Me Vs Berondong Mommy

Me Vs Berondong Mommy
Bab 87. Pernah Cinta


__ADS_3

“La, sebenarnya kamu kenapa, sih? Kan udah kami bilang, kalau ada masalah cerita aja. Selagi bisa, pasti kami bantu, kok,” ujar Naya sambil mengusap punggung Ella.


“Terus kalau mau nangis ya nangis aja, gak usah di tahan. Kami pasti jaga rahasiamu,” sambungg Imelda.


Ella mematung tanpa ekspresi. “Sebenarnya apa yang aku permasalahkan? Untuk apa aku menangis? Karena mama membongkar tas rahasiaku? Karena mama membaca seluruh diary-ku? Atau karena pada akhirnya Albert mengetahui perasaanku yang sebenarnya?” batin Ella bertanya pada dirinya sendiri.


“Ah, seharusnya setelah Mama menikah, aku buang saja semua diary tentang Albert itu. Kenapa aku malah menyimpannya, sih?” Ella termenung cukup lama.


"Udahlah, ngapain aku pikirin. Nggak ada yang salah juga. Mama kan nggak sengaja membongkar kotak rahasia itu. Albert juga nggak salah memilih mama sebagai istrinya," batin Ella.


Ddrrt! Suara ponsel yang berdering, membuat Ella kembali sadar. Ella melirik layar ponselnya sepintas. Dia melihat nama mamanya di sebuah pesan masuk.


*


"Sayang, makan yuk."


"Al, apa menurutmu Ella marah padaku?" Ghina tidak menjawab ajakan suaminya.


"Hmm... Kamu masih kepikiran soal tadi, ya? Apa Ella masih tidak membalas pesanmu?" tanya Albert. Pria itu lalu duduk di hadapan Ghina.


"Ella membalas pesanku seperti biasa. Dia bilang masih belajar di rumah temannya, dan bakalan pulang sebelum magrib. Justru itu aku jadi semakin curiga," jawab Ghina.


"Bagus dong, kalau dia bersikap biasa aja. Emang kamu mengharapkan sikapnya sepeti apa?" tanya Albert sambil membelai rambut Ghina yang terurai panjang.


"Seharusnya dia marah, kan? Karena kita udah membongkar benda rahasianya," kata Ghina. "Apa kamu pernah menyukainya, Al?" tanya Ghina dengan wajah sendu.


"Menyukai siapa? Ella maksudmu?" Albert balik bertanya.


"Iya," jawab Ghina singkat.


"Aku sudah memilihmu sebagai istriku. Itu artinya jawabanku sudah jelas, kan?" sahut Albert tidak memberikan jawaban langsung.

__ADS_1


"Tapi aneh kan kalau kamu nggak pernah menyukainya? Dia cantik, baik, dan... masih muda," ujar Ghina dengan tatapan kosong.


"Nggak lucu banget sih, cemburu sama anak sendiri." Albert mulai tidak menyukai arah pembicaraan Ghina.


Ghina Delisia menghela napasnya. "Apa kamu takut menjawabnya? Takut aku bakal marah?" ucapnya.


"Bukan begitu, Ghina." Albert menggenggam tangan Ghina."Cinta itu nggak bisa dipaksakan. Nggak harus ada alasan. Ella memang cantik. Ella memang masih muda. Tapi kalau hatiku lebih merasa nyaman denganmu bagaimana?" ucap Albert menjelaskan.


"Kalau misalnya kamu lebih sering bertemu dengan Ella daripada denganku, apa kamu tetap akan memilihku?" Ghina terus mendesak suaminya untuk jujur.


Albert benar-benar sakit kepala mendengar setiap pertanyaan wanita di depannya. "Aku memilihmu bukan karena kita sering bertemu. Dan aku merasa nyaman denganmu bukan pula dengan alasan yang seperti tadi. Tapi ya aku menyukaimu, menyayangimu apa adanya. Aku tak bisa sebutkan alasannya satu per satu," ucap pria itu.


Raut wajah Ghina masih menunjukkan keraguan. Albert sepertinya mulai kehabisan akal, bagaimana lagi caranya menjelaskan pada Ghina soal isi hatinya.


"Percayalah padaku. Karena keputusan yang aku ambil ini bukanlah sederhana. Ini komitmen seumur hidup," kata Albert meyakinkan.


"Jadi Ella bolak-balik menangis waktu kita mau menikah kemarin karena berat melepasmu, kan? Bukan karena almarhum papanya? Jadi apa yang kamu lakukan untuk membujuknya?" Ghina terus menghujani Albert dengan pertanyaan. "Bodoh banget ya aku? Sampai nggak bisa menyadari hal itu sedikit pun," imbuhnya lagi.


