
"Ma, kenapa dia sejak kemarin seperti menghindariku, ya? Apa aku berbuat kesalahan besar?" tanya Ella ketika pergi sekolah bersama Ghina.
"Dia siapa? Maksudnya ayahmu?" tanya Ghina sambil mengemudi dengan kecepatan rendah. Wanita mantan pembantu rumah tangga itu, belum terlalu mahir membawa kendaraan roda empat.
"Ya, maksudku ayah," ujar Ella.
"Dia seperti itu karena terlalu khawatir padamu. Coba saja kamu bayangkan, pagi hari kamu pergi ke sekolah dalam keadaan yang sehat. Lalu pulangnya kamu sakit seperti itu. Siapa yang nggak cemas melihatnya?" ujar Ghina.
"Apalagi belum tahu siapa pelakunya," sambung wanita itu lagi. Dia sengaja menyembunyikan keadaan yang sebenarnya, agar Ella tidak merasa malu dan canggung.
"Aku separah itu ya kemarin? Aku nggak ingat sama sekali," ucap Ella. "Tapi apa maksud Mama pelakunya?" tanya Ella.
"Ya pelaku yang membuatmu keracunan seperti itu. Untunglah ayahmu datang di waktu yang tepat," jelas Ghina. "Apa kemarin kamu memiliki masalah sama seseorang?"
"Nggak, tuh. Tapi beberapa hari yang lalu aku memang ribut sama beberapa teman sekelas," ucap Ella.
"Yang dibawa ayahmu ke restoran itu, ya?" tebak Ghina.
Ella menganggukkan kepala. "Tapi masih terlalu dini untuk mencurigai mereka. Kita kan nggak punya buktinya," kata Ella.
"Pokoknya kamu harus waspada di sekolah. Ini kan saat-saat penting untuk anak kelas tiga SMA," nasehat Ghina.
"Iya, Ma," jawab Ella. "Ah, aku baru ingat. Dua hari yang lalu Bu Guru membagikan angket, tetapi hanya aku yang belum mengumpulkan. Karena Mama belum tanda tangan." Ella mengeluarkan lembaran kertas dari dalam tas-nya.
"Kenapa kamu nggak minta tanda tangan di rumah?" tanya Ghina.
"Waktu itu aku mengetuk pintu kamar Mama untuk minta tanda tangan. Tapi Mama ..." Ella menghentikan kalimatnya, ketika teringat kembali suara pertempuran dahsyat malam itu. "Mama sepertinya udah tidur," sambung Ella mengarang cerita.
"Oh, ya udah. Nanti kalau udah sampai di sekolah, Mama tanda tangani," kata Ghina. "Lalu, sepertinya renovasi rumah kita berjalan lebih lama dari yang diperkirakan," kata Ghina.
"Kenapa?" tanya Ella.
"Hampir semua bagian harus diperbaharui. Maklumlah, itu kan bangunan lama," kata Ghina. "Jadi kamu akan tinggal lebih lama di rumah sekarang. Lagian, ayahmu pasti nggak akan mengizinkanmu tinggal sendiri setelah kejadian ini," kata Ghina lagi.
"Ya udah, deh. Mau gimana lagi?" kata Ella.
__ADS_1
"Mmm, Mama boleh tanya satu hal, nggak?" tanya Ghina ragu-ragu.
"Soal apa?" Ella balik bertanya.
"Kenapa kamu nggak jujur sama Mama tentang Albert, sebelum kami menikah? Mama mungkin terlalu naif, sampai nggak peka terhadap hal itu," tanya Ghina dengan sangat hati-hati.
"Dari awal dia nggak pernah memilihku. Aku ini cuma adiknya, lalu sekarang anaknya," jawab Ella. Dia mengusap sudut matanya yang tiba-tiba basah.
"Lagian setelah aku pikirkan baik-baik, kayaknya Mama yang lebih membutuhkan dia dari pada aku. Mama nggak punya siapa-siapa untuk tempat bersandar, sedangkan aku masih punya Mama," lanjut Ella lagi.
"Maafkan Mama ya, sayang. Mama terlalu egois. Mama juga nggak pernah memperhatikan tumbuh kembangmu, sampai nggak menyadari kamu udah se-dewasa ini," kata Ghina.
"Udahlah, nggak ada yang harus disesali. Toh kalau dia nggak menikah sama Mama, juga nggak akan jadi pasanganku. Masih ada banyak kan pria yang lebih baik lagi di luar sana?" kata Ella.
