
"Astaga! Ini restoran milik Albert? Kok aku baru sadar?" gumam Ella dalam hati. Remaja berambut cokelat itu benar-benar lupa, kalau dia kini memiliki ayah seorang pengusaha muda kaya raya.
Siswi SMA tersebut mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Dinding kaca dengan ornamen kaligrafi kanji, membuat seluruh ruangan mendapatkan penerangan secara alami. Taman yang indah dengan air mancur dan kolam ikan di samping area pengunjung, menambah kesan alami yang sangat lekat dengan budaya Jepang. Beberapa peralatan canggih di berbagai sudut ruangan yang menghidupkan kesan modern.
Mood Ella semakin anjlok. Seragam sekolahnya yang lusuh, sangat kontras dengan suasana restoran yang mewah tersebut. Tidak hanya kemewahan bangunannya, para pramusaji pun tampil dengan seragam yang rapi dan bersih. Beberapa pengunjung terlihat santai menikmati hidangan di sana.
"La, kok malah bengong? Ayo masuk. Tempat kamu bukan di sini, tetapi ruang VIP," kata Albert pada Ella.
"Hah? Oh, iya," sahut Ella tergagap. Dia merasa kikuk melangkahkan sepatunya yang kumal, di lantai yang putih mengkilat itu. Namun genggaman tangan Ghina akhirnya membuat remaja itu bergerak dari tempatnya berdiri.
Kedua wanita cantik itu berjalan melalui lorong yang memiliki desain elegan namun tidak menghilangkan kesan Jepangnya. Aroma sakura yang harum dan menenangkan, memenuhi setiap sudut ruangan. Ghina membawa Ella memasuki sebuah ruangan yang dilengkapi sofa, kulkas dan sebuah kamar mandi.
"Gantilah bajumu di kamar mandi. Mama sudah menyiapkan pakaian ganti di dalam lemari sana," ujar Ghina seraya menunjuk ke sebuah lemari yang terletak di sudut ruangan.
Ella menatap Ghina tanpa berkedip. Ada banyak hal yang ingin dia tanyakan, tetapi semuanya terpendam di dada. Ella tidak tahu harus memulai dari mana.
"Kamu pasti gerah mengenakan seragam sekolah seperti itu. Ayo cepat ganti baju sebelum makanan datang
Bicaranya nanti aja," ulang Ghina.
"Iya, Ma," sahut Ella.
...🥀🥀🥀...
"Lho, Nenek?" Ella yang baru selesai berganti pakaian, menyalami ibunda Albert yang duduk di sofa.
"Gimana kabarmu, Nak?" tanya wanita itu, sembari menyambut tangan Ella.
"Sehat, Nek. Mama mana?" tanya Ella yang tidak menemukan Ghina di ruangan itu.
"Mama kamu menemui seorang tamu di depan, sedangkan ayahmu sibuk di ruang kerjanya," ujar sang Nenek.
"Oh," kata Ella. Suasana mendadak canggung.
__ADS_1
Ella memang telah mengenali ibunda Albert tersebut sejak mamanya bekerja di rumah Albert. Mereka juga beberapa kali bertemu. Tetapi Ella tidak pernah mengobrol banyak hal pada wanita yang dulu adalah majikannya.
"Mau menemani Nenek jalan-jalan di taman sambil menunggu makanan datang? Nenek dengar kamu suka berkebun," ajak Nenek.
"Boleh," sahut Ella sambil tersenyum. Ini lebih baik daripada duduk canggung di dalam ruangan.
Mereka berdua lalu keluar melalui pintu kaca yang menuju langsung ke taman. Udara di sana sangat segar. Beragam bunga yang bermekaran membuat kedua mata Ella berbinar. Memang benar, dia sangat menyukai kebun dan bunga.
"Nah, kalau senyum gitu kan semakin cantik," celetuk Nenek.
"Eh?" Pipi Ella bersemu merah mendengar pujian tersebut.
"Habisnya Nenek lihat, wajahmu dari tadi muram. Ada masalah apa?" tanya wanita berusia lima puluh tahunan itu.
"Nggak ada apa-apa kok, Nek. Tadi aku cuma agak kesel sama teman di sekolah. Tapi sekarang nggak lagi, kok," jawab Ella.