"Ghina, jangan bikin masalah. Pernikahan kita kan baik-baik aja. Ella juga sudah mulai membaik seperti dulu." Albert mengelak pernyataan Ghina barusan.


"Aku kan udah jujur. Tapi kamu masih nggak percaya. Terus aku harus apa? Kamu meminta bercerai pun, aku dan Ella tetap nggak akan bisa bersatu. Hubungan kami ini terlarang," tegas Albert.


"Aku cuma ingin tahu aja, untuk meyakinkan perasaanmu dan perasaanku," kata Ghina.


"Ya udah. Aku jujur, deh. Aku memang pernah memiliki perasaan pada Ella," jawab Albert. Albert akhirnya berkata jujur.


Ghina mulai merasa sebal. Ia sedikit menyesal telah memulai pembicaraan ini.


"Tapi bukan perasaanku padanya bukan seperti pasangan kekasih." Albert melanjutkan kalimatnya.


"Maksudmu?" Ghina mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Aku selalu menganggapnya sebagai gadis kecil yang imut. Dia dulu hanyalah gadis kesepian yang tidak punya teman," jelas Albert. Pria tampan itu sengaja menjeda kalimatnya untuk melihat reaksi istrinya. Benar saja, wajah Ghina semakin kusut.


"Maksudmu, dia sangat cantik?" kata Ghina.


"Iya. Dia gadis yang sangat cantik. Bibirnya yang merona, rambut kecoklatan, serta kulit seputih susu. Ella terlihat seperti disney princess. Siapa pun pasti akan mengatakan hal yang sama denganku, kan?" ungkap Albert.


"Jadi kamu menyukai Ella sejak dia masih bocah?" Ghina terperanjat mendengarnya.


Albert menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Maksudnya, dia sudah seperti adik kecilku." Wajah Ghina berubah menjadi sedikit cerah mendengar pernyataan Albert barusan.


"Tapi sekarang, perasaanku dengannya sedikit berubah," sambung Albert sambil menyeringai tipis.


"Karena dia menyatakan perasaannya?" Tebak Ghina sok tahu.


"Dia nggak pernah menyatakan perasaan padaku, Ghina. Dia selalu menguburnya dalam-dalam meskipun aku memaksanya jujur. Surat-surat itu saja aku baru mengetahuinya tadi," jawab Albert.


"Jadi sejak kapan perasaanmu padanya mulai berubah? Sejak dia mulai dewasa?" tanya Ghina yang masih penasaran.


Albert tersenyum mendengar ucapan Ghina. Ia tahu, istrinya masih merasa cemburu. Tapi sayangnya perasaan itu tidak tepat, karena yang dicemburui adalah anaknya sendiri.


"Aku sendiri nggak menyadari, kapan perasaanku mulai berubah. Mungkin sejak aku mulai merasa nyaman denganmu," kata pria itu. Ghina semakin bingung dengan pernyataan Albert.


"Perlahan aku tidak melihatnya sebagai adik kecilku yang imut lagi, tapi anakku yang mulai beranjak dewasa. Itu anugerah terbesar bagiku, bisa mendapat istri yang cantik dan penyayang serta anak gadis yang pintar," ucap Albert menjelaskan sambil tersenyum manis.


Ghina merasa malu mendengar kalimat suaminya yang terakhir. Ia sadar, Albert sedang menasehati dirinya dengan cara halus.


Bola mata pria itu menatap Ghina dengan hangat. Bibirnya melengkung ke atas membentuk senyuman. "Udahlah, nggak usah cemburu lagi. Jelas-jelas aku melamar dan menikahimu di depan Ella?" kata Albert lagi.


"Sayang, sekarang kamu sudah yakin dengan perasaanku, kan? Yang terpenting sekarang, kita harus memberikan kasih sayang sebanyak-banyaknya pada putri kita. Jangan sampai ia semakin merasa kesepian, setelah memiliki orang tua yang lengkap."


"Benar juga. Aku merasa sangat malu, terlalu egois dan cemburu. Padahal aku sebagai ibu seharusnya lebih mengutamakan putriku," gumamnya. "Waktu aku sibuk bekerja dulu, kalian kan selalu terlihat akrab. Apa kalian pernah menjalin hubungan saat itu?" Ghina kembali melontarkan pertanyaannya.

__ADS_1


"Hadeh ... Mulai lagi. Padahal baru aja dijelasin," batin Albert sambil mengusap dadanya.


(Bersambung)


__ADS_2