Me Vs Berondong Mommy

Me Vs Berondong Mommy
Bab 103. Malu


__ADS_3

"Tentu aja ayahmu marah besar. Aku juga kesal kalau memikirkannya lagi. Siapa sih yang tega memasukkan obat perangsang ke dalam makanan atau minumanmu?" ujar Daniel kelihatan memendam emosi.


"Eeeh? Obat perangsang?" seru Ella terkejut. "Nggak gitu, Daniel. Aku cuma keracunan," kata Ella. Dadanya bergemuruh ketika mendengar kalimat Daniel barusan.


"Iya, kamu keracunan karena overdosis obat yang aku bilang tadi. Dokter yang mengatakan hal itu," ulang Daniel. "Lain kali kamu harus waspada setiap mau makan dan minum, walau pun itu bekalmu sendiri," ujar Daniel.


"Ya-yang benar?" Lutut Ella lemas mendengar kenyataan barusan. "Bodohnya aku? Kenapa aku bisa se-teledor itu, sih? Jadi itu yang bikin dia menghindariku seharian?" kata Ella.


"Kenapa? Wajahmu mendadak pucat. Apa ada masalah besar?" kata Daniel cemas.


"Aku nggak tahu apa yang aku lakukan di depannya, waktu dia menjemputku kemarin," ucap Ella dengan lirih. "Daniel, emangnya efek dari obat perangsang itu seperti apa?" tanya Ella malu-malu.


"Ya mana aku tahu? Aku kan nggak pernah pake. Aku juga nggak pernah lihat cewek yang memakainya," kata Daniel.


"Apa kayak yang di acara prank-prank itu?" ujar Ella bergidik mgeri.


"Aku nggak tahu, La. Tapi semoga nggak, deh. Emang siapa yang kemarin menjemputmu? Supir ojol?" tanya Daniel. "La? Oi, La." Daniel mengguncang bahu Ella yang berjongkok lemas di depan ruang guru.


"Mampus, aku! Bego banget sih jadi cewek? Apa aja yang udah kulakuin kemarin? Untung dia bukan orang jahat," gumam Ella merasa sangat malu.


"La, kamu ngomongin apa, sih? Siapa yang menjemputmu kemarin? Ayahmu atau supir ojol? Nggak ada kejadian macam-macam, kan?" tanya Daniel semakin khawatir.


"Jangan-jangan Ella kemarin pulang sama supir ojol kayak biasanya? Duh, apa gara-gara ini kemarin Om Albert marah besar? Ella abis diapain sama supir ojol itu?" batin Albert cemas.


"Anak-anak, ngapain kalian masih di sini? Bel masuk udah bunyi tiga menit yang lalu," tegur salah seorang guru.


"Iya, Pak. Ini kami mau ke kelas. Ayo, La," Daniel menarik lengan Ella, memaksa gadis itu untuk berdiri.


"Kenapa dia? Apa dia sakit?" tanya guru itu lagi, melihat Ella yang berjongkok dengan tubuh lemas.


"Sa-saya nggak apa-apa kok, Pak. Cuma agak pusing aja," ucap Ella pelan. Wajahnya terlihat sangat merah.


"La, kamu beneran nggak diapa-apain sama supir ojol kemarin, kan?" bisik Daniel ketika mereka berjalan menuju ke kelas.


"Nggak apa-apa, kok. Aku cuma agak malu aja ngingatnya," kata Ella. Padahal dia sama sekali nggak mengingat apa pun soal kejadian kemarin.

__ADS_1


...🥀🥀🥀...


"Luna ... Luna ... Kamu di mana?" seru Ella memanggil kucing kesayangannya.


Ella menundukkan kepalanya ke bawah kolong tempat tidur, lalu menyenternya. Remaja itu kemudian berpindah ke balkon dan kembali menanggil Luna. Masih penasaran, gadis cantik itu lalu menelusuri setiap sudut ruangan hingga ke dapur.


"Duh, di mana sih makhluk halus berbulu itu?" gerutu Ella. "Dia nggak kabur dari rumah ini, kan? Ah, nggak mungkin lah. Bangunan dan halaman rumah ini kan luas banget. Pagarnya juga tinggi," ujarnya lagi.


"Kamu cari siapa, sih?" tanya Ghina memperhatikan Ella dengan heran.


"Aku cari Luna, Ma," jawab Ella.


