Me Vs Berondong Mommy

Me Vs Berondong Mommy
Bab 33. Sayang


__ADS_3

“Sejauh itukah hubungan kita sekarang? Sampai kamu cuma menganggapku sebagai seorang majikan?” ucap Albert. Ella menutup wajahnya dengan kedua tangan. Gadis itu terdengar menangis.


“La, kamu pasti udah bosan mendengar kalimat ini. Tapi aku menyayangimu. Kalau aku dan Ghina jadi menikah, rasa sayang itu nggak akan hilang. Kamu tetap gadis yang manis dan ceria di mataku,” bisik pria itu. Dia duduk di tepi tempat tidur dan menatap Ella yang menangis sesenggukan.


“Lihatlah, setengah hari aku mengabaikan pekerjaanku untuk mencari Ghina. Kamu pikir semua ini cuma demi mama kamu? Nggak, La. Aku juga mencemaskanmu. Aku takut kamu nggak bisa belajar dengan tenang, makanya mengikuti keinginanmu untuk mencari Ghina.” Albert menghentikan kalimatnya sejenak. Isak tangis remaja di sebelahnya masih terdengar jelas.


“Sore ini juga, aku baru pulang bekerja langsung datang ke sini, setelah supir angkot itu meneleponku. Padahal sebenarnya aku capek banget. Menurutmu itu apa namanya kalau bukan sayang?” kata Albert.


Drrrtt! HP Albert berdering. “Halo, Ghina.”


“Gimana? Apa kamu udah bersama Ella?” tanya Ghina.


“Iya, aku baru aja ketemu Ella. Jangan khawatir. Keadaannya baik-baik aja. Sebentar lagi kami pulang,” jawab Albert.


“Syukurlah. Aku bisa tenang sekarang,” ujar Ghina bernapas lega. “Oh iya, kalian mau makan malam apa? Bia raku masakin.”


“Nggak usah masak. Kamu istirahat aja. Nanti kami beli makanan aja, untuk makan di rumah,” jawab Albert.

__ADS_1


“Oh, baiklah. Aku tunggu,” sahut Ghina lalu memutuskan telepon.


“Kamu dengar, kan? Mama kamu mencemaskanmu. Ayo kita pulang,” ajak Albert.


Tidak ada gunanya lagi bagi Ella untuk mengelak dari ajakan pria tampan itu. Ella mengusap wajahnya dari air mata, lalu turun dari tempat tidur. Albert duluan meninggalkan ruang rawat untuk mengambil obat.


...🥀🥀🥀...


“Kamu mau nasi goreng kambing, La? Tadi kata dokter tekanan darahmu rendah, kan?” tanya Albert sambil mengemudi. Di kanan dan kiri jalan dipenuhi oleh deretan pedagang makanan kaki lima.


Gadis itu tidak menyahut. Dia hanya diam terpaku di kursinya sembari menatap lurus ke depan. Kedua tangannya melipat di dada, menghindari dinginnya udara dingin dari AC mobil.


“La, jangan gini, dong. Aku salah apa lagi, sih? Apa kita bakal diem-dieman gini sampai pulang?” kata Albert yang mulai menipis kesabarannya.


“Gimana mama tadi? Kenapa nggak mengabariku?” tanya Ella hampir tidak terdengar.


“Maaf, aku lupa mengabarimu karena pekerjaanku lagi menumpuk. Tapi mama kamu aman, kok. Semua masalah dengan rentenir itu selesai tanpa bantuanku. Mama kamu udah lunasin semua hutangnya,” jelas Albert.

__ADS_1


“Syukurlah. Tetapi kenapa mama harus sembunyi-sembunyi gitu? Bikin cemas aja,” gumam Ella.


“Mama kamu meminjam uang sama rentenir tanpa izin dari pemerintah. Jadi mereka takut, transaksi ini ketahuan oleh pihak berwajib lalu tertangkap. Aku tadi juga sempat cemas, tetapi kemudian melihat mama kamu keluar dari sebuah ruko dalam keadaan baik-baik aja,” cerita Albert. “


“Oh,” gumam Ella.


Kalian berdua itu sebenarnya saling menyayangi. Tapi sama-sama gengsi mau menunjukkannya. Ujung-ujungnya aku juga yang diribetin,” sindir Albert sambil tertawa kecil. “Oh, iya. Jadi ini gimana? Kamu mau makan apa?” pria itu mengulangi pertanyaannya.


“Aku nggak selera makan. Kamu beli untuk mama aja,” ucap Ella.


“Jangan kayak anak-anak gitu, dong. Katanya udah dewasa. Kamu itu lagi kurang sehat, loh. Harus banyak makan dan istirahat yang cukup,” bujuk Albert. “Ah, itu nasi goreng kambingnya. Aku pesan dulu, ya. Kamu tunggu di mobil aja,” ucap pria itu sembari memarkirkan kendaraannya di depan sebuah pedagang kaki lima.


Ella tetawa kecil setelah Albert meninggalkan mobil. “Dasar cowok aneh. Bilang aja dia yang kepingin nasi goreng kambing. Pake bawa-bawa aku yang lagi sakit pula,” ucap Ella.


Gadis itu menghela napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya lagi. Ada sesuatu yang masih mengganjal dalam hatinya. “Padahal aku sudah bertekad untuk bersikap dewasa di hadapannya. Tapi kalau udah di depannya kenapa jadi kekanak-kanakan lagi, sih?” gerutu Ella mendengus kesal.


“Ini lagi. Padahal orangnya udah turun dari mobil sejak tadi. Tapi kenapa bau parfumnya masih tercium? Apa ini yang dirasakan mama setiap hari? Duduk di sebelahnya, mengobrol bersama, mencium wangi parfumnya, bahkan menyiapkan segala kebutuhannya. Cih, aku iri banget sama mama,” kata Ella. Dia tenggelam dalam pikirannya sendiri, sampai tidak sadar kalau Albert sudah kembali.

__ADS_1


“Kenapa kamu nangis lagi cuma gara-gara mencium parfumku?” ucap pria itu.


(Bersambung)


__ADS_2