
"Baru kali ini aku lihat ada ojek pake motor beginian? Bikin susah aja," gerutu Ella.
"Nah, susah kan? Makanya pulang naik go mobil aja," ujar seorang pria di belakang Ella.
"Ngapain kamu di sini?" seru Ella terkejut.
"HP kamu di mana? Ayah telepon kok nggak di angkat? Ayah tahu kamu pasti bakal kerepotan pulang naik ojek gini," ujar Albert.
"Ayah?" gumam supir ojek itu, sambil menatap Albert dengan bingung. Pria yang menyebut dirinya 'ayah' itu masih sangat muda.
"Iya, aku ayah sambungnya. Berapa ongkos yang harus dibayar? Dia biar pulang sama aku aja," jelas Albert.
"Tapi dia udah bayar via dompet online," jawab sang supir ojek dengan jujur.
"La, kamu bisa pesan ojek dan bayar online, tapi kenapa Ayah telepon nggak diangkat," marah Albert.
"Bukan gitu ceritanya. Dengerin dulu alasanku. Jadi HP-ku itu gak ada paket data, dan waktu belajar tadi aku silent. Nah aku pesan ojek pake HP-nya Imelda tadi," jelas Ella.
"Oh, gitu. Mas maaf, ya. Mas boleh pergi aja, uangnya gak usah dibalikin. Dia biar pulang sama saya aja," kata Albert.
Supir ojek itu melirik Ella untuk meminta persetujuan. "Ya udah deh kalau gitu. Makasih banyak, Bang," ucapnya setelah Ella menganggukkan kepala tanda setuju.
...🥀🥀🥀...
"Kamu kok bisa ada di situ tadi? Kenapa nggak minta jemput di depan rumah Naya aja?" tanya Albert sambil mengemudikan mobilnya.
"Tadi sekalian mau beli paket data, rupanya ojolnya udah keduluan datang," jawab Ella.
"Lain kali kamu nggak boleh pakai ojek lagi," ucap Albert.
"Lah, terus gimana aku pulang pergi sekolah? Kan nggak ada angkot dan bus jurusan ke sana. Berapa lama lagi rumahku selesai renovasi?" ucap Ella.
"Ya nggak usah pakai angkot juga. Mulai besok kamu di antar Gabriel aja," kata Albert. Gabriel adalah salah satu supir pribadi mereka.
"Gabriel?" ulang Ella.
__ADS_1
"Iya, karena kamu pasti nggak mau diantar Ayah terus, kan?" ucap Albert.
"Iya, sih. Ya udah, terserah aja deh. Terus tadi kamu ngapain jemput aku? Tahu dari mana aku ada di rumah Naya?" tanya Ella.
"La, please panggil aku ayah. Status kita udah berbeda sekarang," pinta Albert dengan tegas.
"Maaf. Tadi kenapa A-yah jemput aku?" Ella memperbaiki pertanyaannya.
"Tadi Ayah ke warnet untuk menjemputmu. Nenekmu ingin makan malam bersama. Tapi kata Daniel kamu nggak kerja di sana lagi, jelas Albert.
"Iya, papanya melarang kami kerja di sana karena udah kelas tiga," kata Ella.
"Baguslah, jadi kamu bisa fokus belajar aja," kata Albert tersenyum puas.
Ella melirik ayahnya dengan tajam. Bibirnya tampak manyun. "Bukan Ayah yang memintaku untuk berhenti, kan?" ujarnya.
"Heee? Ya nggak, lah. Ayah emang gak setuju kamu bekerja di sana. Tetapi semua keputusan tetap ditanganmu," ujar Albert.
Wajah Ella yang tadi masam, berangsur ceria kembali setelah mendengarnya. Ternyata Albert tidak se-otoriter yang dia pikirkan.
Ella mengangkat wajahnya mendengar pertanyaan itu. Dadanya berdegup tidak karuan. Kedua alasan yang dikatakan Albert itu benar.
"Ayah nggak akan paksa kamu untuk tinggal bersama, tetapi katakan dulu alasanmu," ujar Albert mendesak Ella untuk buka suara.
"Aku memang ingin mandiri. Aku merasa jauh tertinggal dibanding teman-temanku yang lain," jawab Ella dengan lirih.
