Me Vs Berondong Mommy

Me Vs Berondong Mommy
Bab 106. Perhatian dari Ayah


__ADS_3

"Sayang, itu di kulkas ada ungkep ayam. Kamu tinggal goreng aja. Kalau mau masak ikan juga udah mama bersihkan, kamu tinggal cuci ulang aja sebelum di masak," ujar Ghina.


"Iya, Ma. Aku ngerti, kok," sahut Ella.


"Kemarin Mama juga ada beli telur ayam sama mi instan juga, kalau mau masak praktis," sambung Ghina sambil menunjukkan rak penyimpanan mi instan.


"Iya, Mamaku sayang," ujar Ella lagi.


"Terus kamu udah hapal kan, kunci-kunci rumah kita? Jangan lupa tutup jendela sebelum malam," ucap Ghina lagi.


"Iya, Ma. Aku pasti ingat, kok," jawab Ella.


"Nanti kamu pulang pergi sekolah, akan dijemput Gabriel. Terus kalau ada apa-apa, cepat kabari Pak Satpam, ya." Ghina terus memberikan petatah-petitih pada putrinya tersebut.


"Ghina, Ella itu udah kelas tiga SMA, loh. Dia udah mandiri, bukan anak kecil lagi," tegur Albert yang dari tadi mendengarkan pesan Ghina pada putri mereka.


"Ya tapi tetap aja, Al. Aku cemas tinggalkan dia sendirian di rumah besar kayak gini. Dia kan belum terbiasa dengan lingkungan sini," jawab Ghina.


"Ya tapi kita kan cuma pergi dua hari satu malam, sayang," kata Albert.


"Seorang ibu memang seperti itu, Al. Walau pun anaknya udah dewasa, tetap aja di mata seorang ibu dia itu masih kecil dan perlu dibimbing. Mama memandang kamu juga gitu, kok," ujar ibunda Albert tersebut membela menantunya.


"Tuh, dengerin apa kata Mama," ujar Ghina mencibir ke arah Albert.


Ella tertawa melihat sikap kedua orang tuanya. "Aku mengerti kok maksud Mama. Nanti kalau ada apa-apa, aku bakalan telepon Mama," ucap Ella.


Albert memandang Ella sambil tersenyum. "Aku suka melihat senyuman dan tawa Ella seperti ini. Kayaknya dia udah mulai menerima aku dan mamaku sebagai keluarga. Maaf La, aku nggak bisa terima cintamu," batin Albert.


...🥀🥀🥀...


Dua minggu kemudian. Sang Nenek telah kembali ke rumahnya. Namun Ella masih menetap di rumah mewah itu.


"Sayang, perasaan kita tinggal bertiga deh di rumah ini. Tapi kenapa aku merasa kita cuma berdua, ya?" ujar Albert yang sedang bersantai di ruang keluarga bersama sang istri.


"Mreeeeaaaw!" Luna yang sedang berbaring di pangkuan Albert mengeong dengan keras.

__ADS_1


"Kamu tuh nggak masuk hitungan, Meng... Kamu tuh makhluk berbulu halus yang sering tiba-tiba hilang," ujar Albert pada Luna.


"Kamu kangen sama Ella, ya?" sindir Ghina.


"Hah, nggak kok. Siapa bilang? Aku ngomong gini cuma karena dia nggak pernah muncul selain sarapan dan makan malam," bantah Albert.


"Iya, aku ngerti. Kalau kangen ketuk aja pintu kamarnya. Dia pasti sibuk belajar, satu minggu lagi kan dia udah mulai ujian," sambung Ghina sambil mengunyah keripik tempe.


"Dibilangin aku nggak kangen," bantah Albert lagi. "Aku tuh khawatir, karena dia berkurung di kamar terus," bantah Albert lagi.


"Ah, ngaku aja nggak apa-apa, kok. Kangen sama anak sendiri kan nggak masalah?" goda Ghina sambil tertawa kecil. "Oh, iya. Kalau kamu mau mengunjungi kamarnya, jangan lupa bawa cemilan. Pasti dia suka banget," sambung Ghina lagi.


"Ih, dibilangin bukan gitu!" kata Albert.


Satu jam kemudian. Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Ella tadi bahkan tidak keluar sama sekali untuk makan malam.


Tok! Tok! Tok!


"Ella, kamu udah tidur?" Albert mengetuk pintu kamar putrinya.


Ceklek! Pintu kamarnya terbuka. "Oh, A-ada apa?" tanya Ella dengan gugup, yang setengah badannya bersembunyi di balik pintu. Sang Ayah berdiri di depan kamarnya dengan penampilan sangat rapi. Di tangan kanannya terdapat dua buah kantong plastik berbau harum.


