum milik Ella.
"Mampus, Lu. Rasain, bakal nggak bisa belajar Lu hari ini," ucapnya seraya tertawa licik.
__ADS_1
(Bersambung)