
"Siapa nama bocah tadi?" tanya Albert.
"Na-namanya? Siapa, ya?" Ella baru sadar, dia nggak bertanya perihal cowok itu sama sekali. Padahal mahasiswa hukum itu ingin menolongnya.
"Tuh, kan. Namanya aja kamu nggak tahu. Bagaimana tadi, kalau ternyata dia nggak membawamu ke bengkel, dan malah ke tempat aneh-aneh?" tuduh Albert.
"Cih, alasan. Ya nggak mungkin, lah. Ini kan masih di area kampus. Ayah tadi lihat sendiri 'kan, dia tuh wajahnya beneran cemas," kata Ella.
"Rupanya kamu masih lemah sama wajah cowok tampan, ya?" sindir Albert.
"Kapan aku begitu?" Teriak Ella dengan spontan.
"Dulu kamu pernah seperti itu sama seseorang. Lagian kejahatan tidak memandang waktu dan tempat, La," kata Albert.
"Huh, kalau ada apa-apa kan aku tinggal lari atau teriak aja. Pasti dia nggak berani macam-macam di kampus," jawab Ella. "Terus tadi kenapa ayah bilang sebagai bodyguardku, bukannya ayahku?" sindir Ella.
"Yah.. itu..." Albert kehilangan kata-kata.
"Tuh, kan... Bingung sendiri jawabnya. Dulu siapa ya yang bilang? Kalau aku boleh menemui laki-laki lain, dan harus move on darinya? Kok sekarang malah dia yang over protect padaku?" cibir Ella menyindir Albert.
__ADS_1
"Ehem! Sepeda motormu ayah antar ke bengkel resmi saja nanti. Sekarang kita pulang dulu." Albert mengalihkan cerita.
"Ayah! Aku kan ada janji dengan mama sore ini," kata Ella berseru kesal.
"Huh! Azura, coba cek HP-mu. Mamamu ada agenda mendadak sore ini. Kalau aja kamu tadi datang tepat waktu, kalian masih bisa makan bersama sesuai rencana," kata Albert.
"Tadi itu HP-ku di silent, kalau nggak ditangkap sama kakak tingkatku. Ya mana ku tahu kalau acara kampus sampai sesore ini," kata Ella sambil merogoh tas-nya, untuk mengambil HP.
Ella melongo ketika menemukan beberapa pesan dari Mama dan Ayahnya. "Ish, ya udah. Terserah, deh. Aku terpaksa pulang sama Ayah," ucapnya. Bibir Ella maju lima senti meter saking kesalnya.
Albert pun tersenyum senang. Setelah susah payah memasukkan sepeda motor Ella di belakang, mereka pun meluncur dari kampus yang udah mulai sepi.
"Ayah mengajakku ke mana, sih? Katanya pergi makan malam?" protes Ella. Hati remaja itu tak bisa tenang, saat Albert memutar mobilnya memasuki halaman Platinum Hotel.
"Ya ini kita mau makan malam. Pemilik hotel di sini rekan bisnis Ayah. Dan chef di sini terkenal dengan prestasinya," jelas Albert.
"Uh, gitu ya?" Ella mencoba untuk percaya, tapi tetap waspada. Kalau tiba-tiba ada yang aneh, ia akan bersiap menelepon cari bantuan.
...🥀🥀🥀...
__ADS_1
"Malam, Pak Albert." Resepsionis hotel menyambut mereka dengan ramah. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya salah seorang resepsionis tersebut.
"Ah, saya hanya ingin makan malam di sini," ujar Albert sambil melempar senyum manisnya.
"Silakan langsung ke restoran di lantai dua, Pak. Apa bapak juga ingin bertemu Tuan Ezhekiel?" ucap resepsionis tadi dengan profesional.
"Tidak perlu, saya hanya sebentar di sini," sahut Albert sambil tersenyum lagi. Dia lalu mengajak Ella menuju lift.
"Wah, gila. Mbak resepsionis ini jenis wanita seperti apa, sih? Kok bisa nggak terpengaruh sama senyuman si dia?" batin Ella dalam hati.
"Azura? Kok bengong? Ada masalah?" tanya Albert dengan sangat lembut.
"Eh, nggak kok," kata Ella sambil mengikuti langkah kaki ayahnya. "Syukurlah, rupanya dia nggak bohong." Ella bergumam pada dirinya sendiri.
"Kamu ngomong apa? Kamu pikir Ayah bakalan bohong? Memangnya apa yang kamu pikirkan tadi?" tanya Albert sambil tertawa jahil. Sebelah alisnya naik, seperti mengejek Ella.
"Nggak, ini belum berakhir. Aku nggak boleh lalai dan harus waspada," kata Ella dalam hati.
(Bersambung)
__ADS_1