"Renovasi rumah selesai sekitar dua minggu lagi. Kalau memang itu alasanmu , katakan pelan-pelan dengan mamamu, agar ia tidak sedih dan tersinggung. Tapi ayah maunya kita tetap tinggal bersama saja," ungkap pria itu.
Ella menganggukkan kepalanya. "Nanti aku katakan pada mama kalau waktunya sudah tepat," kata Ella.
"Satu hal lagi, kamu bekerja demi uang jajan atau tabungan kuliah? Kamu tahu, kan? Kalau uang sekolahmu adalah tanggung jawab Ayah hingga selesai? Mau sampai S2 atau S3, Ayah akan tanggung semuanya."
Ella menatap wajah Albert tanpa berkedip, lalu tersenyum manis.
"Kenapa kamu senyum-senyum gitu?" tanya Albert seraya mengalihkan pandangannya dari Ella.
__ADS_1
"Nggak ada. Aku suka aja," jawab Ella.
Cekit! Albert mendadak menekan rem hingga mobil berhenti. "Suka? Kamu masih suka padaku?"
"E-enggaklah! Masa aku mau suka sama ayahku sendiri? Kege'ran banget, sih," bantah Ella.
"Terus maksud kamu tadi apa? Kamu nggak bisa membantah lagi kalau mangatakan nggak pernah suka padaku? Sudah ada banyak buktinya," ujar Albert.
"Iya, aku mengaku kalau dulu pernah suka. Aku minta maaf," jawab Ella dengan suara lemah. Wajah Ella memerah. "Kenapa aku harus menyatakan perasaan cinta pada pria yang udah menikah, sih? Terlebih suami mamaku sendiri. Kenapa juga diary-diary itu terbongkar semua?" batin Ella menahan malu.
"Lalu kenapa?" tanya Albert tidak sabar menunggu kelanjutan kalimat Ella.
"Maksudnya aku suka aja mendapat perhatian kayak gini. Rupanya punya ayah baru nggak buruk juga," Kata Ella.
"Oh, ternyata gitu? Memang awalnya berat, punya anak gadis yang sedang puber dan beranjak dewasa. Tapi ternyata lama-lama ayah menikmati peran baru itu," balas Albert sambil tertawa kecil. "Terima kasih karena udah jadi anak yang baik dan patuh. Ayahmu pasti bahagia melihatmu," lanjutnya lagi.
"Puber? Kapan aku puber?" bantah Ella.
"Kenapa malu, sih? Suka sama orang itu kan puber namanya. Sebagai remaja ya wajar, lah. Asalkan nggak berlebihan," ujar Albert sambil tertawa. Tangan kirinya mengusap rambut Ella yang lembut bak sutra. "Lagian menyukai seseorang bukan sesuatu yang salah," kata Albert
"Tapi kalimatku tadi serius. Aku ingin merasakan uang hasil keringatku sendiri. Dan untuk kuliah, aku ingin mencari beasiswa." Ella mengalihkan cerita sambil menjauhkan kepalanya dari tangan Albert.
"Tentu saja Ayah senang kalau kamu mendapat beasiswa. Tapi jangan lupa, kamu masih bisa mengeluh kapan pun soal kebutuhanmu. Kamu bisa merasakan uang hasil jerih payahmu nanti setelah terjun di dunia karir. Untuk sekarang, semua kebutuhanmu di penuhi oleh Ayahmu ini," Kata Albert.
"Sebenarnya entah kenapa, aku merasa lega karena catatan kecilku dalam diary itu terbongkar," kata Ella.
"Loh, kenapa?" tanya Albert. Mobil mewah itu berhenti di marka jalan, menunggu lampu lalu lintas berubah menjadi warna hijau.
"Terlalu berat untuk ku simpan sendiri. Dan aku jadi seperti menyembunyikan sesuatu dari mama," jawab Ella.
"Seberat itu ya mencintaiku secara sepihak? Maaf, ayah nggak bisa membalasnya," kata Albert.
"Hahaha, kok jadi melow gini, sih? Sekarang aku bahagia, kok. Mama dan aku memiliki seorang pelindung lagi seperti dulu," kata Ella.
"La, kamu beneran bahagia, kan? Jangan ada simpan luka lagi di hatimu," kata Albert dengan wajah serius.
__ADS_1
(Bersambung)