Me Vs Berondong Mommy

Me Vs Berondong Mommy
Bab 68. Beasiswa


__ADS_3

Deg! Deg! Deg! Albert menyentuh dadanya yang berdegup kencang. "Apa perasaanku aja, atau wajah Ella semakin bersinar, ya? Bibirnya juga tampak lebih lembab dan merah," batin Albert sembari mengatur napasnya.


Ekor mata pria itu mengikuti langkah kaki Ella yang menuju ke gerbang sekolah. Tubuhnya yang memiliki tinggi 154 cm itu tampak kurus, dibandingkan teman-temannya. Kulitnya yang putih bersih dan rambutnya yang agak cokelat, membuat banyak orang berpikir kalau dia berdarah campuran.


Jika dibandingkan dengan para siswi lainnya, tampilan Ella tampak sangat sederhana. Seragam yang mulai memudar warnanya, tas sekolah dan sepatu yang berusia lebih dari dua tahun, serta wajah yang dilapis bedak tipis. Berbeda dengan siswi lainnya yang mengenakan aksesoris mentereng dan make up cukup tebal untuk kalangan pelajar.


"Ah, wajar kan? Dia pasti sudah memasuki masa puber, dan mulai mengerti make up serta skin care," ujar Albert mencoba menenangkan hatinya yang acak-acakan.


Pria itu menatap telapak tangannya yang tadi digunakan untuk menggenggam tangan Ella. "Tangannya mungil dan lembut banget, ya? Beda banget sama tangan Ghina yang sudah dipakai bekerja keras sejak remaja," batin Albert.


"Ah, aku mikir apa, sih? Dia kan putriku." Pria itu memutar kemudinya, meninggalkan tempat itu.


...🥀🥀🥀...


"Ugh! Ella beg*! Kenapa tadi ngomong gitu, sih? Bikin malu diri sendiri, kan?" Ella meratapi kesalahannya."Ya lagian, mana ada kan pasutri yang gak gitu. Salah satu tujuan menikah kan emang untuk menghalalkan kegiatan itu," ucapnya pada diri sendiri.


Ella nggak tahu, bagaimana perasaannya sekarang. Sulit digambarkan. Malu, hampa, terluka, semua bercampur jadi satu.


"Ckk... Udahlah. Ngapain mikirin dia terus? Nggak ada gunanya." Ella berjalan gontai ke kelas, sambil menenteng bekal yang diberikan Albert tadi.


"Oi, Nona Azura. Kalau jalan lihat ke depan, dong. Hampir aja kamu menabrakku," tegur sang ketua kelas yang berdiri tepat di hadapan Ella.

__ADS_1


"Oh, Surya? Maaf. Tapi kamu lagi bawa apa?" tanya Ella.


"Oh, ini. Hari ini Bu Tresna nggak datang, jadi kelas kita disuruh bikin tugas melukis. Ini peralatannya udah ju bawa," kata Surya sambil mengangkat kotak yang besar tersebut.


"Wah, seru tuh," ujar Ella.


"Tapi kenapa wajahmu memerah? Apa kamu demam? Jangan sampai pingsan lagi, loh," kata Surya.


"Eh, aku nggak apa-apa, kok," jawab Ella. Tetapi hatinya berdetak kencang. Dia tahu betul, kenapa wajahnya memerah. Bayangan pria muda tadi langsung melintas di dalam kepalanya.


"Hei, La. Kamu baru datang? Tadi habis dicariin sama Ibu Bendahara lho," ujar Imelda.


"Eh, kenapa ya? Padahal aku kan udah bayar spp bulan ini?" ucap Ella. Setelah menyimpan tas dan bekalnya, Ella pun bergegas ke ruang bendahara sekolah.


"Oh, kamu Azura Auristella dari XII IPA 1, kan?" kata Ibu Bendahara.


"Iya, Bu."


"Apa kamu sudah ada dipanggil oleh wakil kepala sekolah?"


"Belum? Memangnya ada apa ya, Bu?" tanya Ella dengan hati was-was.

__ADS_1


"Setelah rapat komite kemarin, semuanya sepakat kalau uang beasiswa kamu dicabut. Karena nilai kamu belakangan ini semakin jauh menurun. Jadi mulai bulan depan kamu harus membayar uang SPP dan uang praktikum secara penuh," jelas Bu Bendahara.


"Begitu ya, Bu. Baiklah. Tidak apa-apa," jawab Ella berusaha tersenyum di tengah rasa sedihnya.


"Sudah, saya cuma mau bilang itu aja. Kamu boleh kembali ke kelas," ujar Bu Bendahara.


"Baik, Bu. Terima kasih."


Ella yang hendak melangkah pergix mendadak menghentikan langkah kakinya. Sepintas, mata Ella menangkap selembar kertas pengumuman yang ditempel dekat ruang bendahara. Terdapat beberapa pengumuman beasiswa. Salah satunya Sekolah Tinggi Farmasi, tempat yang ingin ia tuju.


"Beasiswa? Lho, bukannya belum saatnya pengumuman beasiswa, ya?" Kedua bola matanya menjelajah nama yang tertulis di kertas itu dengan seksama. "Namaku nggak ada. Padahal aku sudah mendaftar," batin Ella semakin merasa sedih.


"Maaf, Bu. Apa pengumuman ini sudah final?" tanya Ella masih berharap adanya keajaiban.


"Ya, kamu bisa baca sendiri, kan?" Jawab Bu Bendahara dengan ketus.


"Ma-maaf, Bu. Kalau begitu, saya permisi dulu," ucap Ella.


Siswi tersebut benar-benar kehilangan semangat. Setelah dia belajar ikhlas melepaskan orang yang di sayang, hanya cita-citanya lah penyemangat hari-harinya. Lalu sekarang? Semuanya justru hilang, karena tingkah bodohnya sendiri.


"Sudahlah, jangan galau gara-gara cowok lagi. Nggak ada yang bakal berubah meskipun aku meratapi nasob setiap hari. Sudah saatnya aku untuk menata masa depan," tekad Ella sambil mengusap air matanya. Langkah kakinya begitu tegas dan mantap, menuju ke kelas.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2