Me Vs Berondong Mommy

Me Vs Berondong Mommy
Bab 82. Bukan Akting


__ADS_3

"Asal kalian tahu, gadis itu memang berpenampilan sederhana, tetapi dia bukanlah orang sembarangan. Aku adalah Bodyguard pribadinya dan restoran ini adalah miliknya." Albert berbicara dengan suara rendah namun tegas. Wajahnya yang rupawan, membuat Dewi dan Kiki terhipnotis.


"Uhuk!" Dewi tersedak mendengarnya pengakuan Albert tersebut. Sementara Kiki hanya menundukkan kepala, menahan malu.


"Nih, minum. Lain kali hati-hati kalau makan."


"Ella?" Pekik Kiki yang terkejut dengan kehadiran teman sekelasnya itu.


“Uhuk! Uhuk! Uhuk!” Dewi semakin tersedak dan kesulitan bernapas, ketika melihat kemunculan Ella yang tiba-tiba.


Penampilan Ella terlihat sangat berdeda dengan di sekolah. Gadis berkulit putih tersebut menggunakan T-shirt putih polos yang dipadukan dengan denim dress sepanjang lutut.Rambutnya yang cokelat dan panjang dia ikat ponytail dengan pita biru. Sebagai pelengkap penampilannya gadis remaja yang sebentar lagi menjadi mahasiswa itu mengenakan sneakers putih.


Tidak cuma dari style berpakaiannya saja yang berbeda. Wajahnya yang imut itu dia sapu dengan pink powder cushion. Bagian pipinya tampak merona blush on warna bright pink tangerine. Bibirnya yang mungil terlihat menggemaskan karena lipstik pink coral yang dibuat ombre. Sepintas, Ella terlihat seperti aktris Korea.


Akan tetapi, tidak hanya Dewi dan Kiki yang shock dengan penampilan Ella tersebut. Sang ayah yang hanya memiliki selisih usia delapan tahun dengannya, juga sempat terpesona dengan penampilan Ella yang cantik.


“Ka-kamu beneran pemilik restoran mahal ini?” tanya Kiki nggak percaya. Rasa angkuhnya yang biasa dia tunjukkan di sekolah, hancur seketika. Fakta bahwa ayahnya adalah bawahan dari Albert Candra Putra saja sudah bikin dia shock. Apa lagi dengan fakta mencengangkan satu ini?


“Kamu bohong, kan? Bilang aja kamu cuma pelayan di tempat ini. Dandanan cantik nggak akan mampu menutupi penyamaranmu,” kata Dewi mengeluarkan kata-kata judesnya.


Kiki menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Gadis kaya raya itu takut melihat reaksi dari Albert dan Ella. Ingin rasanya dia menghilang saja dari situ, dengan pintu doraemon.


“Eits, kamu lupa sama perjanjian kita tadi?” ucap Albert sambil mengayunkan HP-nya. “Kamu memang cantik. Sayangnya aku tidak tergoda padamu, karena aku udah mempunyai wanita yang lebih cantik hati dan rupa dari pada kamu,” sambung pria dengan wajah sempurna itu, seraya menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya.


“A-aku kan hanya menebaknya, bukan menuduhnya,” kilah Dewi. Hatinya mulai merasa ciut. Jika berita perselingkuhan mamanya selama ini trsebar, akan menjadi aib terbesar bagi keluarga mereka. Karena pejabat itu telah memiliki keluarga dan anak perempuan seusianya juga.


“Oke, masih aku toleransi. Tapi aku nggak berbohong soal ini. Ella benar-benar pemilik tempat ini. Kalian boleh mengeceknya di website nanti,” ujar Albert.


Ella menoleh ke arah ayahnya dengan cepat. “Apa maksudnya? Apa aku baru aja melewatkan sebuah berita penting?” ujar Ella dalam hati.

__ADS_1


“Jadi, tunggu apa lagi? Ayo minta maaf padanya sekarang juga. Lalu berjanji bahwa kalian tidak akan pernah mengulanginya sampai kapan pun,” desak Albert pada kedua bocah remaja tersebut.


“Baiklah, aku minta maaf,” bisik Kiki. “Aku janji nggak akan membully-mu lagi,” sambung gadis itu.


“Hm, aku pertimbangkan dulu, deh. Karena ucapan kalian tempo hari keterlaluan banget.” Ella menaikkan sebelah alisnya, sambil menyeringai tipis. Kiki menatapnya penuh harap.


“Mungkin aku bisa menerima permintaan maafmu, kalau kamu mengatakannya di depan kelas? Dan kalian juga harus bertanggung jawab, mengatakan ke semua teman kalau berita yang kalian sebarkan itu nggak benar,” pinta Ella dengan lantang. Albert tersenyum mendengar putrinya yang berani melawan para pembully tersebut.


