Me Vs Berondong Mommy

Me Vs Berondong Mommy
Bab 23. Jangan Lihat ke Sana!


__ADS_3

Sudah empat hari Ella bekerja di Warnet. Selama itu pula sang mama masih belum mengetahui profesi Ella selain pelajar. Meski napasnya terasa sesak, ia masih terus bertahan sampai mendapat pekerjaan baru.


"Uhukkk...! Uhukkk!" Ella terbatuk-batuk. "Duh, ternyata cari kerja itu susah banget. Jangankan kerja part time di toko atau minimarket, cleaning service di cafe aja minimal harus tamatan SMA. Dulu gimana caranya mama cari kerja, ya?" gumam gadis itu sambil mengusap hidungnya dengan tisu.


Ella terus berkutat dengan pikirannya sendiri. Sejak makan bersama waktu itu, hubungan ibu dan anak tersebut masih sedikit canggung. Walau demikian, musim dingin yang sempat menghampiri mereka perlahan berganti menjadi hangat.


"La, ayo," ucap Maira membuyarkan lamunan Ella.


"Naya mana? Kita pergi pakai apa?" ucap Ella.


"Aku di sini." Naya datang dari arah toilet dengan setengah berlari. "Kita pergi pakai angkot, dong. Transportasi paling merakyat. Hehehe," lanjutnya.


"Daniel, aku duluan, ya. Maaf, hari ini aku izin dulu. Mau pergi cari bahan tugas prakarya," ucap Ella pada teman cowoknya itu.


Daniel yang juga bos warnet tersebut hanya mengacungkan jempol sambil menganggukkan kepala. Ketiga siswi itu lalu berdiri di bawah pohon, menanti angkot yang akan membawa mereka ke arah pertokoan di dekat pasar.


"Gak jadi beli barang murah di toko souvenir, nih?" tanya Ella ketika mereka turun dari angkot. Naya dan Maira membawanya menuju ke toko yang menjual peralatan menjahit dan menyulam.


"Nggak. Rupanya Bu guru nggak gampang ditipu," ujar Naya sambil bersungut-sungut.


"Iya, tuh. Kelas sebelah di suruh ulangi tugas mereka. Setiap bahan harus disebutkan beli di toko mana, harganya berapa, terus bukti foto kita bikin prakarya," ujar Maira menambahkan.

__ADS_1


"Wow, parah," celetuk Ella.


"Bukan cuma itu, kita juga harus bikin proposal singkat, isinya latar belakang bikin kerajinan itu," sela Naya lagi. Wajahnya masih bertekuk karena kesal.


"Ya alasannya udah pasti karena nilai, dong. Ya nggak, La?" celetuk Maira. "Eh, kita beli es dawet dulu, yuk. Haus, nih," ajak Maira.


Ella tertawa melihat tingkah kedua temannya itu. Hatinya yang kelabu, sedikit terobati. Gadis itu berjalan di belakang Maira dan Naya. Sudah lama dia tidak berjalan bersama temannya seperti ini.


"Btw La, kamu masih kerja di warnet itu? Perasaan wajahmu semakin kusut, deh. Bau rokok lagi," kata Maira setelah memesan tiga bungkus es dawet.


"Yah gimana lagi, ternyata cari kerja itu benar-benar susah," jawab Ella.


Eh, bentar. Oppa? Siapa yang kamu panggil oppa?" protes Ella.


"Ya cowok ganteng kemarin itu. Debt collector," jawab Naya dengan mantap. Maria juga mengangguk setuju.


"Omo! Orang kayak dia kamu panggil oppa?" ucap Ella tidak terima. "Duh, kamu meracuni pikiranku yang selalu menggambarkan kalau oppa itu harus good looking."


"Tapi dia emang ganteng kok, La. Hutangmu masih banyak banget, ya? Kayakny benci banget sama dia," kata Naya.


Ella menghembuskan napas panjang. "Huuuhhh... Guys... Aku mau meluruskan dua hal. Yang pertama, dia itu sama sekali nggak ganteng." Hati Ella berdegup kencang saat menyangkal fakta itu.

__ADS_1


"Wah, matamu rusak, ya?" seru Naya dan Maira kompak.


"Huu, enak aja. Mataku masih sehat, ya," protes Ella. "Terus fakta yang kedua, sebenarnya dia bukan Debt collector," ucap gadis itu dengan lirih.


"Nah, kan? Apa ku bilang? Gak mungkin opp- maksudku cowok jelek itu debt collector," celetuk Maira. "Terus sebenarnya apa yang terjadi? Jadi alasanmu bekerja bukan gara-gara dia?"


"Emang benar, alasan aku kerja berkaitan dengan dia. Aku cuma nggak mau, terus menerus bergantung sama orang itu," kata Ella setelah menyeruput es dawet yang manis dan segar.


Naya dan Maira saling berpandangan. Mereka melihat Ella menundukkan kepalanya dengan wajah murung. Mereka menebak, saat ini pikiran Ella dipenuhi oleh pria misterius itu.


"Dia pasti abis putus sama cowok itu." Naya berbisik pada Maira.


"Setuju banget," balas Maira dengan berbisik juga.


Deg! Tiba-tiba jantung Ella serasa berhenti melihat pemandangan di depannya.


"La, kamu kenapa? Pucat banget," tanya Maira. "Apa kita makan dulu sebelum belanja?"


"Tenang, aku nggak apa-apa kok, guys." Ella tersenyum kecut. "Gawat! Mereka nggak melihatnya, kan? Ngapain mama dan Albert di sini?" Ella berharap dengan cemas.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2