
"Kenapa harus kamu yang bekerja? Memangnya ke mana ayah dari anak itu?" Albert yang masih mencurigai Lilibeth, memaksa kakak kelasnya semasa kuliah S2 itu angkat bicara.
"Kamu serius menanyakan hal itu? Kamu nggak tahu apa-apa tentangku. Jadi jangan menuduhku sembarangan," Lili benar-benar marah. Nada bicaranya yang tadi lembut dan santun, berubah menjadi sebuah bentakan.
Dari kejauhan, Albert melihat Ghina mondar mandir di halaman restoran. "Ini nggak bagus," gumam pria itu. Albert langsung tancap gas meninggalkan tempat itu.
"Al, aku tadi nggak bertanya, ke mana kita akan pergi. Karena aku nggak mau bikin istrimu salah paham, kalau aku langsung turun dari mobilmu tadi," kata Lili. "Tapi ini udah jauh dari restoranmu. Kamu bisa turunkan aku sekarang," pinta wanita berdarah Perancis itu.
"Jadi, bisa lanjutkan lagi ceritamu tadi?" ucap Albert.
"Cerita yang mana? Aku nggak punya cerita untukmu," kilah Lilibeth.
Albert memperhatikan setiap lekuk tubuh wanita itu. Meski sudah lama tidak melihatnya, Albert merasa jika Lili tidak ada berubah. Tidak akan ada yang percaya, jika wanita itu sudah memiliki anak.
"Albert, jaga pandanganmu! Kamu udah menikah," bentak Lili yang risih dengan sikap tak sopan Albert.
__ADS_1
"Kamu beneran udah punya anak?" tanya Albert sambil mengalihkan pandangannya.
Wanita Perancis berambut pirang itu tertawa. "Kamu berharap kemunculanku di sini karena ada sesuatu?" ucapnya.
"Aku nggak mikir kayak gitu, kok," kata Albert.
"Ya terus? Kenapa kamu mengurungku di mobil ini?" tanya Lili.
"Hhh, ya deh. Aku jujur. Aku penasaran kenapa kamu bisa bekerja sampai di sini, dan di restoranku pula. Yang paling aku ingat, kamu adalah perempuan yang tekun belajar. Nggak mungkin kamu bekerja sebagai pemasok buah dan sayur," kata Albert.
"Ta-tapi Lili..."
"Haduh, kenapa lagi, Al?" ucap Lili semakin kesal.
"Apa kamu beneran single mom? Sejak kapan?" tanya Albert.
__ADS_1
"Kamu masih nggak percaya juga? Aku memang masih cantik seperti zaman kuliah dulu. Tapi sekarang aku ini seorang ibu, loh," kata Lili sambil tertawa. Meski hatinya kesal, tapi dia tetap berusaha mencairkan suasana. Dia lalu menunjukkan sebuah foto bocah laki-laki, dari bayi hingga balita.
"Astaga!" seru Albert dalam hati. Tetapi pria itu berusaha menyembunyikannya perasaannya itu.
"Btw, seleramu masih sama, ya? Suka dengan wanita yang lebih tua," gumam Lili.
Albert tersentak mendengarnya. Dulu saat menjalani kuliah S2, Albert memang sempat menyukai Lili. Wanita itu merupakan kakak kelasnya yang berusia lebih tua darinya.
Namun wanita asal Perancis itu menolak Albert mentah-mentah. Alasannya sederhana, wanita itu lebih mementingkan pendidikannya, yang telah susah payah dibiayai oleh sang ayah. Lili juga berbeda dari wanita Eropa lainnya. Dia menjunjung tinggi sebuah hubungan, makanya dia tidak ingin disentuh lelaki sebelum menikah.
"Al, menurutku kamu nggak salah pilih. Aku bisa merasakan, kalau Ghina adalah wanita yang baik dan tangguh," ucap Lili.
Albert mengangkat wajahnya dan menatap Lili. Wanita Perancis itu masih belum berubah dari dulu, tetap baik hati. Dia juga selalu memandang orang lain dari sisi positif.
"Aku serius, Al. Jadi maksudku, jangan kecewakan istrimu dengan perasaan masa lalumu. Aku doakan hubungan kalian langgeng selamanya," kata Lili lagi. "Udah jelas, kan? Kamu bisa turunkan aku sekarang, sebelum ada yang mencurigai kita," pinta Lili.
__ADS_1
(Bersambung)