"Kucing kamu? Tadi kayaknya dia di ruang keluarga, deh," ujar Ghina.


"Ah, yang benar? Kayaknya aku tadi belum cek ruangan itu, deh.


Ella melangkahkan kakinya dengan kecepatan tinggi. " Luna ... Luna ... Jangan nakal kamu, ya. Hari ini aku punya royal canin dan banyak cemilan loh," seru Ella sambil menggoyang-goyangkan bungkus makanan kucing yang mengeluarkan suara berisik.


Pluk! Ella menjatuhkan bungkus makanan kucing itu ketika kakinya berhenti di depan ruang keluarga yang sangat nyaman.


"A-anu, nggak jadi." Ella buru-buru berbalik badan.


"Hm? Kok nggak jadi?" kata Albert lagi.


"Luna berani banget tidur di situ? Kok Albert santai aja, sih? Luna itu betina, loh," batin Ella sambil melangkah pergi.


Hati Ella mendadak malu, ketika melihat kucing peliharaannya yang gendut dan berbulu putih, tidur pulas di atas pangkuan Albert yang sedang sibuk.


"Cih, Luna aja nggak pernah manja-manja gitu sama aku," gerutunya kesal.


"Ella, kamu tadi mau menjemput ini, kan?" Albert tiba-tiba muncul di belakang Ella.


"Astaga! Nggak, kok," seru Ella tanpa menoleh ke belakang. Bayangan liarnya tentang kejadian kemarin menghantui dirinya. "Sebenarnya aku kemarin separah apa di depan Albert, ya? Kenapa hatiku merasa sangat malu, ya?" pikir Ella dalam hati.


"Ella, beneran kamu bukan mau menjemput dia? Kamu aja tadi membawa makanannya," kata Albert lagi.

__ADS_1


"Mreeeeaaawww!" Luna mengeong dengan manja. Kucing gempal itu lalu melompat dari gendongan Albert, lalu mendekati Ella.


"Dasar kucing nakal! Kamu tuh mau deket-deket sama aku cuma pas bawa makanan aja," seru Ella gemas.


"Mreeeaaawww," Luna hanya mengeong manja sambil mengusapkan kepalanya di kaki Ella.


"Ini makanan kucingnya nggak di bawa?" tanya Albert yang masih memegang sebungkus royal canin.


"Oh iya, aku lupa. Terima kasih." Ella lalu buru-buru mengambil bungkusan itu tanpa menoleh, lalu berlari menuju ke kamarnya. Luna pun berlari-lari kecil di belakangnya.


"Dia kenapa, sih?" gumam Albert mengerutkan keningnya.


"Huh, kalian tuh anak sama ayah sama aja. Kemarin kamu yang seharian menghindari dia. Tadi pagi juga. Lalu sekarang malah dia yang menghindari kamu. Kalau kayak gini di rumah terasa aneh," ujar Ghina sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, dan menghembuskan napas dengan panjang.


"Kamu ngejek aku, ya?" Albert melirik Ghina dengan tajam sambil menyeringai tipis.


"Kenyataannya gitu, kan? Cuma aku yang waras di rumah ini," kata Ghina sambil terbahak.


"Awas kamu, ya?" Albert mengambil langkah seribu, lalu mengejar Ghina yang telah duluan kabur. "Sini kamu, jangan lari," seru Albert sambil teriak dan tertawa.


"Hahaha, ampun," kata Ghina sambil terus berlari menghindari Albert.


Gedubrak! Tiba-tiba Albert seorang perempuan yang berdiri di depan pintu. Sementara Ghina yang telah lebih dulu berlari, masih sempat menghindarinya.


"Albert, Ghina, kalian ngapain sih lari-lari? Kayak anak kecil aja?"


"Mama? Maaf, Ma. Badan Mama sakit, nggak?" tanya Albert sambil mengusap bahu sang mama.


"Ya sakit, lah. Namanya jug ditabrak," ujar wanita itu.


"Mama ada keperluan apa di sini?" tanya Albert kemudian.


"Masa orang tua mengunjungi anaknya ditanyain ada apa? Ya kangen cucu, lah. Katanya kemarin Ella sakit. Gimana keadaanya?" kata wanita itu.


"Udah sehat kok, Ma," jawab Ghina. "Syukurlah Mama datang, jadi ada pemecah rasa canggung di antara mereka," gumam Ghina pelan.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2