"Katanya kamu lagi sibuk belajar untuk ujian? Nih, makan malam untuk kamu, Ayah belikan Raja Burger. Ada paket ayam dan nasi juga. Kalau kamu kenyang, simpan aja. Besok pagi kamu panaskan di microwave," kata Albert panjang lebar.


"Terima kasih," ucap Ella menyambut kantong plastik tersebut.


"Lalu ini ada jus buah delima, bagus untuk antioksidan dan meningkatkan daya tahan tubuh," kata Albert sambil menyerahkan satu kantong plastik lagi.


"Terima kasih. Tapi ini makanan dan minumannya banyak banget. Mana mungkin aku menghabiskannya sendirian. Di bagi dua aja untuk mama juga," kata Ella.


"Nggak usah. Mama kamu udah kenyang tuh. Lagian kamu saat ini sedang membutuhkan banyak nutrisi," kata Albert. "Lalu jangan terlalu banyak begadang, nggak bagus untuk kesehatan kamu. Waktu istirahat juga harus seimbang dengan waktu belajar," sambung Albert memberikan petuahnya.


"Iya, aku ngerti," sahut Ella.


"Terus, kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk curhat ke Ayah. Kamu masih boleh kok curhat-curhat seperti dulu. Hubungan baru kita ini jangan sampai membuat jarak kita semakin menjauh," sambung Albert lagi.

__ADS_1


"Iya," jawab Ella singkat.


"Kalau kamu ada pelajaran yang nggak ngerti juga boleh tanya ke Ayah juga, kok. Gini-gini dulu Ayah langganan juara kelas, lho," kata Albert menyombonglan diri.


"Ha? Masa, sih? Bukannya masuk ke golongan murid yang suka cabut?" ucap Ella sembari tertawa.


"Enak aja. Ayah ini murid teladan di sekolah, bahkan kuliah aja di luar negeri," kata Albert kembali menyombongkan diri.


"Iya deh, iya ... Aku percaya," ujar Ella sambil tertawa jahil.


"Em, satu lagi. Sebenarnya renovasi rumahnya udah selesai. Tapi Ayah harap kamu tetap tinggal di sini sampai selesai ujian," kata Albert. "Ah, mau tinggal di sini selamanya juga boleh, kok," sambung Albert lagi.


"Iya, aku mengerti," kata Ella. "Makasih perhatiannya," sambung gadis remaja itu.


"Perhatian apa, sih? Itu kan udah tanggung jawab orang tua," kilah Albert. "Ya udah, lanjut gih belajarnya," ucapnya kemudian.


...🥀🥀🥀...


"Ehem!" Ghina berdehem kuat ketika Albert memasuki kamar.


"Astaga, Ghina. Ngagetin aja," ujar Albert sambil mengecek detak jantungnya di dada.


"Apa sih? Kagetan aja," ujar Ghina pura-pura tak bersalah. "Katanya nggak kangen, tapi ujung-ujungnya tetap ada dicariin ke kamarnya. Sampe terniat banget beli Raja Burger malam-malam gini," cibir Ghina.


"Aku kan cuma mengikuti saranmu," kata Albert seraya mengganti pakaiannya.


"Hilih dasar tsundere. Jujur aja napa, sih? Aku senang kok, punya suami yang menyayangi putriku seperti anak kandungnya sendiri. Makasih ya, sayang," kata Ghina. Tidak ada lagi perasaan cemburu pada Albert dan Ella.


"Ya ampun, lebay deh," ujar Albert. Pria itu melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Ghina. "Aku kan hanya menuruti permintaanmu sebelum menikah, yang ingin memberikan keluarga lengkap untuk Ella," sambung Albert seraya mengecup kening Ghina dengan mesra.


"Ah, kalau gitu kita nggak perlu punya anak lagi, kan? Usiaku udah tiga puluh lima, sebentar lagi tiga puluh enam tahun. Bisa beresiko kalau aku melahirkan di usia segitu," kata Ghina.


"Hei, siapa bilang nggak perlu. Aku kan juga pengen menggendong dan memandikan bayi, seperti para ayah lainnya. Lagi pula di kampung banyak kok nenek-nenek usia lima puluh tahun ke atas punya bayi lagi," kata Albert.


"Jadi aku disamain sama nenek-nenek, nih?" ujar Ghina sambil meletakkan tangannya di pinggang sang suami.

__ADS_1


"Adaaauuu! Cubitanmu sakit banget, sih?" protes Albert.


__ADS_2