"Iya, kamu benar, sayang. Masa depanmu masih panjang. Dan Mama berharap, semoga kamu mendapatkan pria yang menyayangimu apa adanya suatu hari nanti," ucap Ghina.
...🥀🥀🥀...
"Kok dia biasa aja? Apa obat kemarin nggak ngaruh sama dia?" tanya Dewi dalam hati. Ekor mata gadis itu mengikuti setiap gerakan Ella sejak dari gerbang tadi.
"Argh! Astaga! Kau ngapain, sih? Ngagetin aja," omel Dewi yang merasa jantungnya hampir copot.
"Ya kamu ngapain ngekorin dan pelototin aku kayak gitu dari gerbang tadi? Emangnya aku punya hutang sama kamu?" tanya Ella dengan garang.
"Ish, kepedean kamu. Ngapain aku kayak gitu," ucap Dewi sambil ngeloyor pergi. "Tuh, kan? Dia biasa aja? Nggak ngaruh sama sekali obat yang ku kasih kemarin. Padahal aku kasihnya lebih dari satu kapsul. Apa dia punya seseorang untuk menyalurkan 'hasratnya' itu, ya? Ih, ngeri banget," sambung Dewi dalam hati.
"Ella, gimana keadaanmu kemarin? Aku cemas banget ninggalin kamu sendirian di sekolah," kata Naya yang baru aja sampai.
"Aku nggak apa-apa, kok," ujar Ella sambil tersenyum dan merentangkan kedua lengannya. "Udah, ya. Aku mau pergi ke sana dulu," kata Ella sambil menunjuk ke ruang guru.
"Oh, oke. Aku duluan ke kelas kalau gitu," balas Naya.
...🥀🥀🥀...
"Hhmm, jadi selain apoteker, kamu berencana menjadi guru biologi juga, ya?" kata Bu Elya saat membaca angket yang dikumpulkan Bu Elya.
__ADS_1
"Iya, Bu. Itu pilihan kedua, kalau apoteker nggak lulus," jawab Ella.
"Tapi kenapa biologi? Ibu pikir kamu lebih tertarik sama kimia?" tanya Bu Elya lagi.
"Sebenarnya saya juga merasa galau awalnya, karena menyukai kedua bidang itu. Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, kayaknya hati saya lebih condong ke arah biologi," kata Ella.
"Oh, gitu? Yah, Ibu dukung apa pun pilihan kamu. Tetap semangat belajarnya. Nilai kamu Ibu lihat sudah mulai membaik lagi," kata Bu Elya dengan lembut.
"Terima kasih banyak, Bu," ucap Ella. "Kalau begitu saya permisi dulu," sambungnya lagi.
Bruk! Tanpa sengaja Ella menabrak seseorang di depan pintu ruang guru. Buku-buku yang di bawa siswa itu berhamburan ke lantai. Ella pun membanru mengumpulkannya kembali.
"Maaf, aku nggak sengaja," ucap gadis itu sambil berjongkok.
"Ella, kamu udah sehat? Kata ayahmu kemarin kamu sakit parah?"
"Oh! Kau rupanya," seru Ella melihat siswa yang ditabraknya tadi. Tumpukan buku yang sangat tinggi hingga menutupi wajahnya, membuat Ella tidak melihatnya dengan jelas.
"Iya, ini aku. Gimana keadaanmu?" Daniel mengulang pertanyaannya.
"Aku baik-baik aja, kok," jawab Ella.
"Tunggu di depan, ya. Jangan ke mana-mana. Aku ingin bicara denganmu," ucap pria itu.
Beberapa menit kemudian, Albert pun keluar dari ruang guru. Seperti janjinya tadi, dia pun menemui Ella dan mengajaknya bicara.
"Kemarin ayahmu terdengar cemas. Dia juga sempat marah-marah padaku. Dia bertanya, siapa yang mengerjaimu separah itu?" kata Daniel.
Ella mengerutkan keningnya. "Kenapa dia marah padamu? Aku kan cuma keracunan karena salah makan," kata Ella. "Seenaknya aja dia menyalahkan orang lain," ujarnya lagi.
"Tentu aja ayahmu marah besar. Aku juga kesal kalau memikirkannya lagi. Siapa sih yang tega memasukkan obat perangsang ke dalam makanan atau minumanmu?" ujar Daniel kelihatan memendam emosi.
"Eeeh? Obat perangsang?" seru Ella terkejut.
(Bersambung)
__ADS_1