“A-anu, soal itu … Sepertinya permintaanmu cukup berat,” kata Kiki.


“Oh, ya? Padahal menurutku itu gampang banget. Kalian dengan mudahnya nyebarin gossip itu, apa susahnya tinggal bilang kalau itu cuma bohongan?” desak Ella.


“Terus, kenapa kamu kemarin sibuk mencari pekerjaan sampai jaga warnet? Seharusnya pemilik restoran kan tidak perlu khawatir soal uang,” cibir Dewi.


“Memangnya salah kalau aku punya pekerjaan sampingan? Kamu nggak tahu, ya? Pengalaman itu sangat penting untuk mengembangkan bisnis,” balas Ella dengan sangat lancar.


“Good girl,” batin Albert memuji keberanian dan ketegasan putri semata wayangnya.


“Jadi kapan kamu mau minta maaf sama Ella?” desak Albert. “Lihat ini, dengan sekali klik, foto ini akan tersebar luas di dunia maya,” ancam pria itu sambil memamerkan senyumannya yang memikat lawan jenis.


Dewi menghela napas panjang. Wajahnya tampak tidak terima dengan permintaan pria tampan di hadapannya. Tapi di sisi lain, dia juga khawatir jika Albert beneran menjalankan ancamannya.


“A-aku minta maaf,” ucap Dewi dengan lirih, beberapa saat kemudian.


“Kamu bilang apa? Aku nggak dengar. Ella, apa kamu bisa mendengar apa yang dia bilang?” Albert melemparkan pandangan pada gadis remaja di sebelahnya.


“Aku nggak dengar,” jawab Ella seraya menyeringai tipis.


“Aku minta maaf. Tolong hapus foto itu sekarang juga,” kata Dewi setengah berteriak.

__ADS_1


Albert melirik Ella untuk menunggu reaksi gadis itu. “Oke, aku akan pertimbangkan permintaan maafmu, sama seperti Kiki tadi,” kata Ella kemudian.


“Kalau begitu aku akan menepati janjiku, untuk menghapus foto ini,” ucap Albert. Jemarinya menekan tombol delete pada layar HP-nya. “Tetap jangan senang dulu, kalau kamu melanggar janji, aku nggak akan memaafkan kalian lagi. Ingatlah, Ella punya aku sebagai bodyguard-nya,” ancam pria itu.


Glek! Kiki menelan salivanya dengan kasar. Wajah tampan Albert sangat manipulatif. Pria yang terlihat seperti actor Korea itu bukanlah orang sembarangan.


...🥀🥀🥀...


“Kenapa tiba-tiba mengajak mereka ke restoran, sih? Untung aja aku jago acting,” gerutu Ella setelah Kiki dan Dewi pulang.


“Akting? Bagian mananya yang acting? Semua yang kita bicarakan tadi benar, kok,” ujar Albert setelah meneguk jus apel dari gelasnya.


“Ya soal pemilik restoran tadi. Mana ada yang bakal percaya kalau bocah SMA kayak aku adalah pemilik restoran ini. Gimana kalau hal itu malah jadi bahan omongan baru di sekolah nanti?” ujar Ella dengan cemas.


“Mereka bakal percaya kalau melihatnya di website resmi. Kamu harus lihat juga, dong,” jawab Albert. “Lalu kamu nggak usah khawatir bakal di bully, karena akan ada seseorang yang akan membelamu nanti,” lanjut pria itu.


“Yang akan membelaku? Siapa? Bu Guru?” tanya Ella.


“Hm? Coba aja cari tahu sendiri,” jawab Albert sambil tersenyum penuh rahasia.


“Siapa sih yang dia maksud?” gumam Ella dalam hati. Pikirannya saat ini terpecah dua. Dia lalu membuka website yang dimaksud Albert tadi. “Ah, ya ampun. Aku pemilik dua puluh persen modal restoran ini?” pekik Ella.


“Hu’um. Itu artinya, kamu adalah salah satu pemilik restoran ini selain aku dan ibumu, dan Ganendra,” ujar Albert.


“Tetapi kita kan masih satu keluarga? Emangnya bisa?” tanya Ella.


“Kenapa nggak? Ini rekeningmu. Kamu bisa menyimpan uangnya, atau menggunakannya,” ujar Albert seraya menyerahkan buku tabungan yang memiliki nominal angka delapan digit.


“A-aku nggak bisa menerimanya. Ini terlalu besar untuk bocah SMA kayak aku,” ujar Ella mengembalikan buku tersebut.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2