Me Vs Berondong Mommy

Me Vs Berondong Mommy
Bab 119. Bukan Salahmu


__ADS_3

"Sayang, kok kamu cemberut aja sih sejak tadi?" Albert mengecup pipi Ghina yang halus. "Maaf, ya. Dulu aku pernah menyukai wanita itu. Tapi beneran, kok. Itu cuma dulu. Sekarang kami hanya sebatas kenalan biasa," kata Albert lagi.


Ghina menoleh ke arah suami berondongnya. "Aku nggak marah gara-gara itu, kok. Wajar kamu menemui dan menyukai wanita lain, sebelum bersamaku. Aku dulu juga memiliki papanya Ella, kan?" kata Ghina.


"Terus kenapa dari tadi kamu cemberut aja? Cerita dong sama aku. Jangan bikin aku galau," kata Albert. "Kamu nggak curigain aku, karena anak Lili mirip denganku, kan?" tanya Albert.


"Untuk apa aku mencurigaimu? Sudah jelas kamu nggak pernah 'melakukannya' dengan dia, kan? Aku galau bukan karena anak itu, kok," kata Ghina lagi.


"Mama udah tahu soal anak ayah dari wanita lain?" celetuk Ella tiba-tiba. Dia baru aja datang dan memasuki ruang keluarga.


"Loh, kamu juga tahu masalah itu?" tanya Ghina nggak kalah kaget.


"Ayah tadi curhat sama aku. Dia paksa mau jemput aku di kampus cuma untuk curhat," sindir Ella.


Ghina melayangkan pandangan ke arah sang suami. "Kamu bilang apa sama Ella? Kok dia bisa salah paham gitu?" bisik Ghina.


"Ah, aku kan cemas karena Lili tiba-tiba muncul di tengah kita," balas Albert dengan berbisik pula. "Ella, kok kamu tiba-tiba aja datang? Ada apa?" tanya Albert pada putrinya.


"Masa datang ke rumah orang tua sendiri ditanyain? Aku mau jumpa Luna, terus mau jemput sepeda motor aku," ujar Ella.

__ADS_1


Wanita itu memutar bola matanya, mencari kucing kesayangannya yang bernama Luna. Dia sengaja menitipkan kucing itu pada mamanya, karena sibuk kuliah.


"Luna ada di kamar atas," ujar Ghina dengan santai.


"Terus soal anak tadi gimana? Mama nggak marah, ayah punya anak dari perempuan lain?" tanya Ella gregetan.


"Kamu tuh sebenarnya denger apa sih dari ayahmu? Kamu salah paham, sayang," ucap Ghina sambil tertawa. "Sayang, kamu jelasin tuh sama Ella," pinta Ghina. Albert lalu menjelaskan semuanya pada Ella.


"Huft, syukurlah. Aku pikir Mama pelihara buaya di rumah," kata Ella lega.


"Siapa yang kamu bilang buaya? Ayahmu ini orang baik," bantah Albert.


"Awas kamu, ya. Dari tadi nyindir Ayah mulu. Curiga boleh aja, dong," Albert berdiri dari posisi duduknya dan bersiap mengejar Ella.


Gadis manis itu cepat tanggap. Dia segera berlari ke arah tangga untuk menghindari Albert. "Lunaaa, kamu di mana, sayang? Aku datang, nih," ujar Ella pura-pura tidak mendengar seruan Ayahnya.


"Hah, rame banget. Ini baru yang namanya rumah. Aku kangen banget suasana begini," kata Ghina sambil mencari sinetron di televisi.


"Sayang, ceritamu tadi belum selesai. Kamu belum bilang, kenapa kamu tadi cemberut aja," desak Albert yang gagal mengejar Ella.

__ADS_1


"Aku pikir aku hamil. Ternyata aku salah. Tadi pagi aku dan Mama pergi ke puskesmas untuk mengeceknya," ujar Ghina dengan wajah sedih.


Albert memeluk tubuh sang istri. "Kamu pasti menahan hal ini sendirian dari tadi, ya?" ujar Albert.


"Pasti menyenangkan, kalau kita punya anak yang lucu seperti Lili, kan?" kata Ghina tanpa bisa menahan air matanya.


"Ya, tentu aja menyenangkan. Tapi dengan keadaan kita yang sekarang aku juga cukup bahagia, kok. Punya istri yang cantik dan penyayang. Punya anak gadis yang pintar. Lalu kita semua dalam keadan sehat. Aku sangat mensyukuri itu semua," kata Albert.


"Beneran?" ujar Ghina.


"Iya, beneran." Albert mengusap air mata di wajah sang istri. "Jangan sedih lagi, ya. Namanya rezeki itu Allah yang mengatur. Kita cuma berusaha. Aku nggak menuntut banyak hal dari kamu, kok. Kalau kita belum punya anak, itu bukan salahmu, sayang," kata Albert lagi. Dia memeluk istrinya dengan erat.


"Luna, lihat deh Mama sama Ayah. Walau pun aku nggak bisa mendengar obrolan mereka, tapi aku bisa melihat kalau mereka berdua sama-sama bahagia," kata Ella pada kucing dalam gendongannya. Dari lantai dua, Ella memandang ke arah ruang keluarga tempat kedua orang tuanya berada.


"Mreeeaaaw." Luna mengeong seakan-akan memahami ucapan Ella.


"Aku beneran bersyukur, udah mengizinkan Mama menikah dengan Albert. Pilihanku untuk merelakan pernikahan mereka nggak salah. Mungkin kalau dulu aku mengikuti ego, kami nggak akan hidup bahagia seperti ini," ujar Ella lagi. "Papa pasti juga bahagia di sana, kan?" gumam Ella dalam hati. Dia kembali merindukan almarhum ayahnya.


"Semoga aku nanti juga mendapatkan pasangan yang baik dan menyayangiku apa adanya," doa Ella dalam hati. "Ah, kenapa aku tiba-tiba kepikiran Ethan, sih?" ujarnya malu.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2