Me Vs Berondong Mommy

Me Vs Berondong Mommy
Bab 22. Aku dan Mama


__ADS_3

"Ella, kamu sudah pulang, Nak?" Ghina menyambut putrinya dengan senyuman, yang baru aja masuk rumah.


Ella mengalihkan pandangan dari sang mama. Gurat senyuman di wajah Ghina kembali memudar. Ternyata Ella masih menyimpan rasa marah padanya.


"Ini bakso untuk Mama." Ella mengulurkan sebungkus kantong plastik pada Ghina. Gerakannya sangat kaku dan canggung.


"Oh, kamu beli di mana? Kamu beli pakai uang tabungan kamu?" tanya Ghina sambil menerima kantong plastik tersebut.


"Bukan aku yang beli, tetap Bibi Sri. Di Warung bakso depan," ucap Ella.


"Kamu udah ketemu sama Bibi?" ucap Ghina lirih.


"Nggak cuma ketemu Bibi, tapi aku juga mendengar semua obrolan Mama dan Bibi," ungkap Ella.


"Ma-"


"Maafkan aku, Ma," bisik Ella hampir tidak terdengar, memotong ucapan Ghina yang belum selesai. Matanya menatap ke lantai. Kedua tangannya mengepal erat.


"Iya, sayang. Mama lebih meminta maaf padamu," balas Ghina. Air matanya tumpah seketika. Dia meraih tubuh Ella, dan menariknya dalam dekapannya.

__ADS_1


"Maaf karena aku udah marah-marah sama Mama." Ella masih belum bisa menatap sang ibunda. Dia merasa sangat canggung berada di dalam pelukan wanita, yang telah melahirkannya tersebut.


"Iya, Nak."


"Tapi bukan berarti aku menyetujui pernikahan Mama dengan ... Al." Lidah Ella tercekat ketika menyebut nama majikannya, sekaligus cinta pertamanya tersebut.


Ghina sedikit terkejut, mendengar panggilan Ella terhadap Albert telah berubah. Biasanya gadis belia itu memanggil Al dengan sebutan kakak, bukan namanya.


"I-iya, Nak. Mama mengerti. Sekarang gantilah bajumu. Mama udah memasak semur ayam kesukaanmu," ucap Ghina.


"Aku masih kenyang, Ma. Tadi udah makan bakso sama Bibi," ucap Ella.


"Oh, ya udah. Kamu istirahat aja kalau gitu," ucap Ghina. Ella bisa melihat raut kecewa di wajah ibunya.


...🥀🥀🥀...


"Sejak kapan mama jadi sekurus itu?Apa mama jarang makan?" gumam Ella. Dia bisa merasakan tubuh mamanya begitu ringkih, ketika mereka saling berpelukan tadi.


"Usia mama baru tiga puluh empat tahun. Bahkan mama sebaya dengan kakak sulung Imelda yang jadi dokter itu. Tapi kenapa mama terlihat sangat tua? Apa yang udah aku lakukan selama ini? Aku selalu sibuk sendiri tanpa memikirkan mama," gumam Ella lirih.

__ADS_1


Baju seragamnya basah karena air mata. Remaja itu menundukkan kepalanya, dan mengingat-ingat semua yang telah dilakukannya untuk sang mama. "Kapan, ya, aku terakhir kali makan dan mengobrol bersama mama?" pikir Ella. Dan ternyata, mereka sangat jarang melakukan hal bersama-sama.


Ella menangis penuh penyesalan. Selama ini ia sama sekali tidak pernah memperhatikan sang ibunda. Mereka memang berbagi tugas di rumah. Tetapi kedua ibu dan anak itu jarang sekali menghabiskan waktu berdua, terutama saat Ella duduk di bangku SMA.


...🥀🥀🥀...


Klang! Ella mengambil piring di lemari, lalu duduk di samping Ghina yang sedang makan bakso. Ghina menatap putrinya yang menyendokkan nasi dan ayam semur dengan tatapan heran.


"Lho, katanya masih kenyang?" ucap Ghina.


"Aku pengen makan semur buatan mama." Ella mengalihkan pandangan dari mama. Dia tidak ingin menangis di depan wanita itu.


"Makanlah yang banyak. Mama senang kalau kamu menghabiskan masakan mama," ucap Ghina. Ujung bibirnya melengkung ke atas, melihat Ella mulai berubah seperti dulu lagi.


Ella mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Nasi di dalam mulutnya sama sekali nggak bisa ditelan karena menahan tangis.


"Kenapa mama tetap baik padaku, sih? Padah aku udah menentang dan marah-marah pada mama," tanya Ella dalam hati.


Sementara Ghina memperhatikan putri tunggalnya yang melahap ayam dengan semangat. "Apakah keadaan Ella beneran udah membaik, atau dia hanya berpura-pura di depanku?" batin Ghina. "Ya Tuhan, jalan mana yang harus aku tempuh? Apakah aku harus menolak lamaran Albert?"

__ADS_1


Kedua wanita itu memang duduk bersama. Namun mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Akankah salah satu dari merwka mengalah nantinya?


(Bersambung)


__ADS_2