"Hm? Gitu ya? Syukurlah kalau suasana hatimu membaik. Tadi ayah dan ibumu meminta Nenek menemanimu mengobrol, sampai perasaan kamu lega. Tapi Nenek senang ditemani kamu seperti ini. Nenek jadi ada teman mengobrol."
"Aku juga senang menemani Nenek berjalan-jalan di taman," sahut Ella lagi.
Ella tertawa mendengarnya. "Aku suka dua-duanya. Karena ini pertama kalinya aku punya Nenek," ucap Ella. Hati wanita paruh baya itu trenyuh, mendengar kalimat Ella.
"Makanannya sudah siap, Nyonya," ucap salah satu pramusaji.
"Ayo, masuk. Kita mengobrol sambil makan aja," ajak sang Nenek.
...🥀🥀🥀...
"Nah, ini. Selamat makan." Beberapa Pramusaji meletakkan sejumlah menu di atas meja. Wanginya membuat perut Ella memberontak minta diisi.
"Ini masakan Jepang, Nek? Ku pikir masakan Jepang itu sushi dan sashimi?" tanya Ella dengan polos.
__ADS_1
"Ini masakan Jepang tradisional. Kamu pasti suka. Jangan lupa cobain sashiminya," kata sang Nenek. "Ini menu utama untuk kamu. Cobain, deh. Pasti jadi favorit." ujarnya lagi seraya menyodorkan sebuah piring.
"Aih! Ini kan menu yang sering muncul di dalam anime. Apa ya namanya?" seru Ella bersemangat.
"Namanya nasi kare chicken katsu."
"Oh iya, benar. Nenek makan juga, dong. Mama sama Al, em... Ayah maksudku nggak ikut makan?" Ella buru-buru meralat kalimatnya.
"Nanti mereka menyusul, kalau pekerjaannya sudah selesai. Kita duluan aj. Kamu pasti udah lapar, kan?" jawab Nenek.
"Kalau gitu aku coba, ya. Itadakimasu," ucap Ella menirukan anime yang sering ditontonnya. Gadis itu lalu menyendokkan hidangan di piringnya ke dalam mulut. "Ini enak banget. Aku baru pertama kali ngerasain makanan kayak gini. Ah, pasti menyenangkan kalau bisa makan ini juga bareng almarhum papa," batin Ella dalam hati.
"Lho kenapa menangis? Apa teringat masalah tadi?" tanya Nenek.
Ella tidak menyadari, jika air matanya telah mengalir di pipi. "Nggak kok, Nek. Aku cuma senang banget bisa makan makanan seenak ini," ucap Ella.
Wanita di hadapan Ella itu menitikkan air matanya. "Nak, mulai sekarang kamu boleh mencoba makanan apa pun yang kamu inginkan. Kamu bebas meminta sama Nenek."
"Kenapa sih, Nenek baik banget sama Ella?" Ella menyeka air matanya dengan selembar tisu.
"Karena kamu cucu Nenek."
"Tapi Ella juga bukannya cucu kandung Nenek," ujar Ella lagi.
"Memangnya kenapa kalau bukan cucu kandung? Nggak ada alasan untuk membenci kamu, Nak," ucap wanita itu dengan lembut. "Semua berhak mendapat kasih sayang yang sama. Kalau ayahmu ada salah denganmu, tolong dimaafkan, ya," sambungnya lagi.
"Mereka nggak ada salah denganku. Aku-nya aja yang..." Ella tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
"Nenek paham. Dulu ayahmu juga begitu waktu Nenek mau menikah lagi. Tetapi kemudian mereka malah kompak. Jadi kalau ada apa-apa, jangan sungkan untuk cerita sama Nenek. Nenek senang sekali kalau ada teman cerita."
Tidak berapa lama kemudian, Albert dan Ghina pun memasuki ruangan. Ghina lalu duduk di samping Ella, sementara Albert duduk di sebelah ibundanya. Merek lalu makan bersama.
__ADS_1
Suasananya menjadi lebih hangat. Sesekali mereka pun bersenda gurau sambil menikmati hidangan. Hati Ella yang semula merasa canggung dengan keadaan ini, perlahan mulai mencair. Remaja itu akhirnya bisa merasakan keluarga yang lengkap lagi, setelah sekian lama.
"Inilah yang diinginkan Mama sebelum menikah kemarin. Memberikan aku sebuah keluarga yang hangat dan harmonis," batin Ella tersenyum bahagia.