
"Assalamualaikum, gimana kabarmu hari ini, Nak?" tanya Ghina di sore hari.
"Waalaikumussalam. Baik-baik aja, Ma," sahut Ella sambil menghitung uang kembalian saah satu pelanggan warnet. Gadis itu sama sekali nggak mau menceritakan tentang beasiswa yang telah dicabut pada Ghina.
"Kamu beneran nggak mau pindah sini? Mama khawatir banget, loh. Tadi Mama juga nggak sempat kirim lauk untuk kamu, karena masih sibuk beres-beres," ujar Ghina.
"Aku di sini aja dulu, biar bisa fokus belajar untuk ujian. Aku juga bisa masak sendiri, kok. Mama nggak usah khawatir," kata Ella. "Ah, tadi pagi Al ... Uhuk! Maksudku a-ayah mengantar sarapan nasi kuning, sambil pergi kerja," ujar Ella terang-terangan. Lidahnya masih sangat kelu, memanggil pria itu dengan sebutan ayah.
"Oh, gitu. Syukurlah. Tapi kamu masih kerja di warnet itu, ya? Katanya sibuk di sekolah?" tanya Ghina. Dia sama sekali tidak marah dan menaruh curiga, mendengar Albert mengunjungi putri mereka.
"Aku di warnet sambil cari bahan pelajaran, Ma. Aku pasti pegang janji-janjiku kemarin," kata Ella.
"Emangnya nggak bisa pakai laptop punya Ayahmu aja? Jadi kamu nggak harus pulang magrib lagi," desak Ghina.
"Nggak perlu, Ma. Di sini aku banyak teman belajar," jelas Ella.
"Baiklah, Mama percaya. Jaga dirimu dan jangan pulang terlalu malam," sahut Ghina kemudian.
Kluk! Sambungan telepon pun terputus. Ella meletakkan HP-nya ke atas meja, seraya menghembuskan napas panjang.
__ADS_1
"Fyuh, gimana ini? Aku nggak berani bilang soal beasiswa sekolah yang dicabut, dan gagal dapat beasiswa universitas. Mama pasti akan marah dan memaksaku tinggal di sana, kaalu mengetahuinya," keluh Ella.
"Maaf, Ella. Ibu nggak bisa membantumu. Ini sudah keputusan dinas pendidikan dan pihak universitas. Sebenarnya ada cara lain, kamu tetap daftar kuliah secara reguler, lalu mencari peluang beasiswa dari setelah berkuliah di sana. Tetapi persaingannya jauh lebih sulit."
"Sedangkan untuk pemutusan beasiswa dari sekolah adalah kesepakatan dewan guru dan komite sekolah. Beasiswa tersebut dialihkan pada siswa lain yang lebih memenuhi syarat." Begitu penjelasan Bu Elya tadi, ketika Ella meminta pendapatnya.
"Dari mana aku mendapatkan biaya untuk menutupi uang spp itu? Biasanya mama kan hanya memberi separuh, karena separuhnya lagi sudah dipotong beasiswa," pikir Ella galau.
"Ah, aku harus menabung gaji dari warnet agar bisa membayarnya secara penuh. Aku juga harus memanfaatkan waktu di warnet semaksimal mungkin untuk belajar," ucap Ella pada dirinya sendiri.
...🥀🥀🥀...
"Lagi?" ucap Ella sedikit terkejut. Dia pikir setelah cerita dengan mama, Albert akan menghentikan kegiatannya itu. "Thanks, ya. Wah, kali ini bubur ayam, ya?" ucap Ella dengan wajah ceria.
Albert mengerutkan keningnya. Dia heran melihat sikap Ella yang berubah seratus delapan puluh derajat, dibandingkan kemarin.
"Kenapa?" tanya Ella dengan wajah lugu.
"Ah, nggak. Kamu suka bubur ayam, kan?" tanya Albert sekenanya.
__ADS_1
"Suka, kok. Nanti aku makan setelah di sekolah. Terima kasih, ya. Aku pergi dulu," ucap Ella sembari tersenyum manis.
"Oh, tunggu. Biar ayah antar," kata Albert buru-buru.
"Boleh. Aku hari ini ingin cepat sampai di sekolah," kata Ella. Lagi-lagi Albert mengerutkan keningnya, melihat tingkah gadis itu, yang tidak menolak bantuannya.
Selama perjalanan menuju ke sekolah, kedua orang itu tidak saling bicara. Ella menyibukkan diri dengan hapalannya, sementara Albert fokus mengemudi.
"Sibuk banget, Non? Lagi banyak ulangan, ya?" kata Albert membuka suara.
"Ah, iya. Sebentar lagi musim ujian. Aku harus persiapkan dari sekarang," kata Ella tanpa mengalihkan pandangannya dari buku pelajaran.
"Emangnya nggak pusing, baca buku di dalam mobil?" tanya Albert.
"Sebenarnya agak pusing, sih. Tapi sebentar lagi aku kan turun," sahut Ella. Setelah itu dia kembali fokus menghapalkan pelajarannya.
Albert tidak lagi menginterupsi waktu belajar gadis remaja itu. Tanpa disadari oleh Ella, Albert menurunkan kecepatannya, sehingga perjalanan menjadi sedikit lebih lama. Sesekali bola mata pria itu melirik ke arah kiri, memperhatikan Ella yang sedang fokus belajar.
"Apa dia sengaja melakukan ini untuk menghindariku?" pikir Albert penasaran.
__ADS_1
(Bersambung)