
Ella melayangkan pandangan ke luar jendela. Matahari sudah terbenam sejak satu jam yang lalu. Tapi Ghina belum juga pulang.
"Mama baik-baik saja, kan?" gumam Ella sambil menutup tirai jendela.
Biasanya Ella tak pernah khawatir jika sang mama pulang terlambat. Tapi kali ini berbeda. Keadaan mamanya sedang tidak stabil saat di pemakaman tadi. Terlebih setelah mendengar cerita dari bibinya kemarin.
"Apa aku tanya Al saja, ya? Ah, nggak. Aku nggak mau berurusan sama dia lagi." Ella masih belum berani berbicara dengan pria itu, setelah mereka bertengkar kemarin.
Tok! Tok! Tok! Tiba-tiba pintu rumahnya diketuk seseorang. Ella melompat dari tempat tidur dan berlari ke ruang tamu.
"Ah, itu pasti mama," ujarnya.
"Sudah pulang, Nak?" ucap Ghina.
"Hmm, iya." Sikap Ella kembali kaku ketika berhadapan langsung dengan Ghina.
"Nih, mama ada bawa cake. Bawalah ke kamar." Ghina menyerahkan sebuah kotak yang mengeluarkan wangi vanilla dan cokelat.
Ella memandang Ghina tanpa berkedip selama beberapa detik. Dia ingin mengatakan sesuatu pada mamanya, tetapi kemudian dia urungkan.
"Iya ... tadi mama pergi bersama Al. Lalu kami singgah beli ini untukmu," ujar Ghina seakan mengerti isi kepala anaknya.
"Makasih, Ma." Ella terpaksa menerima cake itu demi menyenangkan hati sang mama, meski hatinya enggan menerima pemberian Albert.
"Besok kuberikan pada teman sekelas saja." Ella bergumam dalam hati. "Tapi kenapa mama nggak bilang kalau habis dari makam papa? Apa mama sengaja menyembunyikannya biar aku nggak sedih?" sambungnya.
__ADS_1
"Ma?" Ella memanggil Ghina yang hendak memasuki kamar.
"Ada apa, Nak?" Ghina membalikkan punggungnya, dan berjalan mendekati Ella.
"Aku kangen papa," bisik Ella hampir tidak terdengar.
Alis Ghina bertaut mendengar ucapan buah hatinya. "Mama juga kangen papa," ucap Ghina. Suaranya bergetar. Jelas sekali dia menahan tangis.
"Besok kita ke makam papa, yuk," ajak Ella. Sudah lama mereka tidak ziarah bersama-sama.
"Besok?" Ghina berpikir sejenak.
"Oh, mama pasti sudah ada janji dengan Albert, kan?" tebak Ella, melihat mamanya keberatan. Gadis memasang wajah murung.
"Eh, bukan begitu. Tapi besok..."
"Dari siapa, Ma? Kalau bukan dari Al, angkat di sini aja. Aku mau dengar," desak Ella.Ghina terpaksa mengikuti permintaan anaknya. Wanita itu lalu duduk di hadapan Ella.
"H-halo?" ucap Ghina gugup.
"Ya. Aku to the point aja." Terdengar suara pria berbicara di telepon. "Besok kamu harus datang ke tempat yang aku katakan tadi. Bawa uangnya."
"Saya pasti akan bayar. Tapi kenapa harus di sana?" ujar Ghina.
"Untuk jaga-jaga saja, supaya kamu tidak menipu kami," ucap pria bersuara berat tersebut.
__ADS_1
"Itu pasti penagih hutang," celetuk Ella.
"Ssstt... Diamlah." Ghina berbisik pada Ella.
"Kamu sedang bersama siapa? Sudah kubilang jangan bawa-bawa orang lain dalam masalah ini," marah pria itu.
"M-maaf. Dia anakku," sahut Ghina dengan cepat. "Jangan khawatir. Aku pasti akan menepati janji."
"Tunggu akibatnya jika kamu berbohong," ancam pria itu sebelum menutup telepon.
"Apa mama sering mendapat perlakuan seperti ini dari mereka?" tanya Ella.
"Hm? Kamu dengar dari siapa? Bibi Sri?" Ghina balik bertanya pada putrinya.
Gadis itu mengangguk. "Uh, sial! Di saat seperti ini aku malah nggak bisa apa-apa." Keluh Ella. "Terus, mama datang memenuhi permintaannya?"
"Hanya itu satu-satunya jalan agar bunga hutang kita tidak bertambah." Ghina merasa putus asa.
"Apa mama nggak takut, mereka melakukan sesuatu pada mama nantinya?" tanya Ella. Ghina hanya menatap langit-langit rumah yang mulai lapuk, tanpa menjawab pertanyaan putrinya.
"Yah, di saat seperti ini mama memang butuh seseorang yang bisa melindunginya. Tapi mengapa harus sama Al?" Ella kembali berperang dengan dirinya sendiri. Bocah itu masih belum bisa menerima sang majikan yang akan menikahi mamanya. "Apa artinya aku harus terima keputusan pahit ini?"
"Nak, jangan terlalu pikirkan masalah ini," ucap Ghina sedih, melihat kedua alis tebal putrinya saling bertaut. "Mama masih bisa mengatasinya," lanjutnya lagi.
"Mama sangat membutuhkan pendamping, kan?" bisik Ella sambil menangis dan mengepalkan tangan kuat-kuat.
__ADS_1
Ghina terkejut mendengar perkataan Ella. "Apa maksudmu?"
(Bersambung)